PEMBELAJARAN
Secara umum dan luas,
Cara yang dipakai oleh pengajar, ahli kurikulum, perancang bahan, dan lain-lain, yang bertujuan untuk mengembangkan rencana yang terorganisir guna keperluan belajar” (Gagne, 1979: 19).
Secara khusus kegiatan pembelajaran sering dianggap sama dengan mengajar atau memberi kuliah.
STRATEGI
Arief S. Sadiman, 1983/1984: 130).
Dalam arti sempit, strategi identik dengan metode atau teknik, yaitu cara menyampaikan isi pesan kepada audience (learner) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Sedangkan secara luas stretegi bisa mencakup antara lain metode, pendekatan, pemilihan sumber-sumber (termasuk medianya) pengelompokan siswa/mahasiswa dan pengukuran keberhasilannya.
STRATEGI PEMBELAJARAN
Romiszowski (1981: 292) merinci Strategi Pembelajaran ke dalam empat tingkatan metode pembelajaran.
1. strategi pembelajaran,
2. rencana pembelajaran,
3. taktik pembelajaran, dan
4. latihan-latihan pembelajaran
Di dalam Strategi Pembelajaran terkandung empat pengertian
1. Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan pengajar dalam menyampaikan isi pelajaran kepada pembelajar/siswa/ mahasiswa.
2. Metode pembelajaran, yaitu cara pengajar mengorganisasikan materi pelajaran dan pembelajar/siswa/mahasiswa, agar menjadi proses belajar yang efektif dan efisien
3. Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan pengajar dan pembelajar/siswa/mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran
4. Waktu yang digunakan oleh pengajar dan pembelajar/siswa/mahasiswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pembelajaran dan mahasiswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Komponen RPP
l Sebagai pengembangan lebih lanjut dari Silabus
l Komponen RPP terdiri dari:
1. Identitas mata pelajaran.
2. Kompetensi dasar.
3. Materi pokok/penggalan materi.
4. Indikator ketercapaian kompetensi.
5. Kegiatan pembelajaran.
6. Penilaian.
7. Sumber bahan / referensi
Metode Pembelajaran?
“Cara menyajikan pembelajaran/ perkuliahan untuk mencapai kompetensi Matapelajaran/Matakuliah”
MODEL PEMBELAJARAN
Beberapa Model Pembelajaran Inovatif
1. Pembelajaran Kooperatif (CL: Cooperative Leraning)
2. Pembelajaran Kontekstual (CTL: Contextual Teaching and Learning)
3. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL: Problem Based Learning)
4. Pembelajaran Tuntas (ML: Mastery Learning)
5. Pembelajaran Berbasis Komputer (CAI:Computer Based Instruction atau CAI)
Metode Pembelajaran Alternatif
1. Ceramah 11. Computer Assissted Instruction
2. Demonstrasi 12. Insiden
3. Penampilan 13. Praktikum dan Praktik Lapangan
4. Diskusi/tanya jawab 14. Proyek
5. Studi Mandiri 15. Bermain Peran
6. Kegiatan Pemblj Terprogram 16. Seminar
7. Latihan 17. Simposium
8. Simulasi 18. Tutorial
9. Sumbang Saran 19. Deduktif
10. Studi Kasus 20. Induktif
Metode Ceramah
Keunggulan
cepat menyampaikan informasi
banyak informasi yang disampaikan dalam waktu singkat
menjangkau banyak audiens/siswa
Kelemahan
komunikasi satu arah
sukar memenuhi kebutuhan individu
proses pembelajaran berpusat pada guru
Metode Diskusi
Keunggulan
ada interaksi antara dosen-siswa, siswa-siswa
dapat menilai penguasaan konsep siswa
dapat melihat reaksi siswa terhadap ide-ide baru
Kelemahan
tidak efektif bila siswa belum menguasai konsep dasar
memerlukan banyak waktu
Metode Demonstrasi
• Konsep yang diajarkan menjadi lebih nyata
• Kesamaan pengertian terhadap suatu konsep
• Cocok untuk mengajar keterampilan
Pelaksanaan:
• Ada prosedur tertulis untuk siswa
• Pelaksana demonstrasi siap dan terampil
Sumbang Saran
Memotivasi siswa untuk:
• Berpartisipasi aktif memberikan pendapat
• Menghargai pendapat orang lain
SIMULASI
Memotivasi siswa untuk:
Memahami perasaan orang lain
Memecahkan masalah bersama
Mengambil keputusan
Mengembangkan kreativitas
Media
Segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber ke penerima informasi
Manfaat Media Dalam PBM
Penyampaian materi dapat diseragamkan
• Proses instruksional lebih menarik
• Proses belajar lebih interaktif
• Jumlah waktu belajar-mengajar dapat dikurangi
• Kualitas belajar dapat ditingkatkan
• Proses belajar dapat terjadi kapan dan di mana saja
• Meningkatkan sikap positif mahasiswa terhadap proses dan bahan belajar
• Peran dosen berubah ke arah positif dan produktif
PEMILIHAN MEDIA INSTRUKSIONAL
Syarat Pengembangan Media
visible : Mudah dilihat
interesting : Menarik
simple : Sederhana
useful : Isinya berguna/bermanfaat
accurate : Benar (dapat dipertanggungjawabkan)
legitimate : Masuk akal/sah
structured : Terstruktur/tersusun dengan baik
ASPEK ISI/MATERI
Standar Kompetensi sesuai dengan Kurikulum yang berlaku
Materi sesuai dengan Kompetensi Dasar
Kedalam materi cukup
Penyajian materi berurut
Penilaian/tes sesuai dengan indikator
ASPEK PEMBELAJARAN /INSTRUKSIONAL
1. Bahasa mudah dipahami
2. Kejelasan petunjuk belajar
3. Kejelasan pemahaman materi
4. Pemberian contoh sesuai dengan materi
5. Pemberian umpan balik memberi motivasi
6. Kecukupan latihan
7. Kecukupan Waktu Penyajian
ASPEK TEKNIS/PEMEDIAAN
Keterbacaan teks
Kualitas tampilan gambar
Sajian animasi
Pemilihan komposisi warna
Kejelasan suara/narasi
Daya dukung musik
Tampilan layar
Pemilihan jenis dan ukuran font
MODEL PEMBELAJARAN OPEN SOURCE
Konsep dan definisi Open Source
Pada intinya konsep sumber terbuka adalah membuka "kode sumber" dari sebuah perangkat lunak. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan kode sumber merupakan kunci dari sebuah perangkat lunak. Dengan diketahui logika yang ada di kode sumber, maka orang lain semestinya dapat membuat perangkat lunak yang sama fungsinya. Sumber terbuka hanya sebatas itu. Artinya, dia tidak harus gratis. Definisi sumber terbuka yang asli adalah seperti tertuang dalam OSD (Open Source Definition)/Definisi sumber terbuka.
Sumber terbuka (open source) adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu individu atau lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas (biasanya menggunakan fasilitas komunikasi internet). Pola pengembangan ini mengambil model ala bazaar, sehingga pola Open Source ini memiliki ciri bagi komunitasnya yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program Open Source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan balik kepada orang banyak.
Pola Open Source lahir karena kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang cocok. Kebebasan menjadi pertimbangan utama ketika dilepas ke publik. Komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-ngatik, merevisi ulang, membenarkan ataupun bahkan menyalahkan, tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan tanggung jawab, bukan bebas tanpa tanggung jawab.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_terbuka
Pengajaran Open Source di Sekolah
Lewat dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memungkinkan pendistribusian ilmu pengetahuan di sekolah menggunakan konsep pengajaran elektronik (e-learning). Buku-buku pelajaran dapat diunduh secara langsung lewat secara gratisan, misalnya melalui situs bse.depdiknas.edu. Departemen Pendidikan Nasional juga telah meluncurkan Proyek Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) sehingga teknologi interkoneksi (internet) dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah.
Namun, permasalahan lanjutan yang muncul adalah program-program di atas menyerap dana yang besar, terutama pada pos pembelanjaan sistem operasi (operating system) ataupun aplikasinya sehingga sebagian besar sekolah menggunakan produk bajakan. Data BSA mencatat Indonesia sebagai negara pembajak terbesar ke-3 di dunia dengan tingkat pembajakan hingga 87 prosen.
Tindakan pembajakan di lembaga pendidikan, seperti sekolah, jelas sangat ironis. Apapun alasannya, pembajakan merupakan tindakan kriminal dan pelanggaran hukum. Untuk menyiasati keterbatasan dana, solusi tepatnya adalah penggunaan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka (Free and Open Source Sofware), sebut saja Linux. Terlebih, salah satu distro Linux, Ubuntu, telah mengeluarkan versi khusus untuk pendidikan, yakni Edubuntu.
Keunggulan FOSS sangat banyak, antara lain FOSS merupakan sistem operasi yang bebas atau gratis (free) dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengembangkannya (open source). FOSS juga tidak mengenal istilah virus, sebab ia sistem in dikerjakan secara bersama-sama oleh jutaan ilmuwan komputer di seluruh dunia.
Mengapa FOSS bisa didapatkan secara gratisan? Prinsipnya, FOSS itu free as in freedom, not free as beer. FOSS itu seperti ilmu logaritma, aljabar, phytagoras, dan hukum yang ada di fisika, kimia, matematika, yang tidak pernah dipatenkan oleh pembuatnya. Kesalahan kegiatan belajar-mengajar selama ini adalah guru sering mengenalkan produk (merek) bukan subtansi. Guru mengenalkan Windows, bukan mengenalkan sistem operasi. Apabila guru bisa mengajarkan substansi maka dunia pendidikan akan sadar bahwa kebiasaan menggunakan perangkat lunak berpemilik (propertary) akan menciptakan ketergantungan.
Dalam platform FOSS tersedia berbagai aplikasi yang memiliki fungsi serupa dalam plafform Windows. Untuk aplikasi kantoran tersedia Open Office, untuk aplikasi grafis ada GIMP, Inkscape, Scribus, dan untuk aplikasi audio-video ada XMMS, Audacity, Audacious, Amarok, Kafeein, dan untuk animasi ada Blender. Untuk aplikasi pendidikan kita bisa menggunakan Stellatorium untuk pelajaran perbintangan/astronomi.
Semua aplikasi dapat diunduh dan digunakan secara gratisan. Dukungan FOSS pada dunia pendidikan membuat aktivitas belajar-mengajar semakin menarik. Mata pelajaran yang selama ini dipandang sulit akan terasa mudah dengan adanya fasilitas pemodelan dan gambar yang disediakan oleh perangkat lunak pendidikan di FOSS. Para siswa juga terbiasa dengan tradisi berbagi sehingga tercipta percepatan dalam pengembangan keilmuan.
http://cilacap-online.com/teknologi/115-jardiknas-dan-pengajaran-open-source-di-sekolah.html
Aplikasi Open Source Pada Dunia Pendidikan Indonesia
Resesi global yang sedang terjadi sekarang ini telah mempengaruhi berbagai organisasi baik organisasi bersifat profit oriented maupun non profit. Kondisi perekonomian yang terjadi memang paling berpengaruh untuk organisasi bersifat profit oriented, tetapi bagi organisasi yang bersifat non-profit pemotongan biaya tetap banyak dilakukan untuk mengimbangi kenaikan harga yang terjadi seperti di Indonesia yang diakibatkan oleh salah satunya penurunan nilai tukar rupiah.
Apabila dicermati dari sudut pandang teknologi informasi,di era kompetisi global seperti sekarang ini, sistem informasi adalah salah satu bagian dari tulang punggung korporat, yang bisa menjadi salah satu ukuran kompetitif atau tidaknya sebuah perusahaan. Begitu vitalnya jaringan komputer ini, sehingga kegagalannya akan berakibat hilangnya produktivitas serta kerugian finansial. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin tetap kompetitif menginginkan sebuah sistem informasi yang dapat diandalkan, serta mampu bekerja optimal dengan tingkat kegagalan serendah mungkin ditambah memiliki biaya kepemilikan total (instalasi dan perawatan) yang rendah sehubungan dengan adanya pemotongan anggaran untuk kebutuhan ini. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan yang mulai mencari solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sistem informasi mereka.
Dengan pertimbangan hal tersebut, kini banyak organisasi yang mulai melakukan aplikasi sistem berbasis open source, karena open source (OSS) menyediakan berbagai aplikasi yang ditawarkan dengan harga murah bahkan tidak jarang gratis, dan dapat dilakukan penyesuaian dengan kebutuhan perusahaan karena terbukanya kode dalam software yang dapat dirubah, dan membuka kesempatan untuk mengembangkan aplikasi yang dilakukan bersama-sama dengan komunitas yang juga pastinya akan mengurangi biaya IT dari perusahaan tersebut. Penghematan biaya akan sangat dirasakan oleh perusahaan dengan kebutuhan IT yang kompleks. Sebagai contoh kasus dari Sun Microsystem yang dapat dikatakan merupakan perusahaan penyumbang kode Open Source terbesar. Misalkan, ada sebuah perusahaan, dengan kira-kira 1000 pegawai, menjalankan bisnisnya dengan 20 dual-core server aplikasi dan 10 dual-core server basis data. Jika perusahaan tersebut menggunakan aplikasi proprietary (dalam hal ini WebLogic Enterprise & Oracle Enterprise), maka perusahaan tersebut akan mengeluarkan dana sebesar U$3,237,000 selama 3 tahun. Sedangkan jika perusahaan mengunakan aplikasi Open Source (dalam hal ini Glassfish Enterprise Server & MySQL Enterprise Gold), maka perusahaan tersebut hanya akan mengeluarkan dana sebesar US$240,000. Detail perhitungan dapat di lihat di sini. Beberapa perusahaan Indonesia yang telah memulai aplikasi sistem informasi berbasis Open Source diantaranya adalah PT. Telkom dan Kompas.
• Open Source dan Dunia Pendidikan
Untuk melakukan aplikasi sistem Open Source maka organisasi perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang siap untuk melakukan perubahan. Dengan kesiapan sumber daya manusia yang dimiliki dan dukungan komunitas, maka organisasi akan semakin terbebas dari ketergantungan terhadap vendor tertentu dan dapat terus menerus memperbaiki sistem informasi yang dimiliki. Untuk kebutuhan persiapan sumber daya manusia ini sebenarnya dapat dimulai dari institusi pendidikan.
Solusi sistem informasi berbasis Open Source seharusnya mulai diperkenalkan pada akademisi, pelajar, dan mahasiswa (under-graduate maupun post-graduate) agar individu-individu tersebut memasuki sebuah organisasi yang mengaplikasikan sistem berbasis Open Source, mereka telah memiliki bekal yang cukup. Pengenalan Open Source di dunia pendidikan juga sejalan dengan deklarasi Indonesia Goes Open Source (IGOS) yang dideklarasikan pada 30 Juni 2004. IGOS adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan terhadap produk.
Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan.
Selain untuk mempersiapkaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan bersaing, pengenalan Open Source pada masyarakat terutama di dunia pendidikan dapat mengurangi pembajakan yang terjadi di Indonesia yang dikatakan merugikan negara sampai $3 juta (detik.com)
• Resistensi Open Source Pada Dunia Pendidikan
Yang banyak terjadi di lingkungan pendidikan adalah terjebaknya para pendidik dan siswa/mahasiswa kepada suatu 'produk software' yang terlanjur mendominasi pasar, tidak kepada substansi dasar pendidikan itu sendiri. Jebakan yang paling parah adalah ketika civitas dunia pendidikan mulai menggunakan software ilegal dan akhirnya merasa bahwa hal itu adalah hal yang lumrah padahal itu merupakan hal yang sangat memalukan apalagi di lingkungan pendidikan. Seharusnya di lingkungan pendidikan terjadi apresiasi yang cukup baik terhadap karya intelektual, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
Proses melakukan copy software dengan copyright secara ilegal yang terjadi di kalangan pendidikan bukan tidak mungkin karena para dosen/guru justru dengan sengaja atau tidak sengaja mengarahkan para siswa/mahasiswa untuk melakukan pembajakan software. Penetapan kurikulum mata kuliah yang menjurus kepada suatu produk komersial misalnya, (yang memiliki standar harga tinggi untuk kebanyakan orang) juga bisa menjadi pemicu terjadinya pembajakan software.
Mitos yang mendasari penolakan penggunaan Open Source seperti yang dikemukakan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman adalah :
Pertama, open source dianggap hanya layak digunakan oleh pakar TI, dan kebiasaan serta pengetahuan yang dimiliki mengenai software propietary dirasa sudah cukup untuk melakukan tugas sehingga tidak perlu melakukan proses pembelajaran ulang untuk sebuah sistem baru tanpa mempertimbangkan manfaat yang akan didapat dengan pembelajaran tersebut. Kedua, masih banyak kalangan pebisnis yang mempertanyakan keuntungan dari Open Source. Dengan adanya mitos tersebut, menyebabkan penolakan pada dunia pendidikan karena ditakutkan bahwa output dari dunia pendidikan akan menjadi tidak laku di pasar. Ketiga, masih banyak orang pesimistis terhadap dukungan untuk Open Source, misalnya ketersediaan aplikasi dan hardware yang mendukung. Pada dunia pendidikan muncul anggapan bahwa distro-distro yang ada belum memasukkan paket-paket aplikasi pendidikan.
Mitos-mitos di atas sebenarnya dapat dipatahkan dengan melihat beberapa fakta yang ada, yaitu : Berdasarkan penelitian Ghosh et al (2002) persentasi terbesar dari anggota komunitas Open Source berasal dari rentang umur 10-25 tahun dengan 75,1%. Memang ketika dilihat dari profesi pengguna Open Source masih dikuasai oleh para pakar IT, tetapi pelajar masuk pada peringkat kedua dengan 15,8%.Hal ini menunjukan bahwa pendidikan Open Source dapat dilakukan sejak dini dan pada usia pendidikan formal mulai SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa. Open Source tidak hanya melulu milik para pakar IT.
Dengan pertumbuhan kebutuhan sistem informasi saat ini dan terjadinya resesi global, memaksa banyak perusahaan untuk mencari solusi alternatif. Salah satu opsi dari solusi alternatif itu merupakan aplikasi Open Source. Maka akan muncul permintaan dari pasar tenaga kerja untuk ketrampilan dan pengetahuan mengenai Open Source. Ketrampilan dan pengetahuan Open Source dapat menjadi bekal untuk bersaing di dunia kerja karena sumber daya manusia dengan bekal pengetahuan Open Source termasuk dalam 12 kebutuhan IT yang paling dicari.
Kebutuhan Open Source untuk dunia pendidikan saat ini sudah diakomodir dengan adanya distro Linux yang memaketkan aplikasi pendidikan pada sistem operasi mereka. Salah satu contohnya adalah Edubuntu (http://edubuntu.org) yang merupakan produk turunan dari Ubuntu Linux dengan paket aplikasi yang disesuaikan untuk kebutuhan pendidikan mulai dari game untuk TK, hingga kebutuhan aplikasi pengolah data untuk Mahasiswa.
Dukungan yang diberikan oleh Open Source untuk para penggunanya juga dapat diperoleh dengan mudah dengan memanfaatkan dukungan formal dari distro besar (Ubuntu, Debian, Red Hat, dll) dan dukungan dari komunitas pengguna Open Source. Selain itu juga ada support dari beberapa distro linux yang menyediakan program partner untuk kalangan pendidikan, seperti yang ditawarkan Canonical. Dukungan hardware Open Source dapat dilihat dari dukungan Linux terhadap hardware yang beredar di pasaran saat ini. Kemampuan dukungan Linux terhadap hardware tersebut memudahkan pengguna untuk melakukan aplikasi Linux secara luas pada PC.
• Penggunaan Open Source Pada Dunia Pendidikan
Kemampuan sistem Open Source yang sangat terbuka untuk dikembangkan memiliki potensi yang sangat besar dalam pemanfaatan secara luas. Dunia pendidikan di Indonesia seharusnya mulai mempertimbangkan pengenalan dan penggunaan Open Source secara komprehensif pada seluruh fungsi yang layak untuk menggunakan aplikasi Open Source.
Sistem berbasis Open Source dapat digunakan dalam berbagai macam fungsi yang ada di dunia pendidikan. Untuk Administasi dan operasional lembaga pendidikan, Open Source dapat digunakan sebagai basis pembangunan sistem jaringan sehingga akan menghemat biaya IT. Untuk kebutuhan belajar mengajar, Open Source dapat dipergunakan sebagai sarana praktek operasional sistem informasi dan pembelajaran mengenai cara kerja sistem informasi dengan berbagai cara.
Open Source juga dapat berguna sebagai bahan penelitian untuk mengembangkan sebuah aplikasi yang kemudian dapat digunakan untuk masyarakat umum sehingga penggunaan Open Source pada dunia pendidikan akan menguntungkan banyak pihak. Selain itu dengan semakin banyak digunakannya Open Source maka dukungan terhadap pengguna Open Source yang tersedia juga akan semakin banyak. Indonesia masih menduduki peringkat ke 131 di dunia untuk pengguna Open Source dan akan segera disusul oleh Guyana berdasarkan data statistik dari http://counter.li.org/reports/place.php?place=ID.
Sehingga upaya memasyarakatkan Open Source harus legih digalakan untuk mendukung program IGOS, dan support dari kalangan pendidikan sangat dibutuhkan.
Transisi ke sistem berbasis Open Source harus direncanakan dengan baik agar dapat mengantisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi. Hal ini dilakukan untuk mencegah penolakan penerapan sistem berbasis Open Source secara lebih kuat karena kegagalan sistem pada awal aplikasi yang disebabkan persiapan yang tidak baik. Selain itu untuk aplikasi sisteem Open Source sebaiknya dimulai dari level server disertai pengenalan dan pendidikan mengenai sistem berbasis Open Source termasuk aplikasi yang digunakan. Untuk kebutuhan belajar mengajar, peserta didik seharusnya dikenalkan secara lebih dekat dengan pemberian materi tentang Open Source, melibatkan dengan praktek langsung penggunaan Open Source dan proyek Open Source yang dilakukan. Transisi ini harus dilakukan dengan komitmen penuh dari seluruh pihak yang terlibat.
• Manfaat Open Source Pada Dunia Pendidikan
Penggunaan sistem berbasis Open Source pada dunia pendidikan akan memberikan manfaat bagi banyak pihak. Manfaat yang dijanjikan oleh Open Source adalah :
1) Memberikan alternative pilihan software desktop yg murah
2) Meningkatkan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang teknologi informasi
3) Memperkecil kesenjangan teknologi informasi
4) Meningkatkan akses informasi masyarakat
5) Meningkatkan kreatifitas dalam mengembangkan dan memanfaatkan informasi teknologi (kreativitas tidak dibatasi oleh software yg ada).
6) Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia bidang teknologi informasi (di perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat)
Aplikasi sistem berbasis Open Source memang sudah saatnya dipertimbangkan.
Dimulai dari dunia pendidikan, diharapkan akan memasyarakatkan Open Source agar tidak terjadi ketergantungan dengan suatu vendor tertentu. Selain itu manfaat pemasyarakatan Open Source yang lain adalah memunculkan sumber daya manusia yang lebih siap dalam menghadapi persaingan global, mengurangi pembajakan, menciptakan lapangan pekerjaan dan menghemat pengeluaran negara.
Di Pemerintahan juga sudah dicanangkan dengan adanya Surat Edaran MenPAN Nomor : SE/01/M.PAN/03/2009 tentang “Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal danOpen Source Software (OSS)”, yaitu :
1) Seluruh Instansi Pemerintah diwajibkan menggunakan perangkat lunak open source atau legal.
2) Melakukan monitoring penggunaan perangkat lunak di Instansi.
3) Batas waktu migrasi pada akhir 2011.
Semoga kedepannya Indonesia tidak lagi tergantung pada software luar negeri. Kita bisa buat software yang lebih canggih.
Referensi
http://anggriawan.web.id/2008/11/open-source-solusi-di-masa-krisis.html
http://counter.li.org/reports/place.php?place=ID
http://edubuntu.org
http://rahard.wordpress.com/author/rahard/
http://sewukata.wordpress.com/2008/10/22/perusahaan-open-source-yang-sukses/
http://unggulo.wordpress.com/2008/12/16/deklarasi-indonesia-go-open-source-igos-dan-implikasinya-di-bidang-pendidikan/
http://www.sun.com/software/products/mysql/popup.jsp?info=1
Sowe, Sulayman K. (2002). Emerging Free/Open Source Software Practices: Implications for Business and Education .Aristotle University
Belajar dengan Linux Edubuntu
Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, komputer dianggap mampu memecahkan permasalahan di atas karena komputer mampu menyediakan media belajar yang efektif dan mengasyikkan. Namun, solusi ini dianggap justru memberatkan. Untuk menyediakan satu unit komputer bukanlah sebuah masalah. Apalagi dengan banyaknya layanan cicilan barang elektronik saat ini. Akan tetapi, permasalahan yang ada terletak pada perangkat lunak (software) yang digunakan untuk media belajarnya.
Harga sebuah perangkat lunak di Indonesia saat ini masih cukup mahal. Kisarannya bisa menembus angka Rp 1 juta. Untuk media pembelajaran dengan komputer, dibutuhkan sekitar 10 hingga 15 perangkat lunak sehingga membutuhkan paling tidak Rp 15 juta. Cara yang dipandang cukup efektif oleh sebagian orang adalah dengan membajak. Tentunya hal ini bukan cara yang bijak. Selain mematikan industri teknologi informasi (TI), pelaku juga bisa dikenai hukuman penjara dan denda yang mencapai jutaan rupiah.
Ubuntu, yang merupakan sebuah varian dari Linux yang bersifat bebas (free/libre) dan sengaja didesain serta dikembangkan untuk keperluan pendidikan di dunia, boleh jadi solusi dari permasalahan di atas. Sistem operasi yang dibangun Ubuntu ini mampu melaju di komputer dengan spesifikasi prosesor minimum 500 MHz dengan Memori Akses Acak (Random Access Memory/RAM) minimum sebesar 128 MB dan ruang kosong minimum di cakram keras (harddisk) sebesar 2,1 GB. Dengan teknologi Linux Terminal Server Project (LTSP), komputer dengan spesifikasi minimum lebih kecil dari yang disyaratkan, tetap bisa mengaksesnya dengan menggunakan jaringan komputer.
Setidaknya ada lima alasan yang membuat Edubuntu cocok digunakan sebagai media belajar yang mengasyikkan. Pertama, Edubuntu memiliki sangat sedikit spam dan virus. Mungkin bisa dikatakan tidak ada. Selain itu, karena sifatnya yang multiuser, membuat pengguna nyaman tanpa terganggu pihak lain. Kedua, Edubuntu sangat mudah dikelola dan juga sangat mudah disesuaikan (customizes).
Ketiga, dengan menggunakan Edubuntu, belajar dengan menggunakan media komputer merupakan hal yang sangat murah karena Edubuntu berkomitmen untuk memberikan sistem operasi ini gratis tanpa biaya sedikit pun. Keempat, Edubuntu didukung sepenuhnya oleh Ubuntu dan komunitas besarnya. Dukungan ini berupa terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa lokal, termasuk bahasa Indonesia, hingga dukungan akses terhadap perangkat lunak yang dikembangkan oleh komunitas dan dikhususkan untuk pendidikan. Kelima, dengan motonya “Linux for Young Human Beings” membuat varian Linux ini akan terus mengembangkan teknologi bagi pendidikan yang akan selalu menjadi kebutuhan setiap pelajar di dunia ini
Yang membedakan Edubuntu dengan Linux yang lain salah satunya adalah terdapat menu Education yang diperuntukkan khusus untuk pendidikan. Di dalamnya terdapat lebih dari 100 aplikasi pendidikan, dimulai dari aplikasi untuk remaja yang umumnya pelajar sekolah menengah dan mahasiswa seperti aplikasi untuk kimia, matematika, geografi, bahasa, astronomi, fisika, biologi, hingga aplikasi untuk mengasah kemampuan dasar anak seperti permainan ketangkasan disertai perhitungan. Semua ini disediakan gratis oleh Ubuntu untuk semua remaja dan anak-anak di seluruh dunia.
Misalnya saja aplikasi Stellarium. Aplikasi astronomi ini merupakan sebuah planetarium maya yang menyajikan simulasi nyata dari deretan benda-benda di angkasa. Posisi yang tersaji di Stellarium akan terlihat sama seperti yang dilihat saat malam tiba. Dengan catatan posisi dan waktu pengamatan pada aplikasi sama dengan posisi dan waktu pengamatan sebenarnya. Apabila masih merasa biasa dengan mengamati benda langit dari bumi, Edubuntu juga menyediakan Celestia Space Simulator. Dengan menjelajahi ruang angkasa menggunakan aplikasi ini, akan terlihat bahwa bumi ini sangatlah kecil dan jagat raya ini sungguh sangat luas.
Aplikasi lainnya yang tidak kalah menariknya adalah KmPlot. Aplikasi matematika ini diperuntukkan untuk membuat grafik fungsi dalam matematika. Namun, aplikasi ini hanya memperlihatkan gambaran dua dimensi. Untuk mencoba membuat grafik fungsi tiga dimensi, tersedia juga Koctave yang tidak kalah andalnya dengan KmPlot.
Pelajaran mengenal negara-negara pun tersedia di sini melalui aplikasi KGeography. Aplikasi ini akan memperlihatkan letak negara beserta atribut kenegaraannya. Tidak hanya itu, ada juga beberapa pertanyaan kecil untuk menguji kemampuan dalam mengenal negara-negara di dunia yang membuat belajar semakin mengasyikkan.Bosan dengan sesuatu yang berbau pelajaran secara langsung, Edubuntu juga memiliki menu Games yang sebagian besar di antaranya diperuntukkan untuk pendidikan. Misalnya saja Atomix. Aplikasi ini merupakan permainan sederhana untuk mengenal struktur dari sebuah molekul.
Dikutip dari Pikiran Rakyat, Kamis 13 September 2007
http://poss.itb.ac.id/?q=node/80
EDUBUNTU, Linux Bagi Pendidikan
Saat ini sedang gencar-gencarnya diadakan program pendidikan gratis. berbicara masalah gratis maka dalam bayangan dunia teknologi informasi akan terkait langsung dengan sistem operasi komputer dalam hal ini linux. Linux adalah sistem operasi free opensource yang artinya sistem operasi ini bebas untuk di “acak-acak” untuk pengembangan lebih lanjut, adapun yang geratis adalah bukan pada sistem operasinya tapi melainkan pada lisensinya.
Linux saat ini memiliki banyak sekali turunan namun yang akan difokuskan pada tulisan ini adalah EDUBUNTU (turunan UBUNTU) yang memang di khususkan untuk dunia Pendidikan. Aplikasi-aplikasi yang ada pada EDUBUNTU hampir sama dengan yang ada di ubuntu hanya saja ada tambahan aplikasi-aplikasi yang berguna untuk kegiatan belajar -mengajar. berikut ini saya uraikan aplikasi pendidikan yang ada pada EDUBUNTU 9.04:
KSTARS
KStars merupakan aplikasi desktop palentorium atau sebuah alat untuk mengamati benda-benda di langit atau planet-planet dalam bentuk program komputer desktop. Selain dapat digunakan untuk menampilkan desktop planetorium, KStars juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain misalkan menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah.
KALZIUM
Aplikasi ini dapat digunakan untuk menemukan informasi tentang unsur-unsur kimia, atau untuk mempelajari fakta-fakta yang terkandung didalamnya dalam bentuk sistem periodik untuk unsur-unsur kimia secara elektronik. Visualisasi yang nampak dari aplkasi ini dalam bentuk blok, pengelompokan, sifat keasaman atau berbagai kepadatan (padat, cair dan gas), berat, massa, elektronegativitas hingga tahun diketemukannya dengan tampilan yang cukup menarik. Dengan aplikasi ini diharapkan Siswa akan lebih senang dalam mempelajari mata pelajaran kimia yang selama ini dianggap sulit.
KMPLOT
KmPlot adalah aplikasi yang dapat memplot fungsi-fungsi matematika dalam sistem koordinat kartesian, baik fungsi tunggal maupun untuk beberapa fungsi sekaligus. Aplikasi praktis ini cukup menarik digunakan bagi guru dan Siswa yang berada dalam jurusan IPA yang dapat digunakan dalam menghtung nilai maksimum dan minimum suatu fungsi, menghitung luas area diantara kurva dengan sumbu horizontal (sumbu x), perubahan parameter secara dinamis, hingga plotting fungsi-fungsi diferensial dan fungsi integral.
KTOUCH
Ktouch merupakan aplikasi untuk berlatih mengetik dengan mengoptimalkan sepuluh jari. Dengan menggunakan program ini maka siswa akan lebih terampil dalam mengetik dengan sepuluh jari tanpa melihat ke arah keyboard (mengetik buta). Pada tampilan awal membuka program ini maka akan disuguhkan tingkatan level mulai dari yang tingkat dasr sampai dengan tingkat advance.
http://foss.unej.ac.id/2009/08/15/edubuntu-linux-bagi-pendidikan.html
KOMENTAR
Open source software adalah istilah yang digunakan untuk software yang membuka/membebaskan source codenya untuk dilihat oleh orang lain dan membiarkan orang lain mengetahui cara kerja software tersebut dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada software tersebut. Dan yang menarik dan salah satu keunggulannya adalah bahwa Open source software dapat diperoleh dan digunakan secara gratis tanpa perlu membayar lisensi. Biasanya orang mendapatkan software ini dari internet. Salah satu open source software yang terkenal yaitu Linux. Linux telah membuat software open source khusus pendidikan yaitu Edubuntu.
Dalam Edubuntu ada tambahan aplikasi-aplikasi yang berguna untuk kegiatan belajar -mengajar. Salah satu aplikasi pendidikan yang berhubungan dengan materi Geografi adalah Kstars. KStars merupakan aplikasi desktop palentorium atau sebuah alat untuk mengamati benda-benda di langit atau planet-planet dalam bentuk program komputer desktop. Selain dapat digunakan untuk menampilkan desktop planetorium, KStars juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain misalkan menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah.
Oleh karena itu tidak salah apabila kita menaruh harapan pada open source ini sebagai platform alternatif yang bisa kita gunakan dalam komputer kita apalagi untuk pendidikan. Penerapan pola open source di Indonesia juga dapat menghilangkan pemakaian software komersial secara ilegal dan memungkinkan bangsa Indonesia dikenal karya ciptanya dengan ikut mengembangkan open source software. Terlebih lagi dengan menggunakan open source akan menunjang pembelajaran geografi dan akan mempermudah dalam pemahaman mata pelajaran ini karena software ini menyajikan materi pelajaran yang lebih menarik.
Kamis, 21 Januari 2010
srtategi
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
A. Kompetensi yang diharapkan
Kompetensi yang diharapkan adalah:
Mendesain dan menggunakan RPP untuk pembelajaran mata pelajaran geografi
B. Indikator
1. Menjelaskan latar belakang pengembangan RPP
2. Menjelaskan pengertian RPP
3. Menunjukkan landasan pengembangan dan pengembang RPP
4. Mengidentifikasi komponen RPP
5. Menjelaskan langkah-langkah dalam pengembagnag RPP
6. Menggunakan format RPP untuk mengembangkan RPP mata pelajaran geografi
7. Mengidentifikasi prasyarat bagi keberhasilan dalam pengembangan RPP
C. Materi
Sesuai dengan kompetensi yang diharapkan beserta indikatornya, kmaka materi RPP ini akan membahas secara baerturut-turut:
I. Latar Belakang
II. Pengertian
III. Landasan Pengembangan dan Pengembang
IV. Komponen RPP
V. Langkah-langkah Pengembangan RPP
VI. Format RPP
VII. Keberhasilan dalam Pengembangan RPP
I. LATAR BELAKANG
Di era reformasi seperti sekarang ini kurikulum yang belaku secara nasional bukanlah suatu “harga mati” yang harus diterima dan dilaksanakan apa adanya, melainkan masih dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan, sepanjang tidak menyimpang dari pokok-pokok yang telah digariskan secara nasional. Dalam hal ini guru adalah pengembang kurikulum yang berada dalam kedudukan yang menentukan dan strategis. Jika kurikulum diibaratkan sebagai rambu-rambu lalu lintas, maka guru adalah pejalan kakinya. Dalam menyelenggarakan sebuah proses pembelajaran, kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dirumuskan terlebih dahulu secara jelas. Kompetensi hasil belajar dimaksud berupa kompetensi yang mencakup ranah atau aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang diharapkan dicapai sebagai hasil pembelajaran. Hasil tersebut diukur berdasar indikator pencapaian kompetensi. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan sistem penilaian hasil belajar berjalan baik, perlu disusun Rencana Program Pembelajaran yang intinya terdiri atas Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Silabus merupakan rencana pembelajaran untuk satu semester atau satu satuan program. Sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dimaksudkan adalah rencana pembelajaran untuk setiap satuan tatap muka.
Dengan asumsi bahwa gurulah yang paling tahu mengenai tingkat perkembangan peserta didik, perbedaan siswa, daya serap, suasana dalam kegiatan pembelajaran, serta sarana dan sumber yang tersedia, maka guru berwenang untuk menjabarkan dan mengembangkan SI (Standar Isi) menjadi silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
II. PENGERTIAN
Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (disingkat: RPP). RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan ke dalam dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar.
Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian
III. LANDASAN PENGEMBANGAN DAN PENGEMBANG
A. Landasan Pengembangan RPP?
Landasan bagi pengembangan RPP adalah sebagaimana tertuang dalam PP No. 19 tahun 2005, pasal 20, yang menyatakan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi Silabus danRencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Dengan demikian adalah menjadi keharusan bagi guru untuk mampu dan mau secara periodik mengembangkan maupun meninjau kembali RPP-nya.
B. Pengembang RPP
Sesuai dengan tugas yanbg diembannya maka sebagai pengembang RPP adalah guru mata pelajaran, atau kelompok guru mata pelajaran. Oleh karena itu untuk mata pelajaran geografi, pengembang RPP-nya adalah guru atau kelompok guru mata pelajaran geografi.
IV. KOMPONEN RPP
Sebagaimana tertuang dalam PP no 19/2005, maka sebuah RPP Aarhus memuat sekurang-kurangnya componen-komponen sbb.:
1. Tujuan Pembelajaran
2. Materi Ajar
3. Metode pembelajaran
4. Sumber Belajar
5. Penilaian Hasil Belajar
V. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN RPP
1. Mencantumkan identitas, yang meliputi:
a. Nama sekolah
b. Mata Pelajaran
c. Kelas/Semester
d. Standar Kompetensi
e. Kompetensi Dasar
f. Indikator
g. Alokasi Waktu
Catatan:
1) RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
2) Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan
Standar Kompetensi:
Standar kompetensi mata pelajaran adalah bagian dari kompetensi lulusan, yakni batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi dapat dirumuskan dengan menggunakan kata kerja yang operasional dan yang non-operasional tergantung dari karakteristik mata pelajaran serta cakupan materinya. Kata kerja operasional yang sering digunakan di dalam perumusan standar kompetensi antara lain menafsirkan, menganalisis, mengevaluasi, membandingkan, mendemonstrasikan, dan mendeskripsikan, sedangkan kata kerja yang tidak operasional antara lain, mengetahui, memahami, dan menjelaskan.
Kompetensi Dasar
Dilihat dari cakupan materi dan kata kerja yang digunakan, standar kompetensi masih bersifat umum, sehingga perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar, yaitu kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran yang harus dicapai siswa. Kompetensi yang dimiliki siswa harus dapat didemonstrasikan untuk menunjukkan keberhasilan belajar siswa. Cakupan materi pada kompetensi dasar lebih sempit dibanding pada standar kompetensi. Kata kerja yang digunakan pada kompetensi dasar harus operasional, di antaranya adalah: menghitung, mengidentifikasi, membedakan, menafsirkan, menganalisis, menerapkan, merangkum, dan sebagainya. Kata kerja pada standar kompetensi dapat digunakan pada kemampuan dasar namun cakupannya lebih sempit.
Untuk mencapai kompetensi dasar diperlukan pengalaman belajar siswa yang tepat. Pengalaman belajar ini dirancang oleh guru dan bisa dilakukan di sekolah atau di luar sekolah. Untuk mengetahui sejauh mana kompetensi dasar telah dicapai diperlukan sistem penilaian yang tepat.
Indikator
Indikator ketercapaian kompetensi diartikan sebagai perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian. Indikator dikembangkan dari kompetensi dasar dengan memperhatikan materi pokok dengan menggunakan kata kerja yang operasional dengan tingkat berpikir yang menengah dan tinggi. Tiap kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 3 atau lebih indikator. Setiap indikator dapat dibuat 3 butir soal atau lebih. Pengembangan indikator dan penentuan soal ujian dilakukan oleh sekolah, dalam hal ini adalah guru. Dengan demikian guru dituntut agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan kompetensi dasar menjadi sejumlah indikator dan indikator menjadi sejumlah soal ujian soal ujian. Indikator menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan cakupan materinya sudah terbatas.
3) Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya. Dalam mengalokasikan waktu, guru perlu memperhatikan pula alokasi waktu untuk setiap semester. Dalam satu semester diperkirakan ada 20 minggu untuk kegiatan pembelajaran di kelas. Jika untuk setiap semester disiapkan 2 minggu untuk kegiatan remedial atau pengayaan, maka masih terdapat 18 minggu efektif per semesternya. Kalau suatu mata pelajaran tertentu memiliki 3 jam per minggu, berarti dalam setiap semesternya, tersedia waktu 3 x 18 jam pertemuan, dengan 1 jam pertemuan (JP) adalah 45 menit tatap muka.
2. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.
3. Mencantumkan Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.
Materi pembelajaran atau materi pokok adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator pencapaian belajar. Secara umum materi pembelajaran atau materi pokok dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987).
Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, atau gabungan lebih dari satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya, karena setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda.
4. Mencantumkan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Metode pembelajaran dapat mencakup metode-metode yang digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Untuk itu maka metode pembelajaran berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan) untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Untuk setiap langkah mungkin digunakan satu metode atau mungkin pula digunakan kombinasi dari beberapa metode atau dapat juga beberapa langkah menggunakan metode yang sama. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu metode yang cocok untuk digunakan dalam pencapaian semua tujuan pembelajaran. Itulah sebabnya, guru sebagai pengembang RPP harus pandai-pandai di dalam memilih metode pembelajaran yang cocok untuk setiap Kompetensi Dasar.
Beberapa metode pembelajaran yang biasa digunakan dalam kegiatan pembelajaran di antaranya: Metode Ceramah (Lecture), Metode Demonstrasi, Metode Penampilan, Metode Diskusi, Metode Studi Mandiri, Metode Kegiatan Pembelajaran Terprogram, Metode Latihan dengan Teman, Metode Simulasi, Metode Curah Pendapat (Brain-storming), Metode Studi Kasus, Metode Computer Assisted Instruction (CAI), Metode Insiden, Metode Praktikum, Metode Proyek, Metode Bermain Peran, Metode Seminar, Metode Simposium, Metode Tutorial, Metode Deduktif, dan Metode Induktif.
Selain metode-metode di atas, sebenarnya masih banyak sekali metode lain yang ada dan dapat digunakan. Dalam buku karangan Andrej Huczynski, terdapat lebih dari 303 contoh model pendidikan dan latihan. (Percival dan Ellington, 1984:8). Itulah sebabnya guru/dosen perlu sekali memahami bagaimana memilih metode yang cocok untuk perkuliahan yang dikembangkan.
5. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Kegiatan pembelajaran diartikan sebagai tahap-tahap kegiatan yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan pembelajaran memuat kegiatan yang secara konkrit harus dilakukan oleh siswa dalam berinteraksi dengan guru maupun dengan objek atau sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar, dengan memperhatikan life skill dan CTL.
Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/ pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Kegiatan Pendahuluan/Pembuka (introduction)
Merupakan kegiatan awal sebelum memasuki penyajian materi pembelajaran inti. Pada tahap ini perlu dijelaskan secara garis besar tentang materi pembelajaran, kegunaan materi pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari, hubungan materi dengan entry behavior, serta indikator ketercapaian. Tahap ini umumnya memerlukan waktu antara 5-10 menit ( 5% dari waktu untuk tatap muka)
Kegiatan Inti/Penyajian (presentation)
Merupakan kegiatan utama dari kegiatan pembelajaran.
Pada tahap ini tercakup kegiatan:
1). Uraian (explanation)
Untuk uraian ini dapat dilakukan dengan metode tertentu baik secara verbal maupun dengan menggunaan media tertentu, seperti: grafik, gambar, realia, model dan/atau cara lain
2). Contoh (example) dan bukan contoh (non example).
Tujuannya untuk membuat konsep-konsep yang abstrak menjadi lebih konkrit.
3). Latihan (exercise).
Tujuannya untuk melatih siswa menerapkan konsep-konsep yang disajikan oleh guru ke dalam bentuk kegiatan yang lebih operasional.
Tahap penyajian yang meliputi tiga kegiatan ini umumnya memakan waktu antara 80-90% dari waktu untuk tatap muka.
Kegiatan Penutup (test and follow-up)
Kegiatan ini merupakan tahap akhir dari kegiatan tatap muka. Pada tahap ini tercakup 3 kegiatan utama, yaitu:
1). Pelaksanaan tes/postes.
Pelaksanaan postes ini dapat dilakukan baik secara tertulis maupun lisan, baik obyektif maupun subyektif, tergantung situasi serta kesempatan yang tersedia.
2). Umpan balik.
Pelaksanaannya dapat berupa pemberian informasi tentang hasil tes.
3). Tindak lanjut.
Yakni berupa petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau dipelajari oleh siswa selanjutnya, baik untuk pendalaman maupun untuk persiapan mengikuti tatap muka berikutnya. Bentuknya bisa berupa penugasan, PR, tugas pengayaan atau remedi, atau tugas yang berhubungan dengan kegiatan yang akan datang
Tahap penutup ini pada umumnya membutuhkan waktu antara 10-15 menit (10-15% dari waktu tatap muka).
Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran ini, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/ pembuka, kegiatan inti/penyajian, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.
Penting pula untuk diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran ini, seluruh kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi. Pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik.
6. Mencantumkan Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.
Khusus untuk sumber belajar atau sumber bahan dimaksudkan adalah rujukan, referensi atau literatur yang digunakan, baik untuk menyusun silabus maupun buku yang digunakan oleh guru dalam mengajar. Hal ini diperlukan agar dalam menyusun silabus kita terhindar dari kesalahan konsep. Di samping itu, dengan menyebutkan sumber belajar kita akan terhindar dari perbuatan meniru/menjiplak karya orang lain (plagiat). Bagi guru, sumber belajar utama dalam penyusunan silabus adalah buku teks dan buku kurikulum. Sumber-sumber lain seperti jurnal, hasil penelitian, penerbitan berkala, dokumen negara, dan lain-lainnya juga dapat digunakan.
Sedangkan untuk media dan alat juga supaya disebutkan secara jelas, misalnya berupa gambar-gambar/foto, grafik, diagram yang ditampilkan menggunakan alat tertentu, spertti OHP, LCD, slide projector, dll.
7. Mencantumkan Sistem Penilaian
Penilaian dijabarkan atas tujuan, acuan penilaian, bentuk instrument dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data, serta system penilaian berkelanjutan. Dalam sajiannya dapat ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.
a. Tujuan Penilaian
Penilaian bertujuan untuk:
a) Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu
b) Menentukan kebutuhan pembelajaran
c) Membantu dan mendorong siswa
d) Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik
e) Menentukan strategi pembelajaran
f) Akuntabilitas lembaga
g) Meningkatkan kualitas pendidikan
b. Acuan Penilaian
Acuan penilaian yang digunakan dalam KTSP adalah Acuan Kriteria, dengan asumsi:
a) Semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda
b) Standar harus ditentukan terlebih dahulu
c) Hasil penilaian adalah: lulus dan tidak lulus
c. Bentuk Instrumen:
Bentuk instrumen dapat berbentuk: Pilihan ganda, Benar – salah, Uraian objektif, Uraian nonobjektif, Performens, Menjodohkan, Jawab singkat, Sebab akibat, Isian, dan Portfolio. Sedangkan bentuk instrumen untuk aspek afektif dapat berbentuk: non tes, observasi dan kuesioner. Misalnya: minat, sikap, disiplin, dsb.
d. Sistem Penilaian Berkelanjutan
Sistem penilaian dalam KTSP harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Berorientasi pada kompetensi
2. Menyeluruh
3. Berkesinambungan
4. Menggunakan acuan kriteria
5. Ujian dengan sistem blok
6. Tiap blok terdiri dari satu atau lebih kompetensi dasar
7. Mengukur semua kompetensi dasar
8. Hasil ujian dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan pengayaan
9. Ujian mencakup aspek kognitif dan psikomotor
10. Aspek afektif diukur melalui pengamatan, dan kuesioner
VI. FORMAT RPP
Pada dasarnya tidak ada aturan baku tentang format RPP, namun dalam mengembangkan RPP hendaknya memuat secara utuh komponen-komponen RPP, seperti dikemukakan pada butir C. Sebagai salah satu contoh, format RPP adalah sebagai berikut:
Contoh format RPP:
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : ...................................
Mata Pelajaran : ...................................
Kelas/Semester : ................../................
Standar Kompetensi : ...................................
Kompetensi Dasar : ...................................
Indikator : ...................................
Alokasi Waktu : ..... x 45 menit (… pertemuan)
I. Tujuan Pembelajaran : …
II. Materi Ajar : …
III. Metode Pembelajaran : …
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal : …
B. Kegiatan Inti : …
C. Kegiatan Akhir : …
V. Media/Alat/Bahan/Sumber Belajar: …
VI. Penilaian : …
VII. KEBERHASILAN DALAM PENGEMBANGAN RPP
Pengembangan RRP akan berhasil dengan baik manakala semua pihak yang terlibat memiliki:
a. Komitmen yang tinggi
b. Pemahaman yang cukup tentang KTSP, silabus dan RPP
c. Dokumen pendukung
d. Kemampuan & kemauan untuk melaksanakan Silabus dan RPP
e. Kejujuran
D. Latihan
Untuk berlatih mengembangkan RPP cobalah bekerja secara berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 3 atau 4. Adapun langkah-langkah verja Anda hádala sbb.:
1. Cermati Stándar Isi Mata Pelajaran Geografi yang memuat SK dan KD atau silabus yang Anda miliki
2. Pilih/tentukan salah satu KD dari SK tertentu
3. Dengan menggunakan rambu-rambu serta format yang sudah dijelaskan, cobalah untuk mengembangkan RPP lengkap, yang pada saatnya dapat Anda gunakan baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk kepentingan pembelajaran geografi di sekolah Anda.
E. Rangkuman
Secara singkat RPP dapat dirumuskan sebagai rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan ke dalam dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. RPP sebagai desain pembelajaran untuk setiap tatap muka, jira dirancang secara baik akan sangat membantu guru mempersiapkan diri untuk tampil secara profesional di hadapan peserta didik dan memfasilitasi peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Pada dasarnya tidak ada aturan baku tentang format RPP, namun dalam mengembangkan RPP hendaknya memuat secara utuh komponen-komponen RPP, seperti dikemukakan pada batir-IV, sehingga format RPP sebagaimana dicontohkan pada batir-VI sebagai salah satu contoh, kiranya dapat dimanfaatkan.
Sudah barang tentu pengembangan RRP akan berhasil dengan baik manakala semua pihak yang terlibat memiliki komitmen yang tinggi, pemahaman yang cukup tentang KTSP, silabus dan RPP, memiliki dokumen-dokumen pendukung, kemampuan & kemauan untuk melaksanakan RPP yang dibuat, serta kejujuran dari setiap componen yang terlibat dalam pengembangan RPP.
(RPP)
A. Kompetensi yang diharapkan
Kompetensi yang diharapkan adalah:
Mendesain dan menggunakan RPP untuk pembelajaran mata pelajaran geografi
B. Indikator
1. Menjelaskan latar belakang pengembangan RPP
2. Menjelaskan pengertian RPP
3. Menunjukkan landasan pengembangan dan pengembang RPP
4. Mengidentifikasi komponen RPP
5. Menjelaskan langkah-langkah dalam pengembagnag RPP
6. Menggunakan format RPP untuk mengembangkan RPP mata pelajaran geografi
7. Mengidentifikasi prasyarat bagi keberhasilan dalam pengembangan RPP
C. Materi
Sesuai dengan kompetensi yang diharapkan beserta indikatornya, kmaka materi RPP ini akan membahas secara baerturut-turut:
I. Latar Belakang
II. Pengertian
III. Landasan Pengembangan dan Pengembang
IV. Komponen RPP
V. Langkah-langkah Pengembangan RPP
VI. Format RPP
VII. Keberhasilan dalam Pengembangan RPP
I. LATAR BELAKANG
Di era reformasi seperti sekarang ini kurikulum yang belaku secara nasional bukanlah suatu “harga mati” yang harus diterima dan dilaksanakan apa adanya, melainkan masih dapat dikembangkan sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan, sepanjang tidak menyimpang dari pokok-pokok yang telah digariskan secara nasional. Dalam hal ini guru adalah pengembang kurikulum yang berada dalam kedudukan yang menentukan dan strategis. Jika kurikulum diibaratkan sebagai rambu-rambu lalu lintas, maka guru adalah pejalan kakinya. Dalam menyelenggarakan sebuah proses pembelajaran, kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dirumuskan terlebih dahulu secara jelas. Kompetensi hasil belajar dimaksud berupa kompetensi yang mencakup ranah atau aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang diharapkan dicapai sebagai hasil pembelajaran. Hasil tersebut diukur berdasar indikator pencapaian kompetensi. Agar perencanaan, pelaksanaan, dan sistem penilaian hasil belajar berjalan baik, perlu disusun Rencana Program Pembelajaran yang intinya terdiri atas Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Silabus merupakan rencana pembelajaran untuk satu semester atau satu satuan program. Sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dimaksudkan adalah rencana pembelajaran untuk setiap satuan tatap muka.
Dengan asumsi bahwa gurulah yang paling tahu mengenai tingkat perkembangan peserta didik, perbedaan siswa, daya serap, suasana dalam kegiatan pembelajaran, serta sarana dan sumber yang tersedia, maka guru berwenang untuk menjabarkan dan mengembangkan SI (Standar Isi) menjadi silabus dan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).
II. PENGERTIAN
Dalam rangka mengimplementasikan pogram pembelajaran yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (disingkat: RPP). RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan ke dalam dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar.
Dalam menyusun RPP guru harus mencantumkan Standar Kompetensi yang memayungi Kompetensi Dasar yang akan disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian
III. LANDASAN PENGEMBANGAN DAN PENGEMBANG
A. Landasan Pengembangan RPP?
Landasan bagi pengembangan RPP adalah sebagaimana tertuang dalam PP No. 19 tahun 2005, pasal 20, yang menyatakan bahwa perencanaan proses pembelajaran meliputi Silabus danRencana Pelaksanaan Pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Dengan demikian adalah menjadi keharusan bagi guru untuk mampu dan mau secara periodik mengembangkan maupun meninjau kembali RPP-nya.
B. Pengembang RPP
Sesuai dengan tugas yanbg diembannya maka sebagai pengembang RPP adalah guru mata pelajaran, atau kelompok guru mata pelajaran. Oleh karena itu untuk mata pelajaran geografi, pengembang RPP-nya adalah guru atau kelompok guru mata pelajaran geografi.
IV. KOMPONEN RPP
Sebagaimana tertuang dalam PP no 19/2005, maka sebuah RPP Aarhus memuat sekurang-kurangnya componen-komponen sbb.:
1. Tujuan Pembelajaran
2. Materi Ajar
3. Metode pembelajaran
4. Sumber Belajar
5. Penilaian Hasil Belajar
V. LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN RPP
1. Mencantumkan identitas, yang meliputi:
a. Nama sekolah
b. Mata Pelajaran
c. Kelas/Semester
d. Standar Kompetensi
e. Kompetensi Dasar
f. Indikator
g. Alokasi Waktu
Catatan:
1) RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
2) Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus yang disusun oleh satuan pendidikan
Standar Kompetensi:
Standar kompetensi mata pelajaran adalah bagian dari kompetensi lulusan, yakni batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan oleh siswa setelah mengikuti proses pembelajaran suatu mata pelajaran tertentu. Standar kompetensi dapat dirumuskan dengan menggunakan kata kerja yang operasional dan yang non-operasional tergantung dari karakteristik mata pelajaran serta cakupan materinya. Kata kerja operasional yang sering digunakan di dalam perumusan standar kompetensi antara lain menafsirkan, menganalisis, mengevaluasi, membandingkan, mendemonstrasikan, dan mendeskripsikan, sedangkan kata kerja yang tidak operasional antara lain, mengetahui, memahami, dan menjelaskan.
Kompetensi Dasar
Dilihat dari cakupan materi dan kata kerja yang digunakan, standar kompetensi masih bersifat umum, sehingga perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar, yaitu kemampuan minimal pada tiap mata pelajaran yang harus dicapai siswa. Kompetensi yang dimiliki siswa harus dapat didemonstrasikan untuk menunjukkan keberhasilan belajar siswa. Cakupan materi pada kompetensi dasar lebih sempit dibanding pada standar kompetensi. Kata kerja yang digunakan pada kompetensi dasar harus operasional, di antaranya adalah: menghitung, mengidentifikasi, membedakan, menafsirkan, menganalisis, menerapkan, merangkum, dan sebagainya. Kata kerja pada standar kompetensi dapat digunakan pada kemampuan dasar namun cakupannya lebih sempit.
Untuk mencapai kompetensi dasar diperlukan pengalaman belajar siswa yang tepat. Pengalaman belajar ini dirancang oleh guru dan bisa dilakukan di sekolah atau di luar sekolah. Untuk mengetahui sejauh mana kompetensi dasar telah dicapai diperlukan sistem penilaian yang tepat.
Indikator
Indikator ketercapaian kompetensi diartikan sebagai perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian. Indikator dikembangkan dari kompetensi dasar dengan memperhatikan materi pokok dengan menggunakan kata kerja yang operasional dengan tingkat berpikir yang menengah dan tinggi. Tiap kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 3 atau lebih indikator. Setiap indikator dapat dibuat 3 butir soal atau lebih. Pengembangan indikator dan penentuan soal ujian dilakukan oleh sekolah, dalam hal ini adalah guru. Dengan demikian guru dituntut agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan kompetensi dasar menjadi sejumlah indikator dan indikator menjadi sejumlah soal ujian soal ujian. Indikator menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur dan cakupan materinya sudah terbatas.
3) Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan, yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Oleh karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya. Dalam mengalokasikan waktu, guru perlu memperhatikan pula alokasi waktu untuk setiap semester. Dalam satu semester diperkirakan ada 20 minggu untuk kegiatan pembelajaran di kelas. Jika untuk setiap semester disiapkan 2 minggu untuk kegiatan remedial atau pengayaan, maka masih terdapat 18 minggu efektif per semesternya. Kalau suatu mata pelajaran tertentu memiliki 3 jam per minggu, berarti dalam setiap semesternya, tersedia waktu 3 x 18 jam pertemuan, dengan 1 jam pertemuan (JP) adalah 45 menit tatap muka.
2. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional, rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan.
3. Mencantumkan Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus.
Materi pembelajaran atau materi pokok adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar dan yang akan dinilai dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator pencapaian belajar. Secara umum materi pembelajaran atau materi pokok dapat diklasifikasikan menjadi 4 jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (Reigeluth, 1987).
Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi apakah termasuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, atau gabungan lebih dari satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara mengajarkannya, karena setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran atau metode, media, dan sistem evaluasi yang berbeda-beda.
4. Mencantumkan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Metode pembelajaran dapat mencakup metode-metode yang digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Untuk itu maka metode pembelajaran berfungsi sebagai cara dalam menyajikan (menguraikan, memberi contoh, dan memberi latihan) untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Untuk setiap langkah mungkin digunakan satu metode atau mungkin pula digunakan kombinasi dari beberapa metode atau dapat juga beberapa langkah menggunakan metode yang sama. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu metode yang cocok untuk digunakan dalam pencapaian semua tujuan pembelajaran. Itulah sebabnya, guru sebagai pengembang RPP harus pandai-pandai di dalam memilih metode pembelajaran yang cocok untuk setiap Kompetensi Dasar.
Beberapa metode pembelajaran yang biasa digunakan dalam kegiatan pembelajaran di antaranya: Metode Ceramah (Lecture), Metode Demonstrasi, Metode Penampilan, Metode Diskusi, Metode Studi Mandiri, Metode Kegiatan Pembelajaran Terprogram, Metode Latihan dengan Teman, Metode Simulasi, Metode Curah Pendapat (Brain-storming), Metode Studi Kasus, Metode Computer Assisted Instruction (CAI), Metode Insiden, Metode Praktikum, Metode Proyek, Metode Bermain Peran, Metode Seminar, Metode Simposium, Metode Tutorial, Metode Deduktif, dan Metode Induktif.
Selain metode-metode di atas, sebenarnya masih banyak sekali metode lain yang ada dan dapat digunakan. Dalam buku karangan Andrej Huczynski, terdapat lebih dari 303 contoh model pendidikan dan latihan. (Percival dan Ellington, 1984:8). Itulah sebabnya guru/dosen perlu sekali memahami bagaimana memilih metode yang cocok untuk perkuliahan yang dikembangkan.
5. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran
Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Kegiatan pembelajaran diartikan sebagai tahap-tahap kegiatan yang dilakukan selama pembelajaran berlangsung. Kegiatan pembelajaran memuat kegiatan yang secara konkrit harus dilakukan oleh siswa dalam berinteraksi dengan guru maupun dengan objek atau sumber belajar untuk menguasai kompetensi dasar, dengan memperhatikan life skill dan CTL.
Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/ pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Kegiatan Pendahuluan/Pembuka (introduction)
Merupakan kegiatan awal sebelum memasuki penyajian materi pembelajaran inti. Pada tahap ini perlu dijelaskan secara garis besar tentang materi pembelajaran, kegunaan materi pembelajaran untuk kehidupan sehari-hari, hubungan materi dengan entry behavior, serta indikator ketercapaian. Tahap ini umumnya memerlukan waktu antara 5-10 menit ( 5% dari waktu untuk tatap muka)
Kegiatan Inti/Penyajian (presentation)
Merupakan kegiatan utama dari kegiatan pembelajaran.
Pada tahap ini tercakup kegiatan:
1). Uraian (explanation)
Untuk uraian ini dapat dilakukan dengan metode tertentu baik secara verbal maupun dengan menggunaan media tertentu, seperti: grafik, gambar, realia, model dan/atau cara lain
2). Contoh (example) dan bukan contoh (non example).
Tujuannya untuk membuat konsep-konsep yang abstrak menjadi lebih konkrit.
3). Latihan (exercise).
Tujuannya untuk melatih siswa menerapkan konsep-konsep yang disajikan oleh guru ke dalam bentuk kegiatan yang lebih operasional.
Tahap penyajian yang meliputi tiga kegiatan ini umumnya memakan waktu antara 80-90% dari waktu untuk tatap muka.
Kegiatan Penutup (test and follow-up)
Kegiatan ini merupakan tahap akhir dari kegiatan tatap muka. Pada tahap ini tercakup 3 kegiatan utama, yaitu:
1). Pelaksanaan tes/postes.
Pelaksanaan postes ini dapat dilakukan baik secara tertulis maupun lisan, baik obyektif maupun subyektif, tergantung situasi serta kesempatan yang tersedia.
2). Umpan balik.
Pelaksanaannya dapat berupa pemberian informasi tentang hasil tes.
3). Tindak lanjut.
Yakni berupa petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau dipelajari oleh siswa selanjutnya, baik untuk pendalaman maupun untuk persiapan mengikuti tatap muka berikutnya. Bentuknya bisa berupa penugasan, PR, tugas pengayaan atau remedi, atau tugas yang berhubungan dengan kegiatan yang akan datang
Tahap penutup ini pada umumnya membutuhkan waktu antara 10-15 menit (10-15% dari waktu tatap muka).
Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran ini, dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/ pembuka, kegiatan inti/penyajian, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.
Penting pula untuk diketahui bahwa dalam kegiatan pembelajaran ini, seluruh kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi. Pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan mengaktifkan peserta didik.
6. Mencantumkan Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan oleh satuan pendidikan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat, dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referens, dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.
Khusus untuk sumber belajar atau sumber bahan dimaksudkan adalah rujukan, referensi atau literatur yang digunakan, baik untuk menyusun silabus maupun buku yang digunakan oleh guru dalam mengajar. Hal ini diperlukan agar dalam menyusun silabus kita terhindar dari kesalahan konsep. Di samping itu, dengan menyebutkan sumber belajar kita akan terhindar dari perbuatan meniru/menjiplak karya orang lain (plagiat). Bagi guru, sumber belajar utama dalam penyusunan silabus adalah buku teks dan buku kurikulum. Sumber-sumber lain seperti jurnal, hasil penelitian, penerbitan berkala, dokumen negara, dan lain-lainnya juga dapat digunakan.
Sedangkan untuk media dan alat juga supaya disebutkan secara jelas, misalnya berupa gambar-gambar/foto, grafik, diagram yang ditampilkan menggunakan alat tertentu, spertti OHP, LCD, slide projector, dll.
7. Mencantumkan Sistem Penilaian
Penilaian dijabarkan atas tujuan, acuan penilaian, bentuk instrument dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data, serta system penilaian berkelanjutan. Dalam sajiannya dapat ituangkan dalam bentuk matrik horisontal atau vertikal. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian, tes unjuk kerja, dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian.
a. Tujuan Penilaian
Penilaian bertujuan untuk:
a) Menilai kemampuan individual melalui tugas tertentu
b) Menentukan kebutuhan pembelajaran
c) Membantu dan mendorong siswa
d) Membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik
e) Menentukan strategi pembelajaran
f) Akuntabilitas lembaga
g) Meningkatkan kualitas pendidikan
b. Acuan Penilaian
Acuan penilaian yang digunakan dalam KTSP adalah Acuan Kriteria, dengan asumsi:
a) Semua orang bisa belajar apa saja, hanya waktu yang diperlukan berbeda
b) Standar harus ditentukan terlebih dahulu
c) Hasil penilaian adalah: lulus dan tidak lulus
c. Bentuk Instrumen:
Bentuk instrumen dapat berbentuk: Pilihan ganda, Benar – salah, Uraian objektif, Uraian nonobjektif, Performens, Menjodohkan, Jawab singkat, Sebab akibat, Isian, dan Portfolio. Sedangkan bentuk instrumen untuk aspek afektif dapat berbentuk: non tes, observasi dan kuesioner. Misalnya: minat, sikap, disiplin, dsb.
d. Sistem Penilaian Berkelanjutan
Sistem penilaian dalam KTSP harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1. Berorientasi pada kompetensi
2. Menyeluruh
3. Berkesinambungan
4. Menggunakan acuan kriteria
5. Ujian dengan sistem blok
6. Tiap blok terdiri dari satu atau lebih kompetensi dasar
7. Mengukur semua kompetensi dasar
8. Hasil ujian dianalisis dan ditindaklanjuti melalui program remedial dan pengayaan
9. Ujian mencakup aspek kognitif dan psikomotor
10. Aspek afektif diukur melalui pengamatan, dan kuesioner
VI. FORMAT RPP
Pada dasarnya tidak ada aturan baku tentang format RPP, namun dalam mengembangkan RPP hendaknya memuat secara utuh komponen-komponen RPP, seperti dikemukakan pada butir C. Sebagai salah satu contoh, format RPP adalah sebagai berikut:
Contoh format RPP:
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : ...................................
Mata Pelajaran : ...................................
Kelas/Semester : ................../................
Standar Kompetensi : ...................................
Kompetensi Dasar : ...................................
Indikator : ...................................
Alokasi Waktu : ..... x 45 menit (… pertemuan)
I. Tujuan Pembelajaran : …
II. Materi Ajar : …
III. Metode Pembelajaran : …
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal : …
B. Kegiatan Inti : …
C. Kegiatan Akhir : …
V. Media/Alat/Bahan/Sumber Belajar: …
VI. Penilaian : …
VII. KEBERHASILAN DALAM PENGEMBANGAN RPP
Pengembangan RRP akan berhasil dengan baik manakala semua pihak yang terlibat memiliki:
a. Komitmen yang tinggi
b. Pemahaman yang cukup tentang KTSP, silabus dan RPP
c. Dokumen pendukung
d. Kemampuan & kemauan untuk melaksanakan Silabus dan RPP
e. Kejujuran
D. Latihan
Untuk berlatih mengembangkan RPP cobalah bekerja secara berkelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 3 atau 4. Adapun langkah-langkah verja Anda hádala sbb.:
1. Cermati Stándar Isi Mata Pelajaran Geografi yang memuat SK dan KD atau silabus yang Anda miliki
2. Pilih/tentukan salah satu KD dari SK tertentu
3. Dengan menggunakan rambu-rambu serta format yang sudah dijelaskan, cobalah untuk mengembangkan RPP lengkap, yang pada saatnya dapat Anda gunakan baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk kepentingan pembelajaran geografi di sekolah Anda.
E. Rangkuman
Secara singkat RPP dapat dirumuskan sebagai rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan telah dijabarkan ke dalam dalam silabus. Lingkup RPP paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. RPP sebagai desain pembelajaran untuk setiap tatap muka, jira dirancang secara baik akan sangat membantu guru mempersiapkan diri untuk tampil secara profesional di hadapan peserta didik dan memfasilitasi peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Pada dasarnya tidak ada aturan baku tentang format RPP, namun dalam mengembangkan RPP hendaknya memuat secara utuh komponen-komponen RPP, seperti dikemukakan pada batir-IV, sehingga format RPP sebagaimana dicontohkan pada batir-VI sebagai salah satu contoh, kiranya dapat dimanfaatkan.
Sudah barang tentu pengembangan RRP akan berhasil dengan baik manakala semua pihak yang terlibat memiliki komitmen yang tinggi, pemahaman yang cukup tentang KTSP, silabus dan RPP, memiliki dokumen-dokumen pendukung, kemampuan & kemauan untuk melaksanakan RPP yang dibuat, serta kejujuran dari setiap componen yang terlibat dalam pengembangan RPP.
Senin, 18 Januari 2010
पार्ट II
Fotogrametri
Seni ilmu dan teknologi untuk memperoleh informasi terpercaya tentang obyek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran dan interpretasi sebaran fotografik dan pola radiasi tenaga elektromagnetik yang terekam
Fotogrametri metrik terdiri dari pengukuran cermat berdasarkan foto dan sumber infoemasi lainnya yang pada umumnya digunakan untuk menentukan lokasi relatif titik2
Fotogrametri interpretatif mempelajari pengenalan dan identikasi obyek sertamenilai arti pentingnya obyek tersebut melalui suatu analisis sistematik dan cermat
Manfaat fotogrametri
1. Pemetaan topografi
2. Perancangan jalan raya
3. Pemetaan pajak bumi
4. Pemetaan tanah
5. Hutan
6. Geologis
7. Wilayah dll
Kegiatan fotogrametrik
1. Menentukan jarak medan mendatar dan besar sudut
2. Menentukan tinggi obyek dari pengukuran pergeserantitik oleh relief
3. Menentukan tinggi obyek dan ketinggian medan dengan mengukur paralaks bar
4. Menentukan titik kontrol medan
5. Membuat peta dalam plotter stereo
Relief displacemen
Pergeseran atau pemindahan letak suatu kedudukan gambar obyek yang disebabkan karena letak ketinggian diatas atau dibawah bidang datum yang dipakai
d=r.h/H
d=perpindahan letak karena relief
h=tinggi obyek diatas detum yang digambar mngalami perpindahan
r=jarak radial antara titik pusat foto udara ke gambar2 obyek
H=tinggi terbang
Seni ilmu dan teknologi untuk memperoleh informasi terpercaya tentang obyek fisik dan lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran dan interpretasi sebaran fotografik dan pola radiasi tenaga elektromagnetik yang terekam
Fotogrametri metrik terdiri dari pengukuran cermat berdasarkan foto dan sumber infoemasi lainnya yang pada umumnya digunakan untuk menentukan lokasi relatif titik2
Fotogrametri interpretatif mempelajari pengenalan dan identikasi obyek sertamenilai arti pentingnya obyek tersebut melalui suatu analisis sistematik dan cermat
Manfaat fotogrametri
1. Pemetaan topografi
2. Perancangan jalan raya
3. Pemetaan pajak bumi
4. Pemetaan tanah
5. Hutan
6. Geologis
7. Wilayah dll
Kegiatan fotogrametrik
1. Menentukan jarak medan mendatar dan besar sudut
2. Menentukan tinggi obyek dari pengukuran pergeserantitik oleh relief
3. Menentukan tinggi obyek dan ketinggian medan dengan mengukur paralaks bar
4. Menentukan titik kontrol medan
5. Membuat peta dalam plotter stereo
Relief displacemen
Pergeseran atau pemindahan letak suatu kedudukan gambar obyek yang disebabkan karena letak ketinggian diatas atau dibawah bidang datum yang dipakai
d=r.h/H
d=perpindahan letak karena relief
h=tinggi obyek diatas detum yang digambar mngalami perpindahan
r=jarak radial antara titik pusat foto udara ke gambar2 obyek
H=tinggi terbang
fotogrametri
MENENTUKAN PARALAKS STEREOSKOPIK
Menurut paine (1993) stereoskopi adalah ilmu pengetahuan tentang stereoskop yang menguraikan penggunaan penglihatan binocular untuk mendapatkan efek 3 dimensi (3D). penglihatan stereoskopi memungkinkan kita untuk melihat suatu obyek secara simultan dari dua perspektif yang berbeda, seperti dua foto udara yang diambil dari kedudukan kamera yang berbeda, untuk memperoleh kesan mental suatu model tiga dimensi.
Perwujudan penglihatan stereoskopis meliputi azas-azas mekanis maupun fisiologis. Pandangan mata normal manusia sebenarnya secara alamiah dapat merekam obyek secara stereoskopik. Hanya saja sering kali kita tidak memperhatikan kemampuan tersebut. Juga tidak semua manusia dapat melakukannya, terutama bagi mereka yang kemampuan matanya tidak seimbang.
Kesan kedalaman (depth perception) dalam stereoskopi terjadi karena titik titik yang terletak pada elevasi – elevasi yang berbeda telah mengalami pergeseran secara topografis dengan besaran dan arah yang berbeda pada foto-foto yang berurutan. Selisih didalam pergeseran disebut paralaks mutlak. Menurut Paine (1993) paralaks mutlak dalah selisih aljabar, diukur sejajar garis terbang (sumbu x) dan sumbu-sumbu y yang berkaitan untuk dua gambar dari suatu titik pada sepasang foto udara yang stereoskopis.
Untuk mengetahui besarnya paralaks mutlak dapat dilakukan dengan meletakkan jalur terbang pada foto. Sumbu x dari suatu titik adalah sejajar dengan arah jalur terbang. Setiap jalur terbang menjadi titik tengah dari foto-foto yang dihasilkan. Karena tampalan depan foto udara minimal 50%, maka setiap titik tengah foto udara akan terganbar pada foto berikutnya sebagai titi pindahan. Dengan menarik suatu garis dari titik tengah foto ke titik tengah pindahan berarti jalur terbang telah ditetapkan.
Stereoskop
Stereoskop merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk pengamatan tiga dimensional atas foto udara yang bertampalan depan (dengan syarat tampalan minimal 50%). Alat ini merupakan alat yang sangat penting dalam interpretasi citra, terutama bagi foto udara atau citra tertentu yang daripadanya dapat ditimbulkan perwujudan tiga dimensional. Pada dasarnya alat ini terdiri dari lensa atau kombinasi antar lensa, cermin, dan prisma. Secara sederhana, stereoskop ini dapat diilustrasikan oleh gambar berikut:
Menurut La prade, stereoskop wheatstoneterdiri dari dua cermin untuk mengamati pasangan foto stereo agar tampak tiga dimensional. Dalam perkembanganya, stereoskop ini meliputi 3 jenis, yakni stereoskop lensa (ada yang menyebutnya stereoskop saku, karena mudahnya dimasukkan kedalam saku sehingga mudah di bawa kelapangan), stereokop cermin (ada yang menyebutnya stereoskop meja, karena hanya dapat digunakan diatas meja), dan stereoskop mikroskopik (disebut demikian karena pembesarannya yang sangat besar sehingga fungsinya mirip dengan mikroskop). Stereoskop mikroskop ini terdiri dari dua jenis mikroskop, yakni zoom stereoskop dan interpretoskop.
Paralaks bar
Alat ini terdiri dari dari sebuah batang yang pada kedua ujungnya terpasang masing-masing lensa. Pada kedua lensa tersebut terdapat tanda berupa titik, silang atau lingkaran kecil yang disebut tanda apung (Floting mark) tanda di lensa sebelah kiri disebut fixed mark, karena pada batang terdapat titik merah atau hita, dimana orange yang akan menggunakanya harus menentukan konstanta batang paralaks dengan memilih salah satu titik tersebut. Bila telah ditetapkan titik merah, maka selanjutnya lensa kiri ini tidak diubah-ubah lagi (fixed). Lensa sebelah kanan memiliki tanda juga yang disebut half mark. Titik ini dapat digerakkan sesuai dengan posisinya pada objek yang dikehendaki dengan cara memutar-mutar skip micrometer.
Paralaks batang digunakan untuk mengukur besarnya paralaks suatu titik. Paralaks titik biasanya diperlukan untuk mengukur ketinggian titik tersebut. Pengukuran tinggi ini dapat pula dilakukan dengan mistar, paralaks tangga dan paralaks meter.
Penggaris
Alat tulis
Kalkulator
Foto udara bali
Langkah Kerja
Menentukan basis foto udara satu ( b1) dari PP1 – PP2
Menentukan basis foto udara dua ( b2) dari CPP – PP2
Menentukan nilai micrometer ro1 dan ro2
Menentukan konstanta batang paralaks
C1 = b1 – ro1
C2 = b2 – ro2
Nilai C = C1 + C2
Tentukan paralaks titik yang aka diukur
Pa = C + ra ra = jarak puncak dengan puncak
Pb = C + rb rb = jarak kaki dengan kaki
Menentukan focus kamera yang digunakan ( dapat iperoleh dari informasi tepi)
Menentukan skala foto udara yang telah tercantum difoto udara
Mencari tinggi terbang (H) dengan rumus:
Skala = f/H
Menentukan basis udara (B) jarak antar pemotretan diudara. Dapat diketahui dengan mengukur sisa tampalan (searah jalur terbang) kemudian dikali dengan penyebut skala.
Memasukkan data trsebut pada rumus berikut:
hA=(H-Bf)/Pa hA = tinggi diatas datum
hB=(H-Bf)/Pb hB = tinggi diatas puncak
Hasil Perhitungan
Diketahui : f = 140 mm
B =3700 m
b1 = 8,5 cm = 85 mm
b2 = 8 cm = 80 mm
ro1 = 24,3 mm
ro2 = 29,54 mm
ra = 25,2 mm
rb = 22,2 mm
skala = 1 : 50.000
Ditanya : ketinggian gunung dari titik A dan B
Jawab:
Menentukan basis foto 1 dan 2
b1 = 8,5 cm = 85 mm
b2 = 8 cm = 80 mm
Menentukan nilai micrometer ro1 dan ro2
ro1 = 24,3 mm
ro2 = 29,54 mm
Menentukan konstanta batang paralaks
C1 = b1 – ro1
= 85 mm – 24,3 mm
= 607 mm
C2 = b2 – ro2
= 80 mm – 29,54 mm
= 50,46 mm
C = (C1+C2)/2 = (60,7 mm+50,46 mm)/2
= 55,58 mm
Mencari paralaks titik a dan b
Pa = C + ra
= 55,58 mm + 25,2 mm
= 80,78
Pb = C + rb
= 55,58 mm + 22,2 mm
= 77,78 mm
Mencari tinggi masing-masing titik
S = f/H
.1/(50.000 mm)= (140 mm)/H
H = 140 mm x 50.000 mm
= 7.000.000 mm
= 7000 m
B = sisa tampalan x penyebut skala
= 7,5 cm x 50.000
= 37.000 cm
= 3700 m
hA = H-(Bf/Pa)
= 7000 m-((3700 m x 140 mm)/(80,75 mm))
= 7000 m-(3700m x 1,80 m)
=700 m-6.660 m
= 599 m
hB = H-(Bf/Pb)
= 7000 m-((3700 m x 140 mm)/(77,78 mm))
= 7000 m-(3700m x 1,73 m)
=700 m-6.401 m
= 340 m
h gunung = hA - hB
= 599 m – 340 m
= 259 m
Bila A sebagai kaki (datum) suatu gunung dan B sebagai puncak gunung, maka tinggi gunung tersebut adalah 599 m – 340 m = 259 m
MENENTUKAN KETINGGIAN OBYEK DENGAN
KONTROL MEDAN
Control medan merupakan rumus yang mana bila telah diketahui ketinggian salah satu dari obyek yang terekam pada foto udara, maka seluruh ketinggian obyek yang tergambar pada foto udara dapat dihitung ketinggiannya, titik yang diketahui inilah yang disebut titik control medan.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ketinggian suatu objek dengan menggunakan control medan
Alat Dan Bahan
Foto udara daerah bali
Kalkulator
Penggaris
Alat tulis
Paralaks bar
Langkah Kerja
Mengetahui panjang focus yang digunakan saat pemotretan dan ketinggian terbang pesawat saat melakukan pemotretan
Mengetahui ketinggian titik yang akan menjadi titik referensi
Mengetahui konstanta batang paralaks
Mengukur nilai r dan masing – masing titik yang akan diukur dengan menggunakan paralaks bar
Menghitung paralaks titik – titik yang ingin diketahui ketinggiannya
Menghitung beda paralaks antar masing – masing titik
Hasil Perhitungan
Diketahui: f = 140 mm
H = 7000 mm
ra = 13,15 mm
rb = 23,6 mm
rc = 22,75 mm
rd = 30,55 mm
re = 34,85 mm
C = 55,58 mm
ha = 100 m
B = 3700 m
Ditanya : tinggi tempat b, c, d, e ?
Jawab:
Menentukan paralaks masing – masing titik
P = C + rx
Pa = C + ra
= 55,58 mm + 13,15 mm
= 68,73 mm
Pb = C + rb
= 55,58 mm + 23,6 mm
= 79,18 mm
Pc = C + rc
= 55,58 mm + 22,75 mm
= 78,33 mm
Pd = C + rd
= 55,58 mm + 30,55 mm
= 86,13 mm
Pe = C + re
= 55,58 mm + 34,85 mm
= 90,43 mm
Mencari beda paralaks. ∆P =paralaks titik yang dicari-paralaks titik terendah
∆P1=79,18 mm-68,73 mm=10,45 mm
∆P2=78,33 mm-68,73 mm=9,6 mm
∆P3=86,13 mm-68,73 mm=17,4 mm
∆P4=90,43 mm-68,73 mm=21,7 mm
Mencari ketinggian masing – masing titik, missal ha = 100 m
hb=ha+ (∆P1 ( H-Bf))/Pb
=100 m+ (10,45 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(79,18 mm)
=100 m+0,01 m ( 7000 m-6549 m)
=100 m+0,01 m .451 m
= 100 m+451 m
= 104,51 m
hc=ha+ (∆P2 ( H-Bf))/Pc
=100 m+ (9,6 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(78,33 mm)
=100 m+0,09 m ( 7000 m-6586 m)
=100 m+0,09 m .414 m
= 100 m+37,26 m
= 137,26 m
hd=ha+ (∆P3 ( H-Bf))/Pd
=100 m+ (17,14 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(86,13 mm)
=100 m+0,017 m ( 7000 m-6031 m)
=100 m+0,09 m .969 m
= 100 m+16,47 m
= 116,47 m
he=ha+ (∆P4 ( H-Bf))/Pe
=100 m+ (21,7 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(90,43 mm)
=100 m+0,02 m ( 7000 m-5735 m)
=100 m+0,02 m .1265 m
= 100 m+25,3 m
= 125,3 m
Jadi, Ketinggian titik b adalah 104,51 m
Ketinggian titik c adalah 137,26 m
Ketinggian titik d adalah 116,47 m
Ketinggian titik e adalah 125,3 m
VERTIKAL EXAGENERATION
Dasar Teori
Salah satu gejala yang tampak dari penglihatan terhadap model stereo foto udara vertical adalah kesan pembengkakan keatas dari objek – objek yang tinggi. Adanya fenomena ini harus di perhitungkan oleh para penafsir foto udara agar tidak terjadi selisih yang besar antara pengukuran di foto udara dengan kenyataan dilapangan, misalnya dalam perhitungan tingkat kemiringan lereng, dan lain-lain. Bahkan perbesaran ini dapat mencapai 3 atau 4 kali lebih besar dan pada ukuran sebenarnya. Adanya gejala ini sangat menguntungkan bagi seorang interpreter dalam bidang geomorfologi, karena kenampakan topografi sangat ekstrim, sehingga mudah dikenali.
Terjadinya perbesaran tegak ini terutama disebabkan oleh kekurang seimbangan antara nisbah fotografik antar basis udara – tinggi terbang ( (B/H) dan antara nisbah basis mata tinggi pada pengamatan stereoskopis (Be/h). B/H merupakan nisbah antara basis udara atau jarak antara dua stasiun pemotretan dengan tinggi terbang saat pemotretan, dan Be/h merupakan nisbah antara basis mata atau jarak antara dua mata dengan jarak dari mata kemodel stereo yang terlihat oleh mata.
Perbesaran tegak (Ve) merupakan nisbah basis udara dengan tinggi terbang dikalikan kebalikan dari nisbah basis mata dengan jarak pengamatan yang nyata atau secara metematis dapat ditulis sebagai berikut:
Nisbah basis mata tinggi pengamatan stereo (be/h) merupakan variable yang agak sulit diukur, dan sedikit berbeda antara masing- masing pengamat. Uji berulang- ulang menunjukkan bahwa nilainya sekitar 0,15
Basis udara dan besarnya tampalan depan (PE%) diperhitungkan dalam mengukur vertical exageneration (Ve). Oleh karena itu, diperlukan data mengenai luas liputan foto di medan yang memiliki kaitan erat dengan basis udara.
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh exageneration
Alat Dan Bahan
Foto udara
Kalkulator
Alat tulis
Penggaris
Langkah Kerja
Menentukan panjang focus kamera yang digunakan
Mengetahui ukuran format foto
Menentukan besarnya tampalan depan atau PE
Menentukan perbandingan basis udara dengan ketinggian terbang
Menentukan vertical exageneration
Hasil Perhitungan
Diketahui : d = 23 cm = 230 mm
f = 140 mm
Ditanya : Ve ??
Jawab :
PE=(23 cm-7,4 cm)/(23 cm) ×100%
= (15,6 cm)/(23 cm) ×100%
=68 %
B/H =1-(Pe/100) d/(f )
=( 1- 68/100) × (230 mm)/(140 mm)
=( 1- 0,68) × 1,64
=0,32 × 1,64
=0,52
Ve = B/H × h/b
= 0,52 × 1/0,15
=0,52 × 6,67
=3,5 kali
Jadi obyek tersebut dalam foto udara 3,5 kali lebih besar dari pada ukuran kenyataan di medan
MENENTUKAN KETINGGIAN LERENG
Dasar Teori
Untuk mengetahui derajat / persen kemiringan lereng pada pengamatan secara stereoskopis agak sulit. Miller sebagaiman dikutip paine (1993) menggunakan suatu penafsiran kemiringan lereng (slope estimator), alat ini terdiri atas sebuah engsel pangkal yang dieratkan pada persendian dengan pukulan palu.
Cara pengukurannya adalah salah satu slope estimator diletakkan diatas salah satu foto udara stereo yang sedang diamati,dibawah stereoskop. Setelah itu orientasikan dan setel alat tersebut sampai bidang lerengnya sejajar atau sebangun dengan lereng yang hendak diukur pada model stereo. Lihatlah objek pada model stereo dan slope estimator secara bergantian, aturlah lereng penaksir sampai betul – betul mendekat bentuk dari model. Ukurlah jarak antar kaki slope estimator (alas) yang diberi symbol b sementara c ukurannya tetap. Penentuan lereng dilakukan dengan menggunakan rumus miller, yakni:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
Keterangan :
c = Panjang sisi kaki
b = Jarak antar kaki
lereng persen sebenarnya adalah lereng yang tampak pada LS=LT/Ve
pengamatan stereoskopis dibagi factor vertical exageneration.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengetahui tinggi lereng sebenarnaya suatu obyek yang diamati disuatu tempat.
Alat Dan Bahan
Foto udara bali
Lidi
Alat tulis
Penggaris
Kalkulator
Langkah Kerja
Mengetahui besarnya vertical exageneration
Melihat objek pda model stereo dan lidi secara bergantian, atur lereng penaksiran ( lidi) sampai betul – betul mendekati bentuk dari model
Ukur jarak antara kaki lidi. Kemudian beri symbol b, dan sementara sisi c ukurannya tetap.
Mencari lereng persen yang tampak dengan rumus:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
Mencari lereng persen sebenarnya dengan rumus:
LS=LT/Ve
Hasil Praktikum
Diketahui: Ve = 3,5 kali
b = 7,5 cm
c = 4,0 cm
Ditanya: lereng persen sebenarnya suatu obyek (gunung)???
Jawab:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
= (√((〖4.(4)〗^2/〖(7,5)〗^2 - 1) )) ×100
= (√(((4 .16)/56,25- 1) )) ×100
= (√((64/56,25- 1) )) ×100
= √(1,14-1)×100
= √0,14×100
= 0,37 x 100 %
= 37,41
Lereng sebenarnaya = LT/Ve
= 37,41/3,5
= 10,69 % = 11 %
Jadi, lereng gunung sebenarnya di medan adalah 11 %
Menurut paine (1993) stereoskopi adalah ilmu pengetahuan tentang stereoskop yang menguraikan penggunaan penglihatan binocular untuk mendapatkan efek 3 dimensi (3D). penglihatan stereoskopi memungkinkan kita untuk melihat suatu obyek secara simultan dari dua perspektif yang berbeda, seperti dua foto udara yang diambil dari kedudukan kamera yang berbeda, untuk memperoleh kesan mental suatu model tiga dimensi.
Perwujudan penglihatan stereoskopis meliputi azas-azas mekanis maupun fisiologis. Pandangan mata normal manusia sebenarnya secara alamiah dapat merekam obyek secara stereoskopik. Hanya saja sering kali kita tidak memperhatikan kemampuan tersebut. Juga tidak semua manusia dapat melakukannya, terutama bagi mereka yang kemampuan matanya tidak seimbang.
Kesan kedalaman (depth perception) dalam stereoskopi terjadi karena titik titik yang terletak pada elevasi – elevasi yang berbeda telah mengalami pergeseran secara topografis dengan besaran dan arah yang berbeda pada foto-foto yang berurutan. Selisih didalam pergeseran disebut paralaks mutlak. Menurut Paine (1993) paralaks mutlak dalah selisih aljabar, diukur sejajar garis terbang (sumbu x) dan sumbu-sumbu y yang berkaitan untuk dua gambar dari suatu titik pada sepasang foto udara yang stereoskopis.
Untuk mengetahui besarnya paralaks mutlak dapat dilakukan dengan meletakkan jalur terbang pada foto. Sumbu x dari suatu titik adalah sejajar dengan arah jalur terbang. Setiap jalur terbang menjadi titik tengah dari foto-foto yang dihasilkan. Karena tampalan depan foto udara minimal 50%, maka setiap titik tengah foto udara akan terganbar pada foto berikutnya sebagai titi pindahan. Dengan menarik suatu garis dari titik tengah foto ke titik tengah pindahan berarti jalur terbang telah ditetapkan.
Stereoskop
Stereoskop merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk pengamatan tiga dimensional atas foto udara yang bertampalan depan (dengan syarat tampalan minimal 50%). Alat ini merupakan alat yang sangat penting dalam interpretasi citra, terutama bagi foto udara atau citra tertentu yang daripadanya dapat ditimbulkan perwujudan tiga dimensional. Pada dasarnya alat ini terdiri dari lensa atau kombinasi antar lensa, cermin, dan prisma. Secara sederhana, stereoskop ini dapat diilustrasikan oleh gambar berikut:
Menurut La prade, stereoskop wheatstoneterdiri dari dua cermin untuk mengamati pasangan foto stereo agar tampak tiga dimensional. Dalam perkembanganya, stereoskop ini meliputi 3 jenis, yakni stereoskop lensa (ada yang menyebutnya stereoskop saku, karena mudahnya dimasukkan kedalam saku sehingga mudah di bawa kelapangan), stereokop cermin (ada yang menyebutnya stereoskop meja, karena hanya dapat digunakan diatas meja), dan stereoskop mikroskopik (disebut demikian karena pembesarannya yang sangat besar sehingga fungsinya mirip dengan mikroskop). Stereoskop mikroskop ini terdiri dari dua jenis mikroskop, yakni zoom stereoskop dan interpretoskop.
Paralaks bar
Alat ini terdiri dari dari sebuah batang yang pada kedua ujungnya terpasang masing-masing lensa. Pada kedua lensa tersebut terdapat tanda berupa titik, silang atau lingkaran kecil yang disebut tanda apung (Floting mark) tanda di lensa sebelah kiri disebut fixed mark, karena pada batang terdapat titik merah atau hita, dimana orange yang akan menggunakanya harus menentukan konstanta batang paralaks dengan memilih salah satu titik tersebut. Bila telah ditetapkan titik merah, maka selanjutnya lensa kiri ini tidak diubah-ubah lagi (fixed). Lensa sebelah kanan memiliki tanda juga yang disebut half mark. Titik ini dapat digerakkan sesuai dengan posisinya pada objek yang dikehendaki dengan cara memutar-mutar skip micrometer.
Paralaks batang digunakan untuk mengukur besarnya paralaks suatu titik. Paralaks titik biasanya diperlukan untuk mengukur ketinggian titik tersebut. Pengukuran tinggi ini dapat pula dilakukan dengan mistar, paralaks tangga dan paralaks meter.
Penggaris
Alat tulis
Kalkulator
Foto udara bali
Langkah Kerja
Menentukan basis foto udara satu ( b1) dari PP1 – PP2
Menentukan basis foto udara dua ( b2) dari CPP – PP2
Menentukan nilai micrometer ro1 dan ro2
Menentukan konstanta batang paralaks
C1 = b1 – ro1
C2 = b2 – ro2
Nilai C = C1 + C2
Tentukan paralaks titik yang aka diukur
Pa = C + ra ra = jarak puncak dengan puncak
Pb = C + rb rb = jarak kaki dengan kaki
Menentukan focus kamera yang digunakan ( dapat iperoleh dari informasi tepi)
Menentukan skala foto udara yang telah tercantum difoto udara
Mencari tinggi terbang (H) dengan rumus:
Skala = f/H
Menentukan basis udara (B) jarak antar pemotretan diudara. Dapat diketahui dengan mengukur sisa tampalan (searah jalur terbang) kemudian dikali dengan penyebut skala.
Memasukkan data trsebut pada rumus berikut:
hA=(H-Bf)/Pa hA = tinggi diatas datum
hB=(H-Bf)/Pb hB = tinggi diatas puncak
Hasil Perhitungan
Diketahui : f = 140 mm
B =3700 m
b1 = 8,5 cm = 85 mm
b2 = 8 cm = 80 mm
ro1 = 24,3 mm
ro2 = 29,54 mm
ra = 25,2 mm
rb = 22,2 mm
skala = 1 : 50.000
Ditanya : ketinggian gunung dari titik A dan B
Jawab:
Menentukan basis foto 1 dan 2
b1 = 8,5 cm = 85 mm
b2 = 8 cm = 80 mm
Menentukan nilai micrometer ro1 dan ro2
ro1 = 24,3 mm
ro2 = 29,54 mm
Menentukan konstanta batang paralaks
C1 = b1 – ro1
= 85 mm – 24,3 mm
= 607 mm
C2 = b2 – ro2
= 80 mm – 29,54 mm
= 50,46 mm
C = (C1+C2)/2 = (60,7 mm+50,46 mm)/2
= 55,58 mm
Mencari paralaks titik a dan b
Pa = C + ra
= 55,58 mm + 25,2 mm
= 80,78
Pb = C + rb
= 55,58 mm + 22,2 mm
= 77,78 mm
Mencari tinggi masing-masing titik
S = f/H
.1/(50.000 mm)= (140 mm)/H
H = 140 mm x 50.000 mm
= 7.000.000 mm
= 7000 m
B = sisa tampalan x penyebut skala
= 7,5 cm x 50.000
= 37.000 cm
= 3700 m
hA = H-(Bf/Pa)
= 7000 m-((3700 m x 140 mm)/(80,75 mm))
= 7000 m-(3700m x 1,80 m)
=700 m-6.660 m
= 599 m
hB = H-(Bf/Pb)
= 7000 m-((3700 m x 140 mm)/(77,78 mm))
= 7000 m-(3700m x 1,73 m)
=700 m-6.401 m
= 340 m
h gunung = hA - hB
= 599 m – 340 m
= 259 m
Bila A sebagai kaki (datum) suatu gunung dan B sebagai puncak gunung, maka tinggi gunung tersebut adalah 599 m – 340 m = 259 m
MENENTUKAN KETINGGIAN OBYEK DENGAN
KONTROL MEDAN
Control medan merupakan rumus yang mana bila telah diketahui ketinggian salah satu dari obyek yang terekam pada foto udara, maka seluruh ketinggian obyek yang tergambar pada foto udara dapat dihitung ketinggiannya, titik yang diketahui inilah yang disebut titik control medan.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ketinggian suatu objek dengan menggunakan control medan
Alat Dan Bahan
Foto udara daerah bali
Kalkulator
Penggaris
Alat tulis
Paralaks bar
Langkah Kerja
Mengetahui panjang focus yang digunakan saat pemotretan dan ketinggian terbang pesawat saat melakukan pemotretan
Mengetahui ketinggian titik yang akan menjadi titik referensi
Mengetahui konstanta batang paralaks
Mengukur nilai r dan masing – masing titik yang akan diukur dengan menggunakan paralaks bar
Menghitung paralaks titik – titik yang ingin diketahui ketinggiannya
Menghitung beda paralaks antar masing – masing titik
Hasil Perhitungan
Diketahui: f = 140 mm
H = 7000 mm
ra = 13,15 mm
rb = 23,6 mm
rc = 22,75 mm
rd = 30,55 mm
re = 34,85 mm
C = 55,58 mm
ha = 100 m
B = 3700 m
Ditanya : tinggi tempat b, c, d, e ?
Jawab:
Menentukan paralaks masing – masing titik
P = C + rx
Pa = C + ra
= 55,58 mm + 13,15 mm
= 68,73 mm
Pb = C + rb
= 55,58 mm + 23,6 mm
= 79,18 mm
Pc = C + rc
= 55,58 mm + 22,75 mm
= 78,33 mm
Pd = C + rd
= 55,58 mm + 30,55 mm
= 86,13 mm
Pe = C + re
= 55,58 mm + 34,85 mm
= 90,43 mm
Mencari beda paralaks. ∆P =paralaks titik yang dicari-paralaks titik terendah
∆P1=79,18 mm-68,73 mm=10,45 mm
∆P2=78,33 mm-68,73 mm=9,6 mm
∆P3=86,13 mm-68,73 mm=17,4 mm
∆P4=90,43 mm-68,73 mm=21,7 mm
Mencari ketinggian masing – masing titik, missal ha = 100 m
hb=ha+ (∆P1 ( H-Bf))/Pb
=100 m+ (10,45 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(79,18 mm)
=100 m+0,01 m ( 7000 m-6549 m)
=100 m+0,01 m .451 m
= 100 m+451 m
= 104,51 m
hc=ha+ (∆P2 ( H-Bf))/Pc
=100 m+ (9,6 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(78,33 mm)
=100 m+0,09 m ( 7000 m-6586 m)
=100 m+0,09 m .414 m
= 100 m+37,26 m
= 137,26 m
hd=ha+ (∆P3 ( H-Bf))/Pd
=100 m+ (17,14 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(86,13 mm)
=100 m+0,017 m ( 7000 m-6031 m)
=100 m+0,09 m .969 m
= 100 m+16,47 m
= 116,47 m
he=ha+ (∆P4 ( H-Bf))/Pe
=100 m+ (21,7 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(90,43 mm)
=100 m+0,02 m ( 7000 m-5735 m)
=100 m+0,02 m .1265 m
= 100 m+25,3 m
= 125,3 m
Jadi, Ketinggian titik b adalah 104,51 m
Ketinggian titik c adalah 137,26 m
Ketinggian titik d adalah 116,47 m
Ketinggian titik e adalah 125,3 m
VERTIKAL EXAGENERATION
Dasar Teori
Salah satu gejala yang tampak dari penglihatan terhadap model stereo foto udara vertical adalah kesan pembengkakan keatas dari objek – objek yang tinggi. Adanya fenomena ini harus di perhitungkan oleh para penafsir foto udara agar tidak terjadi selisih yang besar antara pengukuran di foto udara dengan kenyataan dilapangan, misalnya dalam perhitungan tingkat kemiringan lereng, dan lain-lain. Bahkan perbesaran ini dapat mencapai 3 atau 4 kali lebih besar dan pada ukuran sebenarnya. Adanya gejala ini sangat menguntungkan bagi seorang interpreter dalam bidang geomorfologi, karena kenampakan topografi sangat ekstrim, sehingga mudah dikenali.
Terjadinya perbesaran tegak ini terutama disebabkan oleh kekurang seimbangan antara nisbah fotografik antar basis udara – tinggi terbang ( (B/H) dan antara nisbah basis mata tinggi pada pengamatan stereoskopis (Be/h). B/H merupakan nisbah antara basis udara atau jarak antara dua stasiun pemotretan dengan tinggi terbang saat pemotretan, dan Be/h merupakan nisbah antara basis mata atau jarak antara dua mata dengan jarak dari mata kemodel stereo yang terlihat oleh mata.
Perbesaran tegak (Ve) merupakan nisbah basis udara dengan tinggi terbang dikalikan kebalikan dari nisbah basis mata dengan jarak pengamatan yang nyata atau secara metematis dapat ditulis sebagai berikut:
Nisbah basis mata tinggi pengamatan stereo (be/h) merupakan variable yang agak sulit diukur, dan sedikit berbeda antara masing- masing pengamat. Uji berulang- ulang menunjukkan bahwa nilainya sekitar 0,15
Basis udara dan besarnya tampalan depan (PE%) diperhitungkan dalam mengukur vertical exageneration (Ve). Oleh karena itu, diperlukan data mengenai luas liputan foto di medan yang memiliki kaitan erat dengan basis udara.
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh exageneration
Alat Dan Bahan
Foto udara
Kalkulator
Alat tulis
Penggaris
Langkah Kerja
Menentukan panjang focus kamera yang digunakan
Mengetahui ukuran format foto
Menentukan besarnya tampalan depan atau PE
Menentukan perbandingan basis udara dengan ketinggian terbang
Menentukan vertical exageneration
Hasil Perhitungan
Diketahui : d = 23 cm = 230 mm
f = 140 mm
Ditanya : Ve ??
Jawab :
PE=(23 cm-7,4 cm)/(23 cm) ×100%
= (15,6 cm)/(23 cm) ×100%
=68 %
B/H =1-(Pe/100) d/(f )
=( 1- 68/100) × (230 mm)/(140 mm)
=( 1- 0,68) × 1,64
=0,32 × 1,64
=0,52
Ve = B/H × h/b
= 0,52 × 1/0,15
=0,52 × 6,67
=3,5 kali
Jadi obyek tersebut dalam foto udara 3,5 kali lebih besar dari pada ukuran kenyataan di medan
MENENTUKAN KETINGGIAN LERENG
Dasar Teori
Untuk mengetahui derajat / persen kemiringan lereng pada pengamatan secara stereoskopis agak sulit. Miller sebagaiman dikutip paine (1993) menggunakan suatu penafsiran kemiringan lereng (slope estimator), alat ini terdiri atas sebuah engsel pangkal yang dieratkan pada persendian dengan pukulan palu.
Cara pengukurannya adalah salah satu slope estimator diletakkan diatas salah satu foto udara stereo yang sedang diamati,dibawah stereoskop. Setelah itu orientasikan dan setel alat tersebut sampai bidang lerengnya sejajar atau sebangun dengan lereng yang hendak diukur pada model stereo. Lihatlah objek pada model stereo dan slope estimator secara bergantian, aturlah lereng penaksir sampai betul – betul mendekat bentuk dari model. Ukurlah jarak antar kaki slope estimator (alas) yang diberi symbol b sementara c ukurannya tetap. Penentuan lereng dilakukan dengan menggunakan rumus miller, yakni:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
Keterangan :
c = Panjang sisi kaki
b = Jarak antar kaki
lereng persen sebenarnya adalah lereng yang tampak pada LS=LT/Ve
pengamatan stereoskopis dibagi factor vertical exageneration.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengetahui tinggi lereng sebenarnaya suatu obyek yang diamati disuatu tempat.
Alat Dan Bahan
Foto udara bali
Lidi
Alat tulis
Penggaris
Kalkulator
Langkah Kerja
Mengetahui besarnya vertical exageneration
Melihat objek pda model stereo dan lidi secara bergantian, atur lereng penaksiran ( lidi) sampai betul – betul mendekati bentuk dari model
Ukur jarak antara kaki lidi. Kemudian beri symbol b, dan sementara sisi c ukurannya tetap.
Mencari lereng persen yang tampak dengan rumus:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
Mencari lereng persen sebenarnya dengan rumus:
LS=LT/Ve
Hasil Praktikum
Diketahui: Ve = 3,5 kali
b = 7,5 cm
c = 4,0 cm
Ditanya: lereng persen sebenarnya suatu obyek (gunung)???
Jawab:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
= (√((〖4.(4)〗^2/〖(7,5)〗^2 - 1) )) ×100
= (√(((4 .16)/56,25- 1) )) ×100
= (√((64/56,25- 1) )) ×100
= √(1,14-1)×100
= √0,14×100
= 0,37 x 100 %
= 37,41
Lereng sebenarnaya = LT/Ve
= 37,41/3,5
= 10,69 % = 11 %
Jadi, lereng gunung sebenarnya di medan adalah 11 %
Minggu, 17 Januari 2010
seminar
perbedaan seminar yang brkembang saat ini dengan yang sebenarnya,
saat ini seminar tak lg sesuai dg makna terdahulu. Saat ini seminar hanya mengacu pada dskusi/kuliah yaitu membaca makalah,presentasi, pembanyaran(money), sertifikat. Karena orang hanya ingin mengejar praktis dan keuntungan. Biasanya penyaji hanya membacakan/menyampaikan isi makalah kemudian yang terakhir diadakan sesi tanya jawab. Padahal makna yang sebenarnya, seminar adalah membahas sesuatu yang aktual dalam masyarakat kemudian menghasilkan keputusan bersama2 dan digunakan untuk kebijakan untuk beberapa lembaga.
Seminar “merupakan pembahasan yang bersifat ilmiah (kritis) terhadap masalah tertentu” masalah yang dibahas berkaitan dengan kehidupan sehari2 dan akurat.
Tujuan utama dari seminar adalah untuk mencari pedoman2/pemecahan masalah2 tertentu, oleh karena itu seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan2 dan keputudan2 yang merupakan hasil pembulataan pendapat semua peserta. Bahkan seminar dapat menghasilkan rekomendasi atau saran untuk menerima sesuatu dan resolusi ( keputusan dan usul)
tata cara seminar yg baik&benar,
1. Seminar dimulai dg sidang pleno, artinya semua peserta hadir bersama dalam ruang yang sama. Kemudian pemimpin sidang menyampaikan arah atau teknik jalannya diskusi serta tata tertib persidangan dan tujuan serta bahan pokok diskusi.
2. Seminar juga dapat dimulai dengan menutarakan pandangan2 umum oleh orang-orang yang dianggap berkompeten untuk meletakkan garis2 pemikiran selanjutnya.
3. Pemakalah menyampaikan han out secara singkat, yang poko2. Apabila kertas sudah diperbanyak dan dibagiakan kepada peserta.pemakalah tidak perlu membacakan isi materi secara lengkap karena masalah akan dibahas dalam kelompok2.
4. Peserta dibagi menurut kelompok2 ttt. Misal berdasarkan bidang keahliannya untuk melakukan diskusi kelompok,sehingga dapat meninjau masalah itu dari berbagai kelompok untuk memperoleh keputusan bersama. Di dalam kellompok tersebut dilakukan pembahasan secara mendalam terhadap makalah2 yang sudah diterima. Dalam setiap kelompok di bentuk ketua dan sekertaris. Tugas ketua untuk mengatur dan mengarahkan jalannya diskusi. Ketua kelompok dapat sewaktu2 membuat kesimpulan dan ikhtisar kemajuan kelompok. Tugas sekertaris adl umencatat berbagai pendapat dan kesimpulan kelompok.
5. Setelah diskusi kelompok selesai, peserta berkumpul kembali dalam rapat pleno. Masing2 kelompok membacakan hasil diskusi dan dengan kelompok lain membandingkan hasil diskusi mereka.
6. Laporan tertulis hasil diskusi sikumpulkan ke pemimpin sidang. Lap tertulis tsb akan menjadi bahan dalam sidang selanjutnya yang dilakukan oleh tim perumus yang telah dirunjuk.
7. Apabila tim perumus telah berhasil melaksanakan tugasnya, maka dapat diadakan rapat paripurna. Pada kesempatan itu tim perumus membacakan keputusan hasil seminar.
Organisasi dalam seminar
1. Organizing comite (panitia penyelenggara)
Panitia yang bertanggung jawab atas kesalahan penyelenggaraan dan keberhasilan seminar. Oleh karena itu susunan anggota panitia inti lebih kompleks dan lebih lengkap. Disamping panitia inti terdapat sie2 jg.
2. Steering comite (panitia penyelenggara)
Panitia ini bertanggung jawab atas jalannya seminar pada waktu persidangan. Susunan kepanitiaan terdiri dari ketua sidang, sekertaris, dan operator sidang. Ketua sidang bertanggung jawab atas kelancaran sidang. Bersama sekretaris menyusun tata tertib sidang, pembagian kelompok, menetapkan tim perumus dan menghimpun hasil seminar
Dalam sidang kelompok dapat dilaksanakan:
a. Menerima makalah sepenuhnya
b. Menerina dg tambahan /perubahan
c. Menolak makalah yang disajikan
d. Menyampaikan rekomendasi dan resolusi
Mekanisme seminar kelas
1. Kelas dibagi mjd 4 kelompok. Masing2 ditunjuk ketua dan sekertaris pada tiap kelompok
2. Setiap mahasiswa menyiapkan makalah (proposal penelitian) rangkap 4 ( mahasiswa sendiri, untuk dosen, dan 2 untuk kelompok.
3. Setiap kali pertemuan 2 mahasiswa presentasi.
4. Setiap makalah dibahas 2 kelompok.
5. Hasil sidang dibacakan dalam sidang paripurna, lalu diserahkan kepada pemimpin sidang.
6. SC steering comite diambil dari kelompok yang tidak presentasi.
7. Alokasi waktu 100 menit
• Presentasi 2 mahasiswa 30 menit
• Sidang kelompok 40 menit
• Sidang paripurna 30 menit dan komentar dosen
PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBENTUK MODEL DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 2 MAGELANG
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sudah semakin kompleks. Peningkatan mutu pendidikan menjadi suatu tantangan bagi para pekerja dibidang pendidikan khususnya guru. Ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesatnya menuntut guru untuk lebih pintar dan profesional dalam menyampaikan pesan kepada peserta didik. Guru harus mampu membuat pelajaran menarik dan mudah diterima oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
Salah satu cara untuk meningkatkan perhatian, minat dan motivasi belajar siswa diantaranya melalui penggunaan media pembelajaran. Selama ini media yang digunakan dalam proses pembelajaran geografi hanya sebatas peta dan globe. Padahal dilingkunagn sekitar, terdapat berbagai benda atau gejala yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya kreatifitas guru, media yang tersedia disekolahan belum lengkap, sedangkan dana pengadaannya tidak tersedia.
Kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh iklim belajar yang dikembangkan guru dan kemampuan serta ketepatan guru dalam memilih metode dan menggunakan media dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran geografi, pada umumnya guru masih menggunakan model pembelajaran yang kurang mampu merangsang siswa belajar sehingga keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar masih kurang. Guru masih banyak menggunakan metode ceramah dengan model pembelajaran masih tradisional dalam penyampaian materi dan penggunaan media pun kurang. Hal ini menyebabkan suasana belajar menjadi monoton dan membosankan, sehingga hasil belajar geografi rendah. Salah satu cara meningkatkan motivasi dan minat siswaadalah melalui model pembelajaran yang menyenangkan, dimana siswa mengalami pembelajaran, berlatih dan menjadikan isi pelajaran bagi mereka.
Peneliti memilih kelas XI IPS 1 ini karena berdasarkan hasil prasurvei, kelas ini adalah kelas yang paling rendah nilai rata-rata kelasnya dibandingkan dengan kelas yang lain dan kurang aktif dalam mengikuti pelajaran dikelas. Minat belajar siswa kelas tersebut terhadap pelajaran geografi juga masih rendah. Selain itu penggunaan media pembelajaran berbentuk model belum diterapkan dalam proses pembelajaran geografi di SMA negeri 2 Magelang. Sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang penerapan penggunaan media pembelajaran berbentuk model untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 2 Magelang.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan sebelumnya dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:
a. Kurangnya penerapan media pembelajaran khususnya berbentuk model dalam pembelajaran geografi.
b. Pembelajaran geografi di SMA negeri 2 Magelang kurang optimal.
c. Siswa kurang berperan aktif dalam mengikuti pembelajaran geografi.
d. Masih rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran geografi.
3. Pembatasan Masalah
Mengingat adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga serta kemampuan peneliti, maka penelitian akan dibatasi pada masalah kurangnya penggunaan media pembelajaran khususnya media pembelajaran berbentuk model dan belum optimalnya hasil belajar siswa di SMA negeri 2 Magelang.
4. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pengaruh penerapan media pembelajaran berbentuk model terhadap hasil belajar dalam pembelajaran geografi SMA negeri 2 Magelang?
b. Apakah dengan menggunakan media pembelajaran berbentuk model dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMA negeri 2 Magelang?
5. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas keefektifan penggunaan media pembelajaran berbentuk model dalam upaya peningkatan hasil belajar geografi bagi siswa di SMA negeri 2 Magelang.
6. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
1) Menambah referensi mengenai penelitian pendidikan pendidikan di bidang geografi.
2) Dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang pendidikan.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi guru
a) Memberi wawasan tenrang keefektifan media pembelajaran berbentuk model.
b) Meningkatkan kinerja guru geografi dalam proses pembelajaran.
2) Bagi siswa
a) Dapat meningkatkan keaktifan siswa.
b) Meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap mata pelajaran geografi.
c) Meningkatkan pengetahuan siswa tentang fenomena-fenomena geografi yang terjadi di lingkungan sekitar.
C. KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
1. Landasan Teori
a. Hakikat Geografi
Bintarto (1977) mengemukakan bahwa geografi adalah ilmu yang mencitrakan, menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam penduduk serta mempelajari corak khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.
Kajian geografi ( Nursid Sumaatmadja, 2001:11-12) mencakup:
1. Permukaan bumi (geosfer).
2. Alam lingkungan, atmosfer (lapisan udara), litosfer (lapisan air; perairan), dan biosfer (lapisan kehidupan).
3. Umat manusia dan kehidupannya (antroposfer).
4. Penyebaran keruangan gejala alam dan kehidupan termasuk persamaan dan perbedaan.
5. Analisis hubungan keruangan, gejala-gejala geosfer depermukaan bumi.
b. Hakikat Belajar dan Pembelajaran Geografi
Belajar adalah memahami hal-hal baru dan mengetahui cara-cara yang lebih baik untuk melakuakan banyak hal (Hubbard, 2003:5). Menurut Martinis Yamin, (2003:97) belajar merupakan proses seseorang memperoleh kecakapan, ketrampilan dan sikap.
Hamzah B. Uno (2006:2-1) mengatakan pembelajaran pada hakikatnya adalah perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk pembelajaran siswa. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa dan bukan apa yang dipelajari siswa. Pembelajaran lebih menekankan bagaimana cara untuk mencapai tujuan belajar meskipun tidak dapat dilupakan cara mengorganisasikan pembelajaran dan bagaimana menata interaksi antara sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
c. Hasil belajar
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004:102). Menurut Winarno Surahmad (1997:88) Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku.
d. Media Pembelajaran Geografi
1) Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Media adalah pengantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sementara Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat atau fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti buku, film, video dan sebagainya. (Arief S. Sardiman, 2003:6)
2) Manfaat Media dalam Pembelajaran
Secara khusus manfaat media pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh kemp dan dayton (1985), yaitu:
1) Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan.
2) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik.
3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4) Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5) Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
6) Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
7) Sikap positif siswa terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif dan produktif.
e. Media Pembelajaran Berbentuk Model
Pemanfaatan media realia dalam proses pembelajaran merupakan cara yang cukup efektif, karena dapat memberika informasi yang lebih akurat. Walaupun tidak semua benda nyata dapat digunakan sebagai media realita karena keterbatasan penyediaannya, misalnya karena ukuran ataupun biayanya. Alternative pemanfaatan media yang menyerupai tealita adalah model. Menurut Brown (1985) model didefinisika sebagai benda nyata yang dimodifikasikan; Heinich et al., (1996) menyebutkan hal yang senada, yaitu gambaran yang berbentuk tiga dimensi dari sebuah benda nyata.
Model Amir Hamzah (1989:136) model sebagai sesuatu yang dibuat dengan ukuran tiga dimensi, sehingga menyerupai benda aslinya untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda sebenarnya. Menurut Sardiman (1997:35) macam-macam model antara lain :
1) Model Irisan
Yaitu model yang memperjelas pengertian tentang obyek (benda) misalnya lapisan tanah, gunung berapa dan lain-lain.
2) Model Memperkecil atau memperbesar obyek
Yaitu model ini digunakan untuk memperjelas suatu obyek yang terlalu besar untuk dibawa kemuka kelas seperti miniature dan lain-lain.
3) Model lapangan
Yaitu model yang digunakan untuk menjelaskan suatu lingkungan atau daerah tertentu, seperti daerah perumahan, pelabuhan dan lain-lain.
4) Model menyederhanakan obyek yang komplek
Yaitu model yang dipakai untuk menjelaskan suatu komplek dan membingungkanyang disebabkan oleh liku-likunya kawat, tali, pipa, dan peralatan lainyang berhubungan cara kerja mesin yang bersangkutan.
Model adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dan dipelajari siswa dalam wujud aslinya.
Kerangka Berfikir
Pembelajaran adalah suatu kegiatan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan ini akan mempengaruhi cara seorang guru dalam menyampaikan pelajaran, baik mengenai metode atau media yang digunakan. Peran metode ataupun media merupakan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran. Hal tersebut akan membantu mencapai tujuan belajar yang telah direncanakan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar.
Pembelajaran akan efektif jika siswa dapat memaknai pesan atau meteri dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut bertujuan agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang digunakan untuk mencapaitujuan tersebut adalah dengan menerapkan media pembelajaran berbentuk model.
Media pembelajaran berbentuk model ini dapat digunakan sebagai alternatf dalam proses belajar mengajar geografi. Karekteristik geografi menitikberatkan kajiannya pada fenomena geosfer yang berupa lingkungan fisik dan aspek manusia. Pemahaman terhadap lingkungan sekitardan aspek manusia dapat dialami secara nyata oleh siswa. Sehingga dengan menerapkan media pembelajaran berbentuk model ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Bagan 1. Kerangka Berfikir
2. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir maka hipotesis dapat dirumuskan bahwa penggunaan media pembelajaran berbentuk model pada mata pelajaran geografi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 2 Magelang.
D. METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru kekelas atau disekolah tempat ia mengajar dengan penekana pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran. (Suharsimi Arikunto, 2006:96).
Secara garis besar, penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart terdiri dari empat aspek pokok, yaitu:
a. Penyusunan rencana
b. Tindakan
c. Observasi
d. Refleksi
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Negeri 2 Magelang dengan sasarannya yaitu proses pembelajaran kelas XI IPS 1 yang meliputi siswa guru dan media pembelajaran berbentuk model. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dikelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Magelang pada bulan Januari 2010 sampai Maret 2010.
3. Variabel dan Definisi Operasional Variabel.
Variabel merupakan hal-hal yang menjadi obyek penelitian yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian (points to be niticed) yang menunjukkan variasi, baik kuantitatif maupun kualitatif (Suharsimi Arikunto, 2006:10). Variabel dalam penelitian ini meliputi penggunaan media pembelajaran berbentuk model, hasil belajar siswa dan pembelajaran geografi.
Definisi operasional dari variabel-variabel tersebut adalah sebagi berikut:
1. Penggunaan media pembelajaran berbentuk model.
Pengguanaan media pembelajaran berbentuk model adalah suatu proses pembelajaran yang menggunakan benda dalam tiga dimensi, dalam ukuran yang dapat diperbesar dan diperkecil dari benda aslinya dan digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda sebenarnya dan digunakan untuk menerangkan begian benda yang dianggap perlu.
2. Hasil belajar siswa
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang yang dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata-mata pelajaran yang ditempuhnya dan dilambangkan dengan angka atau huruf, misalnya angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah serta huruf A, B, C, D pada pendidikan tinggi. Dalam penelitian ini hasil belajar merupakan nilai dari ulangan siswa.
3. Pembelajran Geografi
Pembelajaran geografi merupakan pembelajaran tentang hakikat geografi yang diajarkan di sekolah dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak pada jenjang pendidikan masing-masing.
4. Rencana Tindakan
Kegiatan penelitian tindakan kelas ini meliputi tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, observasi serta refleksi.
a. Persiapan
1) Pra survei dan penjajagan
Pra survei dan penjajagan dilakukan secara langsung untuk mengetahui kemungkinan dan kesediaan sekolah yang bersangkutan untuk dijadikan tempat penelitian. Tujuan survei adalah untuk mengetahui proses pembelajaran dikelas dan menemukan permasalahan yang ada dikelas.
2) Perijinan
Perijinan diperoleh dari rekomendasi lembaga terkait untuk menerjunkan ke lapangan. Perijinan ini dimulai dari FISE UNY, BAPEDA Jawa Tengah, BAPEDA Kota Magelang, Dinas Pendidikan Kota Magelang, kemudian ke SMA Negeri 2 Magelang.
b. Perencanaan
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari dua siklus/putaran dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Peneliti dan kolaborator membuat rencana pembelajaran serta menentukan media pembelajaran berbentuk model dalam proses pembelajaran.
Perencanaan Tindakan antara lain:
• Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang materi yang akan dilaksanakan
• Menyiapkan media pembelajaran berbentuk model dan sumber belajar
• Mempersiapkan soal tes yang akan diberikan pada akhir masing-masing siklus.
c. Tindakan dan Observasi
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti berkolaborasi dengan guru geografi di SMA Negeri 2 Magelang. Sebagai pelaku tindakan adalah guru setempat sedangkan sebagai observer adalah peneliti.
d. Refleksi
Refleksi dilaksanakan bersama antara peneliti dengan kolabolator pada setiap akhir suatu siklus, untuk mengetahuai kesesuaian rencana putaran tersebut dengan mengkaji hasil tindakan dan masalah yang dihadapi.
5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara bagaimana dapat diperolehnya data mengenai variabel-variabel tertentu (Suharsimi Arikunto, 1998:137). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsimi Arikunto, 1996:145). Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian (Nurul Zuriah, 2001:132). Pedoman observasi berisi sebuah jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observer/pengamat tinggal
memberikan tanda pada kolom tempat peristiwa muncul (suharsimi Arikunto, 1996:146).
b. Wawancara
Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara peneliti dengan subyek responden. Wawancara dilakukan dengan melibatkan beberapa guru dan siswa (Suharsimi Arikunto, 2006:227)
c. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 1996:138). Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan guru kepada peserta didiknya, dalam jangka waktu tertentu (Haryanto,2003:273). Tes ini berfungsi untuk mengukur tingkat perkembangan kemajuan yang telah dicapai peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajardalam jangka waktu tertentu ( Anas Sadijono, 2005:67).
6. Instrumen Penelitian
Arti konsep instrumen dalam penelitian adalah alat ukur. Instrumen penelitian dapat mengumpulkan data sebagi alat untuk menyatakan besaran atau presentase. Data hasil pengukuran dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif (Mardalis, 2006:60). Instrumen yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Non tes
a. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran geografi. Observasi berupa lembaran yang berisi aspek-aspek keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dikelas.
b. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada responden. Wawancara dilakukan pada guru sebagai pelaksana model pembelajaran kooperatif dan beberapa siswa sebagai subyek dalam penelitian geografi.
2. Tes
Tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program (Suharsimi Arikunto, 2003:33). Tes yang diberikan kepasa siswa adalah tes formatif. Tes dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai media pembelajaran secara menyeluruh setelah diterapkannya media pembelajaran berbentuk model.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini didasarkan pada refleksi tiap tindakan. Analisis dilakukan dengan cara peneliti bersama guru merefleksi hasil observasi bersama guru dan siswa dikelas. Hasil observasi yang berupa data kualitatif kemudian dideskripsikan dengan langkah-langkah yang pertama reduksi data kemudian yang kedua penyajian data dan yang terakhir penyimpulan. Hal ini mengacu pada pendapat Suwarsih Madya (1994:33) yang menyatakan bahwa melalui refleksi akan didapatkan wawasan otentik yang akan membantu dala penafsiran data secara kualitatif.
Data dalam penelitian tindakan kelas ada dua macam. Cara analisisnya adalah:
1) Data kuantitatif (hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara deskiptif. Misalnya mencari rerata (mean), presentase keberhasilan belajar dan lain-lain.
2) Data kualitatif yaitu data yangmemberi gambaran berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa tentang pemahaman suatu pelajaran, pandangan atau sikap siswa terhadap model belajar, dan aktivitas siswa mengikuti pelajaran, perhatian, antusian dalam belajar, kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa.
saat ini seminar tak lg sesuai dg makna terdahulu. Saat ini seminar hanya mengacu pada dskusi/kuliah yaitu membaca makalah,presentasi, pembanyaran(money), sertifikat. Karena orang hanya ingin mengejar praktis dan keuntungan. Biasanya penyaji hanya membacakan/menyampaikan isi makalah kemudian yang terakhir diadakan sesi tanya jawab. Padahal makna yang sebenarnya, seminar adalah membahas sesuatu yang aktual dalam masyarakat kemudian menghasilkan keputusan bersama2 dan digunakan untuk kebijakan untuk beberapa lembaga.
Seminar “merupakan pembahasan yang bersifat ilmiah (kritis) terhadap masalah tertentu” masalah yang dibahas berkaitan dengan kehidupan sehari2 dan akurat.
Tujuan utama dari seminar adalah untuk mencari pedoman2/pemecahan masalah2 tertentu, oleh karena itu seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan2 dan keputudan2 yang merupakan hasil pembulataan pendapat semua peserta. Bahkan seminar dapat menghasilkan rekomendasi atau saran untuk menerima sesuatu dan resolusi ( keputusan dan usul)
tata cara seminar yg baik&benar,
1. Seminar dimulai dg sidang pleno, artinya semua peserta hadir bersama dalam ruang yang sama. Kemudian pemimpin sidang menyampaikan arah atau teknik jalannya diskusi serta tata tertib persidangan dan tujuan serta bahan pokok diskusi.
2. Seminar juga dapat dimulai dengan menutarakan pandangan2 umum oleh orang-orang yang dianggap berkompeten untuk meletakkan garis2 pemikiran selanjutnya.
3. Pemakalah menyampaikan han out secara singkat, yang poko2. Apabila kertas sudah diperbanyak dan dibagiakan kepada peserta.pemakalah tidak perlu membacakan isi materi secara lengkap karena masalah akan dibahas dalam kelompok2.
4. Peserta dibagi menurut kelompok2 ttt. Misal berdasarkan bidang keahliannya untuk melakukan diskusi kelompok,sehingga dapat meninjau masalah itu dari berbagai kelompok untuk memperoleh keputusan bersama. Di dalam kellompok tersebut dilakukan pembahasan secara mendalam terhadap makalah2 yang sudah diterima. Dalam setiap kelompok di bentuk ketua dan sekertaris. Tugas ketua untuk mengatur dan mengarahkan jalannya diskusi. Ketua kelompok dapat sewaktu2 membuat kesimpulan dan ikhtisar kemajuan kelompok. Tugas sekertaris adl umencatat berbagai pendapat dan kesimpulan kelompok.
5. Setelah diskusi kelompok selesai, peserta berkumpul kembali dalam rapat pleno. Masing2 kelompok membacakan hasil diskusi dan dengan kelompok lain membandingkan hasil diskusi mereka.
6. Laporan tertulis hasil diskusi sikumpulkan ke pemimpin sidang. Lap tertulis tsb akan menjadi bahan dalam sidang selanjutnya yang dilakukan oleh tim perumus yang telah dirunjuk.
7. Apabila tim perumus telah berhasil melaksanakan tugasnya, maka dapat diadakan rapat paripurna. Pada kesempatan itu tim perumus membacakan keputusan hasil seminar.
Organisasi dalam seminar
1. Organizing comite (panitia penyelenggara)
Panitia yang bertanggung jawab atas kesalahan penyelenggaraan dan keberhasilan seminar. Oleh karena itu susunan anggota panitia inti lebih kompleks dan lebih lengkap. Disamping panitia inti terdapat sie2 jg.
2. Steering comite (panitia penyelenggara)
Panitia ini bertanggung jawab atas jalannya seminar pada waktu persidangan. Susunan kepanitiaan terdiri dari ketua sidang, sekertaris, dan operator sidang. Ketua sidang bertanggung jawab atas kelancaran sidang. Bersama sekretaris menyusun tata tertib sidang, pembagian kelompok, menetapkan tim perumus dan menghimpun hasil seminar
Dalam sidang kelompok dapat dilaksanakan:
a. Menerima makalah sepenuhnya
b. Menerina dg tambahan /perubahan
c. Menolak makalah yang disajikan
d. Menyampaikan rekomendasi dan resolusi
Mekanisme seminar kelas
1. Kelas dibagi mjd 4 kelompok. Masing2 ditunjuk ketua dan sekertaris pada tiap kelompok
2. Setiap mahasiswa menyiapkan makalah (proposal penelitian) rangkap 4 ( mahasiswa sendiri, untuk dosen, dan 2 untuk kelompok.
3. Setiap kali pertemuan 2 mahasiswa presentasi.
4. Setiap makalah dibahas 2 kelompok.
5. Hasil sidang dibacakan dalam sidang paripurna, lalu diserahkan kepada pemimpin sidang.
6. SC steering comite diambil dari kelompok yang tidak presentasi.
7. Alokasi waktu 100 menit
• Presentasi 2 mahasiswa 30 menit
• Sidang kelompok 40 menit
• Sidang paripurna 30 menit dan komentar dosen
PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBENTUK MODEL DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 2 MAGELANG
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sudah semakin kompleks. Peningkatan mutu pendidikan menjadi suatu tantangan bagi para pekerja dibidang pendidikan khususnya guru. Ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesatnya menuntut guru untuk lebih pintar dan profesional dalam menyampaikan pesan kepada peserta didik. Guru harus mampu membuat pelajaran menarik dan mudah diterima oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
Salah satu cara untuk meningkatkan perhatian, minat dan motivasi belajar siswa diantaranya melalui penggunaan media pembelajaran. Selama ini media yang digunakan dalam proses pembelajaran geografi hanya sebatas peta dan globe. Padahal dilingkunagn sekitar, terdapat berbagai benda atau gejala yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya kreatifitas guru, media yang tersedia disekolahan belum lengkap, sedangkan dana pengadaannya tidak tersedia.
Kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh iklim belajar yang dikembangkan guru dan kemampuan serta ketepatan guru dalam memilih metode dan menggunakan media dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran geografi, pada umumnya guru masih menggunakan model pembelajaran yang kurang mampu merangsang siswa belajar sehingga keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar masih kurang. Guru masih banyak menggunakan metode ceramah dengan model pembelajaran masih tradisional dalam penyampaian materi dan penggunaan media pun kurang. Hal ini menyebabkan suasana belajar menjadi monoton dan membosankan, sehingga hasil belajar geografi rendah. Salah satu cara meningkatkan motivasi dan minat siswaadalah melalui model pembelajaran yang menyenangkan, dimana siswa mengalami pembelajaran, berlatih dan menjadikan isi pelajaran bagi mereka.
Peneliti memilih kelas XI IPS 1 ini karena berdasarkan hasil prasurvei, kelas ini adalah kelas yang paling rendah nilai rata-rata kelasnya dibandingkan dengan kelas yang lain dan kurang aktif dalam mengikuti pelajaran dikelas. Minat belajar siswa kelas tersebut terhadap pelajaran geografi juga masih rendah. Selain itu penggunaan media pembelajaran berbentuk model belum diterapkan dalam proses pembelajaran geografi di SMA negeri 2 Magelang. Sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang penerapan penggunaan media pembelajaran berbentuk model untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 2 Magelang.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan sebelumnya dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:
a. Kurangnya penerapan media pembelajaran khususnya berbentuk model dalam pembelajaran geografi.
b. Pembelajaran geografi di SMA negeri 2 Magelang kurang optimal.
c. Siswa kurang berperan aktif dalam mengikuti pembelajaran geografi.
d. Masih rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran geografi.
3. Pembatasan Masalah
Mengingat adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga serta kemampuan peneliti, maka penelitian akan dibatasi pada masalah kurangnya penggunaan media pembelajaran khususnya media pembelajaran berbentuk model dan belum optimalnya hasil belajar siswa di SMA negeri 2 Magelang.
4. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pengaruh penerapan media pembelajaran berbentuk model terhadap hasil belajar dalam pembelajaran geografi SMA negeri 2 Magelang?
b. Apakah dengan menggunakan media pembelajaran berbentuk model dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMA negeri 2 Magelang?
5. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas keefektifan penggunaan media pembelajaran berbentuk model dalam upaya peningkatan hasil belajar geografi bagi siswa di SMA negeri 2 Magelang.
6. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
1) Menambah referensi mengenai penelitian pendidikan pendidikan di bidang geografi.
2) Dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang pendidikan.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi guru
a) Memberi wawasan tenrang keefektifan media pembelajaran berbentuk model.
b) Meningkatkan kinerja guru geografi dalam proses pembelajaran.
2) Bagi siswa
a) Dapat meningkatkan keaktifan siswa.
b) Meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap mata pelajaran geografi.
c) Meningkatkan pengetahuan siswa tentang fenomena-fenomena geografi yang terjadi di lingkungan sekitar.
C. KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
1. Landasan Teori
a. Hakikat Geografi
Bintarto (1977) mengemukakan bahwa geografi adalah ilmu yang mencitrakan, menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam penduduk serta mempelajari corak khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.
Kajian geografi ( Nursid Sumaatmadja, 2001:11-12) mencakup:
1. Permukaan bumi (geosfer).
2. Alam lingkungan, atmosfer (lapisan udara), litosfer (lapisan air; perairan), dan biosfer (lapisan kehidupan).
3. Umat manusia dan kehidupannya (antroposfer).
4. Penyebaran keruangan gejala alam dan kehidupan termasuk persamaan dan perbedaan.
5. Analisis hubungan keruangan, gejala-gejala geosfer depermukaan bumi.
b. Hakikat Belajar dan Pembelajaran Geografi
Belajar adalah memahami hal-hal baru dan mengetahui cara-cara yang lebih baik untuk melakuakan banyak hal (Hubbard, 2003:5). Menurut Martinis Yamin, (2003:97) belajar merupakan proses seseorang memperoleh kecakapan, ketrampilan dan sikap.
Hamzah B. Uno (2006:2-1) mengatakan pembelajaran pada hakikatnya adalah perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk pembelajaran siswa. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa dan bukan apa yang dipelajari siswa. Pembelajaran lebih menekankan bagaimana cara untuk mencapai tujuan belajar meskipun tidak dapat dilupakan cara mengorganisasikan pembelajaran dan bagaimana menata interaksi antara sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
c. Hasil belajar
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004:102). Menurut Winarno Surahmad (1997:88) Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku.
d. Media Pembelajaran Geografi
1) Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Media adalah pengantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sementara Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat atau fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti buku, film, video dan sebagainya. (Arief S. Sardiman, 2003:6)
2) Manfaat Media dalam Pembelajaran
Secara khusus manfaat media pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh kemp dan dayton (1985), yaitu:
1) Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan.
2) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik.
3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4) Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5) Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
6) Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
7) Sikap positif siswa terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif dan produktif.
e. Media Pembelajaran Berbentuk Model
Pemanfaatan media realia dalam proses pembelajaran merupakan cara yang cukup efektif, karena dapat memberika informasi yang lebih akurat. Walaupun tidak semua benda nyata dapat digunakan sebagai media realita karena keterbatasan penyediaannya, misalnya karena ukuran ataupun biayanya. Alternative pemanfaatan media yang menyerupai tealita adalah model. Menurut Brown (1985) model didefinisika sebagai benda nyata yang dimodifikasikan; Heinich et al., (1996) menyebutkan hal yang senada, yaitu gambaran yang berbentuk tiga dimensi dari sebuah benda nyata.
Model Amir Hamzah (1989:136) model sebagai sesuatu yang dibuat dengan ukuran tiga dimensi, sehingga menyerupai benda aslinya untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda sebenarnya. Menurut Sardiman (1997:35) macam-macam model antara lain :
1) Model Irisan
Yaitu model yang memperjelas pengertian tentang obyek (benda) misalnya lapisan tanah, gunung berapa dan lain-lain.
2) Model Memperkecil atau memperbesar obyek
Yaitu model ini digunakan untuk memperjelas suatu obyek yang terlalu besar untuk dibawa kemuka kelas seperti miniature dan lain-lain.
3) Model lapangan
Yaitu model yang digunakan untuk menjelaskan suatu lingkungan atau daerah tertentu, seperti daerah perumahan, pelabuhan dan lain-lain.
4) Model menyederhanakan obyek yang komplek
Yaitu model yang dipakai untuk menjelaskan suatu komplek dan membingungkanyang disebabkan oleh liku-likunya kawat, tali, pipa, dan peralatan lainyang berhubungan cara kerja mesin yang bersangkutan.
Model adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dan dipelajari siswa dalam wujud aslinya.
Kerangka Berfikir
Pembelajaran adalah suatu kegiatan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan ini akan mempengaruhi cara seorang guru dalam menyampaikan pelajaran, baik mengenai metode atau media yang digunakan. Peran metode ataupun media merupakan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran. Hal tersebut akan membantu mencapai tujuan belajar yang telah direncanakan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar.
Pembelajaran akan efektif jika siswa dapat memaknai pesan atau meteri dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut bertujuan agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang digunakan untuk mencapaitujuan tersebut adalah dengan menerapkan media pembelajaran berbentuk model.
Media pembelajaran berbentuk model ini dapat digunakan sebagai alternatf dalam proses belajar mengajar geografi. Karekteristik geografi menitikberatkan kajiannya pada fenomena geosfer yang berupa lingkungan fisik dan aspek manusia. Pemahaman terhadap lingkungan sekitardan aspek manusia dapat dialami secara nyata oleh siswa. Sehingga dengan menerapkan media pembelajaran berbentuk model ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Bagan 1. Kerangka Berfikir
2. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir maka hipotesis dapat dirumuskan bahwa penggunaan media pembelajaran berbentuk model pada mata pelajaran geografi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 2 Magelang.
D. METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru kekelas atau disekolah tempat ia mengajar dengan penekana pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran. (Suharsimi Arikunto, 2006:96).
Secara garis besar, penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart terdiri dari empat aspek pokok, yaitu:
a. Penyusunan rencana
b. Tindakan
c. Observasi
d. Refleksi
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Negeri 2 Magelang dengan sasarannya yaitu proses pembelajaran kelas XI IPS 1 yang meliputi siswa guru dan media pembelajaran berbentuk model. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dikelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Magelang pada bulan Januari 2010 sampai Maret 2010.
3. Variabel dan Definisi Operasional Variabel.
Variabel merupakan hal-hal yang menjadi obyek penelitian yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian (points to be niticed) yang menunjukkan variasi, baik kuantitatif maupun kualitatif (Suharsimi Arikunto, 2006:10). Variabel dalam penelitian ini meliputi penggunaan media pembelajaran berbentuk model, hasil belajar siswa dan pembelajaran geografi.
Definisi operasional dari variabel-variabel tersebut adalah sebagi berikut:
1. Penggunaan media pembelajaran berbentuk model.
Pengguanaan media pembelajaran berbentuk model adalah suatu proses pembelajaran yang menggunakan benda dalam tiga dimensi, dalam ukuran yang dapat diperbesar dan diperkecil dari benda aslinya dan digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda sebenarnya dan digunakan untuk menerangkan begian benda yang dianggap perlu.
2. Hasil belajar siswa
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang yang dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata-mata pelajaran yang ditempuhnya dan dilambangkan dengan angka atau huruf, misalnya angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah serta huruf A, B, C, D pada pendidikan tinggi. Dalam penelitian ini hasil belajar merupakan nilai dari ulangan siswa.
3. Pembelajran Geografi
Pembelajaran geografi merupakan pembelajaran tentang hakikat geografi yang diajarkan di sekolah dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak pada jenjang pendidikan masing-masing.
4. Rencana Tindakan
Kegiatan penelitian tindakan kelas ini meliputi tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, observasi serta refleksi.
a. Persiapan
1) Pra survei dan penjajagan
Pra survei dan penjajagan dilakukan secara langsung untuk mengetahui kemungkinan dan kesediaan sekolah yang bersangkutan untuk dijadikan tempat penelitian. Tujuan survei adalah untuk mengetahui proses pembelajaran dikelas dan menemukan permasalahan yang ada dikelas.
2) Perijinan
Perijinan diperoleh dari rekomendasi lembaga terkait untuk menerjunkan ke lapangan. Perijinan ini dimulai dari FISE UNY, BAPEDA Jawa Tengah, BAPEDA Kota Magelang, Dinas Pendidikan Kota Magelang, kemudian ke SMA Negeri 2 Magelang.
b. Perencanaan
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari dua siklus/putaran dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Peneliti dan kolaborator membuat rencana pembelajaran serta menentukan media pembelajaran berbentuk model dalam proses pembelajaran.
Perencanaan Tindakan antara lain:
• Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang materi yang akan dilaksanakan
• Menyiapkan media pembelajaran berbentuk model dan sumber belajar
• Mempersiapkan soal tes yang akan diberikan pada akhir masing-masing siklus.
c. Tindakan dan Observasi
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti berkolaborasi dengan guru geografi di SMA Negeri 2 Magelang. Sebagai pelaku tindakan adalah guru setempat sedangkan sebagai observer adalah peneliti.
d. Refleksi
Refleksi dilaksanakan bersama antara peneliti dengan kolabolator pada setiap akhir suatu siklus, untuk mengetahuai kesesuaian rencana putaran tersebut dengan mengkaji hasil tindakan dan masalah yang dihadapi.
5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara bagaimana dapat diperolehnya data mengenai variabel-variabel tertentu (Suharsimi Arikunto, 1998:137). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsimi Arikunto, 1996:145). Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian (Nurul Zuriah, 2001:132). Pedoman observasi berisi sebuah jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observer/pengamat tinggal
memberikan tanda pada kolom tempat peristiwa muncul (suharsimi Arikunto, 1996:146).
b. Wawancara
Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara peneliti dengan subyek responden. Wawancara dilakukan dengan melibatkan beberapa guru dan siswa (Suharsimi Arikunto, 2006:227)
c. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 1996:138). Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan guru kepada peserta didiknya, dalam jangka waktu tertentu (Haryanto,2003:273). Tes ini berfungsi untuk mengukur tingkat perkembangan kemajuan yang telah dicapai peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajardalam jangka waktu tertentu ( Anas Sadijono, 2005:67).
6. Instrumen Penelitian
Arti konsep instrumen dalam penelitian adalah alat ukur. Instrumen penelitian dapat mengumpulkan data sebagi alat untuk menyatakan besaran atau presentase. Data hasil pengukuran dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif (Mardalis, 2006:60). Instrumen yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Non tes
a. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran geografi. Observasi berupa lembaran yang berisi aspek-aspek keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dikelas.
b. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada responden. Wawancara dilakukan pada guru sebagai pelaksana model pembelajaran kooperatif dan beberapa siswa sebagai subyek dalam penelitian geografi.
2. Tes
Tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program (Suharsimi Arikunto, 2003:33). Tes yang diberikan kepasa siswa adalah tes formatif. Tes dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai media pembelajaran secara menyeluruh setelah diterapkannya media pembelajaran berbentuk model.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini didasarkan pada refleksi tiap tindakan. Analisis dilakukan dengan cara peneliti bersama guru merefleksi hasil observasi bersama guru dan siswa dikelas. Hasil observasi yang berupa data kualitatif kemudian dideskripsikan dengan langkah-langkah yang pertama reduksi data kemudian yang kedua penyajian data dan yang terakhir penyimpulan. Hal ini mengacu pada pendapat Suwarsih Madya (1994:33) yang menyatakan bahwa melalui refleksi akan didapatkan wawasan otentik yang akan membantu dala penafsiran data secara kualitatif.
Data dalam penelitian tindakan kelas ada dua macam. Cara analisisnya adalah:
1) Data kuantitatif (hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara deskiptif. Misalnya mencari rerata (mean), presentase keberhasilan belajar dan lain-lain.
2) Data kualitatif yaitu data yangmemberi gambaran berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa tentang pemahaman suatu pelajaran, pandangan atau sikap siswa terhadap model belajar, dan aktivitas siswa mengikuti pelajaran, perhatian, antusian dalam belajar, kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa.
Langganan:
Postingan (Atom)
