PEMBELAJARAN
Secara umum dan luas,
Cara yang dipakai oleh pengajar, ahli kurikulum, perancang bahan, dan lain-lain, yang bertujuan untuk mengembangkan rencana yang terorganisir guna keperluan belajar” (Gagne, 1979: 19).
Secara khusus kegiatan pembelajaran sering dianggap sama dengan mengajar atau memberi kuliah.
STRATEGI
Arief S. Sadiman, 1983/1984: 130).
Dalam arti sempit, strategi identik dengan metode atau teknik, yaitu cara menyampaikan isi pesan kepada audience (learner) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
Sedangkan secara luas stretegi bisa mencakup antara lain metode, pendekatan, pemilihan sumber-sumber (termasuk medianya) pengelompokan siswa/mahasiswa dan pengukuran keberhasilannya.
STRATEGI PEMBELAJARAN
Romiszowski (1981: 292) merinci Strategi Pembelajaran ke dalam empat tingkatan metode pembelajaran.
1. strategi pembelajaran,
2. rencana pembelajaran,
3. taktik pembelajaran, dan
4. latihan-latihan pembelajaran
Di dalam Strategi Pembelajaran terkandung empat pengertian
1. Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan pengajar dalam menyampaikan isi pelajaran kepada pembelajar/siswa/ mahasiswa.
2. Metode pembelajaran, yaitu cara pengajar mengorganisasikan materi pelajaran dan pembelajar/siswa/mahasiswa, agar menjadi proses belajar yang efektif dan efisien
3. Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan pengajar dan pembelajar/siswa/mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran
4. Waktu yang digunakan oleh pengajar dan pembelajar/siswa/mahasiswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pembelajaran dan mahasiswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.
Komponen RPP
l Sebagai pengembangan lebih lanjut dari Silabus
l Komponen RPP terdiri dari:
1. Identitas mata pelajaran.
2. Kompetensi dasar.
3. Materi pokok/penggalan materi.
4. Indikator ketercapaian kompetensi.
5. Kegiatan pembelajaran.
6. Penilaian.
7. Sumber bahan / referensi
Metode Pembelajaran?
“Cara menyajikan pembelajaran/ perkuliahan untuk mencapai kompetensi Matapelajaran/Matakuliah”
MODEL PEMBELAJARAN
Beberapa Model Pembelajaran Inovatif
1. Pembelajaran Kooperatif (CL: Cooperative Leraning)
2. Pembelajaran Kontekstual (CTL: Contextual Teaching and Learning)
3. Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL: Problem Based Learning)
4. Pembelajaran Tuntas (ML: Mastery Learning)
5. Pembelajaran Berbasis Komputer (CAI:Computer Based Instruction atau CAI)
Metode Pembelajaran Alternatif
1. Ceramah 11. Computer Assissted Instruction
2. Demonstrasi 12. Insiden
3. Penampilan 13. Praktikum dan Praktik Lapangan
4. Diskusi/tanya jawab 14. Proyek
5. Studi Mandiri 15. Bermain Peran
6. Kegiatan Pemblj Terprogram 16. Seminar
7. Latihan 17. Simposium
8. Simulasi 18. Tutorial
9. Sumbang Saran 19. Deduktif
10. Studi Kasus 20. Induktif
Metode Ceramah
Keunggulan
cepat menyampaikan informasi
banyak informasi yang disampaikan dalam waktu singkat
menjangkau banyak audiens/siswa
Kelemahan
komunikasi satu arah
sukar memenuhi kebutuhan individu
proses pembelajaran berpusat pada guru
Metode Diskusi
Keunggulan
ada interaksi antara dosen-siswa, siswa-siswa
dapat menilai penguasaan konsep siswa
dapat melihat reaksi siswa terhadap ide-ide baru
Kelemahan
tidak efektif bila siswa belum menguasai konsep dasar
memerlukan banyak waktu
Metode Demonstrasi
• Konsep yang diajarkan menjadi lebih nyata
• Kesamaan pengertian terhadap suatu konsep
• Cocok untuk mengajar keterampilan
Pelaksanaan:
• Ada prosedur tertulis untuk siswa
• Pelaksana demonstrasi siap dan terampil
Sumbang Saran
Memotivasi siswa untuk:
• Berpartisipasi aktif memberikan pendapat
• Menghargai pendapat orang lain
SIMULASI
Memotivasi siswa untuk:
Memahami perasaan orang lain
Memecahkan masalah bersama
Mengambil keputusan
Mengembangkan kreativitas
Media
Segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber ke penerima informasi
Manfaat Media Dalam PBM
Penyampaian materi dapat diseragamkan
• Proses instruksional lebih menarik
• Proses belajar lebih interaktif
• Jumlah waktu belajar-mengajar dapat dikurangi
• Kualitas belajar dapat ditingkatkan
• Proses belajar dapat terjadi kapan dan di mana saja
• Meningkatkan sikap positif mahasiswa terhadap proses dan bahan belajar
• Peran dosen berubah ke arah positif dan produktif
PEMILIHAN MEDIA INSTRUKSIONAL
Syarat Pengembangan Media
visible : Mudah dilihat
interesting : Menarik
simple : Sederhana
useful : Isinya berguna/bermanfaat
accurate : Benar (dapat dipertanggungjawabkan)
legitimate : Masuk akal/sah
structured : Terstruktur/tersusun dengan baik
ASPEK ISI/MATERI
Standar Kompetensi sesuai dengan Kurikulum yang berlaku
Materi sesuai dengan Kompetensi Dasar
Kedalam materi cukup
Penyajian materi berurut
Penilaian/tes sesuai dengan indikator
ASPEK PEMBELAJARAN /INSTRUKSIONAL
1. Bahasa mudah dipahami
2. Kejelasan petunjuk belajar
3. Kejelasan pemahaman materi
4. Pemberian contoh sesuai dengan materi
5. Pemberian umpan balik memberi motivasi
6. Kecukupan latihan
7. Kecukupan Waktu Penyajian
ASPEK TEKNIS/PEMEDIAAN
Keterbacaan teks
Kualitas tampilan gambar
Sajian animasi
Pemilihan komposisi warna
Kejelasan suara/narasi
Daya dukung musik
Tampilan layar
Pemilihan jenis dan ukuran font
MODEL PEMBELAJARAN OPEN SOURCE
Konsep dan definisi Open Source
Pada intinya konsep sumber terbuka adalah membuka "kode sumber" dari sebuah perangkat lunak. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan kode sumber merupakan kunci dari sebuah perangkat lunak. Dengan diketahui logika yang ada di kode sumber, maka orang lain semestinya dapat membuat perangkat lunak yang sama fungsinya. Sumber terbuka hanya sebatas itu. Artinya, dia tidak harus gratis. Definisi sumber terbuka yang asli adalah seperti tertuang dalam OSD (Open Source Definition)/Definisi sumber terbuka.
Sumber terbuka (open source) adalah sistem pengembangan yang tidak dikoordinasi oleh suatu individu atau lembaga pusat, tetapi oleh para pelaku yang bekerja sama dengan memanfaatkan kode sumber (source-code) yang tersebar dan tersedia bebas (biasanya menggunakan fasilitas komunikasi internet). Pola pengembangan ini mengambil model ala bazaar, sehingga pola Open Source ini memiliki ciri bagi komunitasnya yaitu adanya dorongan yang bersumber dari budaya memberi, yang artinya ketika suatu komunitas menggunakan sebuah program Open Source dan telah menerima sebuah manfaat kemudian akan termotivasi untuk menimbulkan sebuah pertanyaan apa yang bisa pengguna berikan balik kepada orang banyak.
Pola Open Source lahir karena kebebasan berkarya, tanpa intervensi berpikir dan mengungkapkan apa yang diinginkan dengan menggunakan pengetahuan dan produk yang cocok. Kebebasan menjadi pertimbangan utama ketika dilepas ke publik. Komunitas yang lain mendapat kebebasan untuk belajar, mengutak-ngatik, merevisi ulang, membenarkan ataupun bahkan menyalahkan, tetapi kebebasan ini juga datang bersama dengan tanggung jawab, bukan bebas tanpa tanggung jawab.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_terbuka
Pengajaran Open Source di Sekolah
Lewat dukungan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) memungkinkan pendistribusian ilmu pengetahuan di sekolah menggunakan konsep pengajaran elektronik (e-learning). Buku-buku pelajaran dapat diunduh secara langsung lewat secara gratisan, misalnya melalui situs bse.depdiknas.edu. Departemen Pendidikan Nasional juga telah meluncurkan Proyek Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) sehingga teknologi interkoneksi (internet) dapat dimanfaatkan di sekolah-sekolah.
Namun, permasalahan lanjutan yang muncul adalah program-program di atas menyerap dana yang besar, terutama pada pos pembelanjaan sistem operasi (operating system) ataupun aplikasinya sehingga sebagian besar sekolah menggunakan produk bajakan. Data BSA mencatat Indonesia sebagai negara pembajak terbesar ke-3 di dunia dengan tingkat pembajakan hingga 87 prosen.
Tindakan pembajakan di lembaga pendidikan, seperti sekolah, jelas sangat ironis. Apapun alasannya, pembajakan merupakan tindakan kriminal dan pelanggaran hukum. Untuk menyiasati keterbatasan dana, solusi tepatnya adalah penggunaan perangkat lunak bebas dan sumber terbuka (Free and Open Source Sofware), sebut saja Linux. Terlebih, salah satu distro Linux, Ubuntu, telah mengeluarkan versi khusus untuk pendidikan, yakni Edubuntu.
Keunggulan FOSS sangat banyak, antara lain FOSS merupakan sistem operasi yang bebas atau gratis (free) dan terbuka bagi siapa saja yang ingin mengembangkannya (open source). FOSS juga tidak mengenal istilah virus, sebab ia sistem in dikerjakan secara bersama-sama oleh jutaan ilmuwan komputer di seluruh dunia.
Mengapa FOSS bisa didapatkan secara gratisan? Prinsipnya, FOSS itu free as in freedom, not free as beer. FOSS itu seperti ilmu logaritma, aljabar, phytagoras, dan hukum yang ada di fisika, kimia, matematika, yang tidak pernah dipatenkan oleh pembuatnya. Kesalahan kegiatan belajar-mengajar selama ini adalah guru sering mengenalkan produk (merek) bukan subtansi. Guru mengenalkan Windows, bukan mengenalkan sistem operasi. Apabila guru bisa mengajarkan substansi maka dunia pendidikan akan sadar bahwa kebiasaan menggunakan perangkat lunak berpemilik (propertary) akan menciptakan ketergantungan.
Dalam platform FOSS tersedia berbagai aplikasi yang memiliki fungsi serupa dalam plafform Windows. Untuk aplikasi kantoran tersedia Open Office, untuk aplikasi grafis ada GIMP, Inkscape, Scribus, dan untuk aplikasi audio-video ada XMMS, Audacity, Audacious, Amarok, Kafeein, dan untuk animasi ada Blender. Untuk aplikasi pendidikan kita bisa menggunakan Stellatorium untuk pelajaran perbintangan/astronomi.
Semua aplikasi dapat diunduh dan digunakan secara gratisan. Dukungan FOSS pada dunia pendidikan membuat aktivitas belajar-mengajar semakin menarik. Mata pelajaran yang selama ini dipandang sulit akan terasa mudah dengan adanya fasilitas pemodelan dan gambar yang disediakan oleh perangkat lunak pendidikan di FOSS. Para siswa juga terbiasa dengan tradisi berbagi sehingga tercipta percepatan dalam pengembangan keilmuan.
http://cilacap-online.com/teknologi/115-jardiknas-dan-pengajaran-open-source-di-sekolah.html
Aplikasi Open Source Pada Dunia Pendidikan Indonesia
Resesi global yang sedang terjadi sekarang ini telah mempengaruhi berbagai organisasi baik organisasi bersifat profit oriented maupun non profit. Kondisi perekonomian yang terjadi memang paling berpengaruh untuk organisasi bersifat profit oriented, tetapi bagi organisasi yang bersifat non-profit pemotongan biaya tetap banyak dilakukan untuk mengimbangi kenaikan harga yang terjadi seperti di Indonesia yang diakibatkan oleh salah satunya penurunan nilai tukar rupiah.
Apabila dicermati dari sudut pandang teknologi informasi,di era kompetisi global seperti sekarang ini, sistem informasi adalah salah satu bagian dari tulang punggung korporat, yang bisa menjadi salah satu ukuran kompetitif atau tidaknya sebuah perusahaan. Begitu vitalnya jaringan komputer ini, sehingga kegagalannya akan berakibat hilangnya produktivitas serta kerugian finansial. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin tetap kompetitif menginginkan sebuah sistem informasi yang dapat diandalkan, serta mampu bekerja optimal dengan tingkat kegagalan serendah mungkin ditambah memiliki biaya kepemilikan total (instalasi dan perawatan) yang rendah sehubungan dengan adanya pemotongan anggaran untuk kebutuhan ini. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan yang mulai mencari solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan sistem informasi mereka.
Dengan pertimbangan hal tersebut, kini banyak organisasi yang mulai melakukan aplikasi sistem berbasis open source, karena open source (OSS) menyediakan berbagai aplikasi yang ditawarkan dengan harga murah bahkan tidak jarang gratis, dan dapat dilakukan penyesuaian dengan kebutuhan perusahaan karena terbukanya kode dalam software yang dapat dirubah, dan membuka kesempatan untuk mengembangkan aplikasi yang dilakukan bersama-sama dengan komunitas yang juga pastinya akan mengurangi biaya IT dari perusahaan tersebut. Penghematan biaya akan sangat dirasakan oleh perusahaan dengan kebutuhan IT yang kompleks. Sebagai contoh kasus dari Sun Microsystem yang dapat dikatakan merupakan perusahaan penyumbang kode Open Source terbesar. Misalkan, ada sebuah perusahaan, dengan kira-kira 1000 pegawai, menjalankan bisnisnya dengan 20 dual-core server aplikasi dan 10 dual-core server basis data. Jika perusahaan tersebut menggunakan aplikasi proprietary (dalam hal ini WebLogic Enterprise & Oracle Enterprise), maka perusahaan tersebut akan mengeluarkan dana sebesar U$3,237,000 selama 3 tahun. Sedangkan jika perusahaan mengunakan aplikasi Open Source (dalam hal ini Glassfish Enterprise Server & MySQL Enterprise Gold), maka perusahaan tersebut hanya akan mengeluarkan dana sebesar US$240,000. Detail perhitungan dapat di lihat di sini. Beberapa perusahaan Indonesia yang telah memulai aplikasi sistem informasi berbasis Open Source diantaranya adalah PT. Telkom dan Kompas.
• Open Source dan Dunia Pendidikan
Untuk melakukan aplikasi sistem Open Source maka organisasi perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang siap untuk melakukan perubahan. Dengan kesiapan sumber daya manusia yang dimiliki dan dukungan komunitas, maka organisasi akan semakin terbebas dari ketergantungan terhadap vendor tertentu dan dapat terus menerus memperbaiki sistem informasi yang dimiliki. Untuk kebutuhan persiapan sumber daya manusia ini sebenarnya dapat dimulai dari institusi pendidikan.
Solusi sistem informasi berbasis Open Source seharusnya mulai diperkenalkan pada akademisi, pelajar, dan mahasiswa (under-graduate maupun post-graduate) agar individu-individu tersebut memasuki sebuah organisasi yang mengaplikasikan sistem berbasis Open Source, mereka telah memiliki bekal yang cukup. Pengenalan Open Source di dunia pendidikan juga sejalan dengan deklarasi Indonesia Goes Open Source (IGOS) yang dideklarasikan pada 30 Juni 2004. IGOS adalah keputusan strategis di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dari pemerintah Republik Indonesia melalui lembaga-lembaga terkait yang ditandatangani oleh : Menteri Riset dan Teknologi, Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Kehakiman dan HAM, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Pendidikan Nasional. IGOS adalah sebuah gerakan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah, yang merupakan sebuah ajakan untuk mengadopsi Open Source di lingkungan pemerintah. Meskipun hanya ditandatangani oleh lima kementrian dan departemen, namun implementasinya didukung luas oleh lembaga-lembaga dan departemen lain misalnya Departemen Tenaga Kerja, Depdiknas dan Presiden sendiri, dengan membentuk Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) sebagai penasihat presiden dalam urusan dan keputusan terkait Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia. Deklarasi IGOS bertujuan agar bangsa Indonesia dapat membangun aplikasi peranti lunak komputer yang berkode sumber terbuka, membuat bangsa Indonesia dapat dengan mudah merancang, membuat, merekayasa dan menjual produk intelektual dengan mudah, murah dan tidak tergantung kepada pihak-pihak tertentu yang sewaktu-waktu dapat memaksakan kepentingan terkait dengan kebutuhan dukungan terhadap produk.
Ada dua implikasi dari deklarasi IGOS ini bagi dunia pendidikan. Pertama, dilihat dari ditandatanganinya Deklarasi oleh Menteri Pendidikan Nasional pada waktu itu, secara internal menjadikan Open Source menjadi pilihan bagi departemen terkait. Sedangkan secara eksternal, memberikan perintah tidak langsung bahwa dunia pendidikan sudah menerima Open Source menjadi pilihan sistem operasi maupun aplikasi sehar-hari. Kedua, sektor pendidikan yang sudah stabil mendorong aktivitas pembelajaran, riset dan kemungkinan untuk melakukan migrasi ke Linux. Mulai dari kurikulum perguruan tinggi, mulai dirombak dan didasari oleh dasar kurikulum TIK yang open source, kalau tidak dapat disebut bebas dari pengaruh sistem operasi tertentu. Hingga kegeliat sektor swasta dalam rangka memenuhi kebutuhan SDM TIK berbasis Linux/FOSS. Muncul dan kian berkembang lembaga-lembaga training komputer yang memfokuskan diri dalam menyiapkan sumberdaya manusia yang diperlukan dalam rangka pemenuhan SDM yang memiliki kompetensi dalam bidang TIK yang dibutuhkan.
Selain untuk mempersiapkaan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan bersaing, pengenalan Open Source pada masyarakat terutama di dunia pendidikan dapat mengurangi pembajakan yang terjadi di Indonesia yang dikatakan merugikan negara sampai $3 juta (detik.com)
• Resistensi Open Source Pada Dunia Pendidikan
Yang banyak terjadi di lingkungan pendidikan adalah terjebaknya para pendidik dan siswa/mahasiswa kepada suatu 'produk software' yang terlanjur mendominasi pasar, tidak kepada substansi dasar pendidikan itu sendiri. Jebakan yang paling parah adalah ketika civitas dunia pendidikan mulai menggunakan software ilegal dan akhirnya merasa bahwa hal itu adalah hal yang lumrah padahal itu merupakan hal yang sangat memalukan apalagi di lingkungan pendidikan. Seharusnya di lingkungan pendidikan terjadi apresiasi yang cukup baik terhadap karya intelektual, tetapi yang terjadi malah sebaliknya.
Proses melakukan copy software dengan copyright secara ilegal yang terjadi di kalangan pendidikan bukan tidak mungkin karena para dosen/guru justru dengan sengaja atau tidak sengaja mengarahkan para siswa/mahasiswa untuk melakukan pembajakan software. Penetapan kurikulum mata kuliah yang menjurus kepada suatu produk komersial misalnya, (yang memiliki standar harga tinggi untuk kebanyakan orang) juga bisa menjadi pemicu terjadinya pembajakan software.
Mitos yang mendasari penolakan penggunaan Open Source seperti yang dikemukakan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman adalah :
Pertama, open source dianggap hanya layak digunakan oleh pakar TI, dan kebiasaan serta pengetahuan yang dimiliki mengenai software propietary dirasa sudah cukup untuk melakukan tugas sehingga tidak perlu melakukan proses pembelajaran ulang untuk sebuah sistem baru tanpa mempertimbangkan manfaat yang akan didapat dengan pembelajaran tersebut. Kedua, masih banyak kalangan pebisnis yang mempertanyakan keuntungan dari Open Source. Dengan adanya mitos tersebut, menyebabkan penolakan pada dunia pendidikan karena ditakutkan bahwa output dari dunia pendidikan akan menjadi tidak laku di pasar. Ketiga, masih banyak orang pesimistis terhadap dukungan untuk Open Source, misalnya ketersediaan aplikasi dan hardware yang mendukung. Pada dunia pendidikan muncul anggapan bahwa distro-distro yang ada belum memasukkan paket-paket aplikasi pendidikan.
Mitos-mitos di atas sebenarnya dapat dipatahkan dengan melihat beberapa fakta yang ada, yaitu : Berdasarkan penelitian Ghosh et al (2002) persentasi terbesar dari anggota komunitas Open Source berasal dari rentang umur 10-25 tahun dengan 75,1%. Memang ketika dilihat dari profesi pengguna Open Source masih dikuasai oleh para pakar IT, tetapi pelajar masuk pada peringkat kedua dengan 15,8%.Hal ini menunjukan bahwa pendidikan Open Source dapat dilakukan sejak dini dan pada usia pendidikan formal mulai SD, SMP, SMA, dan Mahasiswa. Open Source tidak hanya melulu milik para pakar IT.
Dengan pertumbuhan kebutuhan sistem informasi saat ini dan terjadinya resesi global, memaksa banyak perusahaan untuk mencari solusi alternatif. Salah satu opsi dari solusi alternatif itu merupakan aplikasi Open Source. Maka akan muncul permintaan dari pasar tenaga kerja untuk ketrampilan dan pengetahuan mengenai Open Source. Ketrampilan dan pengetahuan Open Source dapat menjadi bekal untuk bersaing di dunia kerja karena sumber daya manusia dengan bekal pengetahuan Open Source termasuk dalam 12 kebutuhan IT yang paling dicari.
Kebutuhan Open Source untuk dunia pendidikan saat ini sudah diakomodir dengan adanya distro Linux yang memaketkan aplikasi pendidikan pada sistem operasi mereka. Salah satu contohnya adalah Edubuntu (http://edubuntu.org) yang merupakan produk turunan dari Ubuntu Linux dengan paket aplikasi yang disesuaikan untuk kebutuhan pendidikan mulai dari game untuk TK, hingga kebutuhan aplikasi pengolah data untuk Mahasiswa.
Dukungan yang diberikan oleh Open Source untuk para penggunanya juga dapat diperoleh dengan mudah dengan memanfaatkan dukungan formal dari distro besar (Ubuntu, Debian, Red Hat, dll) dan dukungan dari komunitas pengguna Open Source. Selain itu juga ada support dari beberapa distro linux yang menyediakan program partner untuk kalangan pendidikan, seperti yang ditawarkan Canonical. Dukungan hardware Open Source dapat dilihat dari dukungan Linux terhadap hardware yang beredar di pasaran saat ini. Kemampuan dukungan Linux terhadap hardware tersebut memudahkan pengguna untuk melakukan aplikasi Linux secara luas pada PC.
• Penggunaan Open Source Pada Dunia Pendidikan
Kemampuan sistem Open Source yang sangat terbuka untuk dikembangkan memiliki potensi yang sangat besar dalam pemanfaatan secara luas. Dunia pendidikan di Indonesia seharusnya mulai mempertimbangkan pengenalan dan penggunaan Open Source secara komprehensif pada seluruh fungsi yang layak untuk menggunakan aplikasi Open Source.
Sistem berbasis Open Source dapat digunakan dalam berbagai macam fungsi yang ada di dunia pendidikan. Untuk Administasi dan operasional lembaga pendidikan, Open Source dapat digunakan sebagai basis pembangunan sistem jaringan sehingga akan menghemat biaya IT. Untuk kebutuhan belajar mengajar, Open Source dapat dipergunakan sebagai sarana praktek operasional sistem informasi dan pembelajaran mengenai cara kerja sistem informasi dengan berbagai cara.
Open Source juga dapat berguna sebagai bahan penelitian untuk mengembangkan sebuah aplikasi yang kemudian dapat digunakan untuk masyarakat umum sehingga penggunaan Open Source pada dunia pendidikan akan menguntungkan banyak pihak. Selain itu dengan semakin banyak digunakannya Open Source maka dukungan terhadap pengguna Open Source yang tersedia juga akan semakin banyak. Indonesia masih menduduki peringkat ke 131 di dunia untuk pengguna Open Source dan akan segera disusul oleh Guyana berdasarkan data statistik dari http://counter.li.org/reports/place.php?place=ID.
Sehingga upaya memasyarakatkan Open Source harus legih digalakan untuk mendukung program IGOS, dan support dari kalangan pendidikan sangat dibutuhkan.
Transisi ke sistem berbasis Open Source harus direncanakan dengan baik agar dapat mengantisipasi semua kemungkinan yang akan terjadi. Hal ini dilakukan untuk mencegah penolakan penerapan sistem berbasis Open Source secara lebih kuat karena kegagalan sistem pada awal aplikasi yang disebabkan persiapan yang tidak baik. Selain itu untuk aplikasi sisteem Open Source sebaiknya dimulai dari level server disertai pengenalan dan pendidikan mengenai sistem berbasis Open Source termasuk aplikasi yang digunakan. Untuk kebutuhan belajar mengajar, peserta didik seharusnya dikenalkan secara lebih dekat dengan pemberian materi tentang Open Source, melibatkan dengan praktek langsung penggunaan Open Source dan proyek Open Source yang dilakukan. Transisi ini harus dilakukan dengan komitmen penuh dari seluruh pihak yang terlibat.
• Manfaat Open Source Pada Dunia Pendidikan
Penggunaan sistem berbasis Open Source pada dunia pendidikan akan memberikan manfaat bagi banyak pihak. Manfaat yang dijanjikan oleh Open Source adalah :
1) Memberikan alternative pilihan software desktop yg murah
2) Meningkatkan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang teknologi informasi
3) Memperkecil kesenjangan teknologi informasi
4) Meningkatkan akses informasi masyarakat
5) Meningkatkan kreatifitas dalam mengembangkan dan memanfaatkan informasi teknologi (kreativitas tidak dibatasi oleh software yg ada).
6) Meningkatkan kemampuan sumber daya manusia bidang teknologi informasi (di perguruan tinggi, sekolah, dan masyarakat)
Aplikasi sistem berbasis Open Source memang sudah saatnya dipertimbangkan.
Dimulai dari dunia pendidikan, diharapkan akan memasyarakatkan Open Source agar tidak terjadi ketergantungan dengan suatu vendor tertentu. Selain itu manfaat pemasyarakatan Open Source yang lain adalah memunculkan sumber daya manusia yang lebih siap dalam menghadapi persaingan global, mengurangi pembajakan, menciptakan lapangan pekerjaan dan menghemat pengeluaran negara.
Di Pemerintahan juga sudah dicanangkan dengan adanya Surat Edaran MenPAN Nomor : SE/01/M.PAN/03/2009 tentang “Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal danOpen Source Software (OSS)”, yaitu :
1) Seluruh Instansi Pemerintah diwajibkan menggunakan perangkat lunak open source atau legal.
2) Melakukan monitoring penggunaan perangkat lunak di Instansi.
3) Batas waktu migrasi pada akhir 2011.
Semoga kedepannya Indonesia tidak lagi tergantung pada software luar negeri. Kita bisa buat software yang lebih canggih.
Referensi
http://anggriawan.web.id/2008/11/open-source-solusi-di-masa-krisis.html
http://counter.li.org/reports/place.php?place=ID
http://edubuntu.org
http://rahard.wordpress.com/author/rahard/
http://sewukata.wordpress.com/2008/10/22/perusahaan-open-source-yang-sukses/
http://unggulo.wordpress.com/2008/12/16/deklarasi-indonesia-go-open-source-igos-dan-implikasinya-di-bidang-pendidikan/
http://www.sun.com/software/products/mysql/popup.jsp?info=1
Sowe, Sulayman K. (2002). Emerging Free/Open Source Software Practices: Implications for Business and Education .Aristotle University
Belajar dengan Linux Edubuntu
Seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, komputer dianggap mampu memecahkan permasalahan di atas karena komputer mampu menyediakan media belajar yang efektif dan mengasyikkan. Namun, solusi ini dianggap justru memberatkan. Untuk menyediakan satu unit komputer bukanlah sebuah masalah. Apalagi dengan banyaknya layanan cicilan barang elektronik saat ini. Akan tetapi, permasalahan yang ada terletak pada perangkat lunak (software) yang digunakan untuk media belajarnya.
Harga sebuah perangkat lunak di Indonesia saat ini masih cukup mahal. Kisarannya bisa menembus angka Rp 1 juta. Untuk media pembelajaran dengan komputer, dibutuhkan sekitar 10 hingga 15 perangkat lunak sehingga membutuhkan paling tidak Rp 15 juta. Cara yang dipandang cukup efektif oleh sebagian orang adalah dengan membajak. Tentunya hal ini bukan cara yang bijak. Selain mematikan industri teknologi informasi (TI), pelaku juga bisa dikenai hukuman penjara dan denda yang mencapai jutaan rupiah.
Ubuntu, yang merupakan sebuah varian dari Linux yang bersifat bebas (free/libre) dan sengaja didesain serta dikembangkan untuk keperluan pendidikan di dunia, boleh jadi solusi dari permasalahan di atas. Sistem operasi yang dibangun Ubuntu ini mampu melaju di komputer dengan spesifikasi prosesor minimum 500 MHz dengan Memori Akses Acak (Random Access Memory/RAM) minimum sebesar 128 MB dan ruang kosong minimum di cakram keras (harddisk) sebesar 2,1 GB. Dengan teknologi Linux Terminal Server Project (LTSP), komputer dengan spesifikasi minimum lebih kecil dari yang disyaratkan, tetap bisa mengaksesnya dengan menggunakan jaringan komputer.
Setidaknya ada lima alasan yang membuat Edubuntu cocok digunakan sebagai media belajar yang mengasyikkan. Pertama, Edubuntu memiliki sangat sedikit spam dan virus. Mungkin bisa dikatakan tidak ada. Selain itu, karena sifatnya yang multiuser, membuat pengguna nyaman tanpa terganggu pihak lain. Kedua, Edubuntu sangat mudah dikelola dan juga sangat mudah disesuaikan (customizes).
Ketiga, dengan menggunakan Edubuntu, belajar dengan menggunakan media komputer merupakan hal yang sangat murah karena Edubuntu berkomitmen untuk memberikan sistem operasi ini gratis tanpa biaya sedikit pun. Keempat, Edubuntu didukung sepenuhnya oleh Ubuntu dan komunitas besarnya. Dukungan ini berupa terjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa lokal, termasuk bahasa Indonesia, hingga dukungan akses terhadap perangkat lunak yang dikembangkan oleh komunitas dan dikhususkan untuk pendidikan. Kelima, dengan motonya “Linux for Young Human Beings” membuat varian Linux ini akan terus mengembangkan teknologi bagi pendidikan yang akan selalu menjadi kebutuhan setiap pelajar di dunia ini
Yang membedakan Edubuntu dengan Linux yang lain salah satunya adalah terdapat menu Education yang diperuntukkan khusus untuk pendidikan. Di dalamnya terdapat lebih dari 100 aplikasi pendidikan, dimulai dari aplikasi untuk remaja yang umumnya pelajar sekolah menengah dan mahasiswa seperti aplikasi untuk kimia, matematika, geografi, bahasa, astronomi, fisika, biologi, hingga aplikasi untuk mengasah kemampuan dasar anak seperti permainan ketangkasan disertai perhitungan. Semua ini disediakan gratis oleh Ubuntu untuk semua remaja dan anak-anak di seluruh dunia.
Misalnya saja aplikasi Stellarium. Aplikasi astronomi ini merupakan sebuah planetarium maya yang menyajikan simulasi nyata dari deretan benda-benda di angkasa. Posisi yang tersaji di Stellarium akan terlihat sama seperti yang dilihat saat malam tiba. Dengan catatan posisi dan waktu pengamatan pada aplikasi sama dengan posisi dan waktu pengamatan sebenarnya. Apabila masih merasa biasa dengan mengamati benda langit dari bumi, Edubuntu juga menyediakan Celestia Space Simulator. Dengan menjelajahi ruang angkasa menggunakan aplikasi ini, akan terlihat bahwa bumi ini sangatlah kecil dan jagat raya ini sungguh sangat luas.
Aplikasi lainnya yang tidak kalah menariknya adalah KmPlot. Aplikasi matematika ini diperuntukkan untuk membuat grafik fungsi dalam matematika. Namun, aplikasi ini hanya memperlihatkan gambaran dua dimensi. Untuk mencoba membuat grafik fungsi tiga dimensi, tersedia juga Koctave yang tidak kalah andalnya dengan KmPlot.
Pelajaran mengenal negara-negara pun tersedia di sini melalui aplikasi KGeography. Aplikasi ini akan memperlihatkan letak negara beserta atribut kenegaraannya. Tidak hanya itu, ada juga beberapa pertanyaan kecil untuk menguji kemampuan dalam mengenal negara-negara di dunia yang membuat belajar semakin mengasyikkan.Bosan dengan sesuatu yang berbau pelajaran secara langsung, Edubuntu juga memiliki menu Games yang sebagian besar di antaranya diperuntukkan untuk pendidikan. Misalnya saja Atomix. Aplikasi ini merupakan permainan sederhana untuk mengenal struktur dari sebuah molekul.
Dikutip dari Pikiran Rakyat, Kamis 13 September 2007
http://poss.itb.ac.id/?q=node/80
EDUBUNTU, Linux Bagi Pendidikan
Saat ini sedang gencar-gencarnya diadakan program pendidikan gratis. berbicara masalah gratis maka dalam bayangan dunia teknologi informasi akan terkait langsung dengan sistem operasi komputer dalam hal ini linux. Linux adalah sistem operasi free opensource yang artinya sistem operasi ini bebas untuk di “acak-acak” untuk pengembangan lebih lanjut, adapun yang geratis adalah bukan pada sistem operasinya tapi melainkan pada lisensinya.
Linux saat ini memiliki banyak sekali turunan namun yang akan difokuskan pada tulisan ini adalah EDUBUNTU (turunan UBUNTU) yang memang di khususkan untuk dunia Pendidikan. Aplikasi-aplikasi yang ada pada EDUBUNTU hampir sama dengan yang ada di ubuntu hanya saja ada tambahan aplikasi-aplikasi yang berguna untuk kegiatan belajar -mengajar. berikut ini saya uraikan aplikasi pendidikan yang ada pada EDUBUNTU 9.04:
KSTARS
KStars merupakan aplikasi desktop palentorium atau sebuah alat untuk mengamati benda-benda di langit atau planet-planet dalam bentuk program komputer desktop. Selain dapat digunakan untuk menampilkan desktop planetorium, KStars juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain misalkan menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah.
KALZIUM
Aplikasi ini dapat digunakan untuk menemukan informasi tentang unsur-unsur kimia, atau untuk mempelajari fakta-fakta yang terkandung didalamnya dalam bentuk sistem periodik untuk unsur-unsur kimia secara elektronik. Visualisasi yang nampak dari aplkasi ini dalam bentuk blok, pengelompokan, sifat keasaman atau berbagai kepadatan (padat, cair dan gas), berat, massa, elektronegativitas hingga tahun diketemukannya dengan tampilan yang cukup menarik. Dengan aplikasi ini diharapkan Siswa akan lebih senang dalam mempelajari mata pelajaran kimia yang selama ini dianggap sulit.
KMPLOT
KmPlot adalah aplikasi yang dapat memplot fungsi-fungsi matematika dalam sistem koordinat kartesian, baik fungsi tunggal maupun untuk beberapa fungsi sekaligus. Aplikasi praktis ini cukup menarik digunakan bagi guru dan Siswa yang berada dalam jurusan IPA yang dapat digunakan dalam menghtung nilai maksimum dan minimum suatu fungsi, menghitung luas area diantara kurva dengan sumbu horizontal (sumbu x), perubahan parameter secara dinamis, hingga plotting fungsi-fungsi diferensial dan fungsi integral.
KTOUCH
Ktouch merupakan aplikasi untuk berlatih mengetik dengan mengoptimalkan sepuluh jari. Dengan menggunakan program ini maka siswa akan lebih terampil dalam mengetik dengan sepuluh jari tanpa melihat ke arah keyboard (mengetik buta). Pada tampilan awal membuka program ini maka akan disuguhkan tingkatan level mulai dari yang tingkat dasr sampai dengan tingkat advance.
http://foss.unej.ac.id/2009/08/15/edubuntu-linux-bagi-pendidikan.html
KOMENTAR
Open source software adalah istilah yang digunakan untuk software yang membuka/membebaskan source codenya untuk dilihat oleh orang lain dan membiarkan orang lain mengetahui cara kerja software tersebut dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada pada software tersebut. Dan yang menarik dan salah satu keunggulannya adalah bahwa Open source software dapat diperoleh dan digunakan secara gratis tanpa perlu membayar lisensi. Biasanya orang mendapatkan software ini dari internet. Salah satu open source software yang terkenal yaitu Linux. Linux telah membuat software open source khusus pendidikan yaitu Edubuntu.
Dalam Edubuntu ada tambahan aplikasi-aplikasi yang berguna untuk kegiatan belajar -mengajar. Salah satu aplikasi pendidikan yang berhubungan dengan materi Geografi adalah Kstars. KStars merupakan aplikasi desktop palentorium atau sebuah alat untuk mengamati benda-benda di langit atau planet-planet dalam bentuk program komputer desktop. Selain dapat digunakan untuk menampilkan desktop planetorium, KStars juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain misalkan menentukan awal bulan Qamariyah atau Hijriyah.
Oleh karena itu tidak salah apabila kita menaruh harapan pada open source ini sebagai platform alternatif yang bisa kita gunakan dalam komputer kita apalagi untuk pendidikan. Penerapan pola open source di Indonesia juga dapat menghilangkan pemakaian software komersial secara ilegal dan memungkinkan bangsa Indonesia dikenal karya ciptanya dengan ikut mengembangkan open source software. Terlebih lagi dengan menggunakan open source akan menunjang pembelajaran geografi dan akan mempermudah dalam pemahaman mata pelajaran ini karena software ini menyajikan materi pelajaran yang lebih menarik.
Kamis, 21 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar