MENENTUKAN PARALAKS STEREOSKOPIK
Menurut paine (1993) stereoskopi adalah ilmu pengetahuan tentang stereoskop yang menguraikan penggunaan penglihatan binocular untuk mendapatkan efek 3 dimensi (3D). penglihatan stereoskopi memungkinkan kita untuk melihat suatu obyek secara simultan dari dua perspektif yang berbeda, seperti dua foto udara yang diambil dari kedudukan kamera yang berbeda, untuk memperoleh kesan mental suatu model tiga dimensi.
Perwujudan penglihatan stereoskopis meliputi azas-azas mekanis maupun fisiologis. Pandangan mata normal manusia sebenarnya secara alamiah dapat merekam obyek secara stereoskopik. Hanya saja sering kali kita tidak memperhatikan kemampuan tersebut. Juga tidak semua manusia dapat melakukannya, terutama bagi mereka yang kemampuan matanya tidak seimbang.
Kesan kedalaman (depth perception) dalam stereoskopi terjadi karena titik titik yang terletak pada elevasi – elevasi yang berbeda telah mengalami pergeseran secara topografis dengan besaran dan arah yang berbeda pada foto-foto yang berurutan. Selisih didalam pergeseran disebut paralaks mutlak. Menurut Paine (1993) paralaks mutlak dalah selisih aljabar, diukur sejajar garis terbang (sumbu x) dan sumbu-sumbu y yang berkaitan untuk dua gambar dari suatu titik pada sepasang foto udara yang stereoskopis.
Untuk mengetahui besarnya paralaks mutlak dapat dilakukan dengan meletakkan jalur terbang pada foto. Sumbu x dari suatu titik adalah sejajar dengan arah jalur terbang. Setiap jalur terbang menjadi titik tengah dari foto-foto yang dihasilkan. Karena tampalan depan foto udara minimal 50%, maka setiap titik tengah foto udara akan terganbar pada foto berikutnya sebagai titi pindahan. Dengan menarik suatu garis dari titik tengah foto ke titik tengah pindahan berarti jalur terbang telah ditetapkan.
Stereoskop
Stereoskop merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk pengamatan tiga dimensional atas foto udara yang bertampalan depan (dengan syarat tampalan minimal 50%). Alat ini merupakan alat yang sangat penting dalam interpretasi citra, terutama bagi foto udara atau citra tertentu yang daripadanya dapat ditimbulkan perwujudan tiga dimensional. Pada dasarnya alat ini terdiri dari lensa atau kombinasi antar lensa, cermin, dan prisma. Secara sederhana, stereoskop ini dapat diilustrasikan oleh gambar berikut:
Menurut La prade, stereoskop wheatstoneterdiri dari dua cermin untuk mengamati pasangan foto stereo agar tampak tiga dimensional. Dalam perkembanganya, stereoskop ini meliputi 3 jenis, yakni stereoskop lensa (ada yang menyebutnya stereoskop saku, karena mudahnya dimasukkan kedalam saku sehingga mudah di bawa kelapangan), stereokop cermin (ada yang menyebutnya stereoskop meja, karena hanya dapat digunakan diatas meja), dan stereoskop mikroskopik (disebut demikian karena pembesarannya yang sangat besar sehingga fungsinya mirip dengan mikroskop). Stereoskop mikroskop ini terdiri dari dua jenis mikroskop, yakni zoom stereoskop dan interpretoskop.
Paralaks bar
Alat ini terdiri dari dari sebuah batang yang pada kedua ujungnya terpasang masing-masing lensa. Pada kedua lensa tersebut terdapat tanda berupa titik, silang atau lingkaran kecil yang disebut tanda apung (Floting mark) tanda di lensa sebelah kiri disebut fixed mark, karena pada batang terdapat titik merah atau hita, dimana orange yang akan menggunakanya harus menentukan konstanta batang paralaks dengan memilih salah satu titik tersebut. Bila telah ditetapkan titik merah, maka selanjutnya lensa kiri ini tidak diubah-ubah lagi (fixed). Lensa sebelah kanan memiliki tanda juga yang disebut half mark. Titik ini dapat digerakkan sesuai dengan posisinya pada objek yang dikehendaki dengan cara memutar-mutar skip micrometer.
Paralaks batang digunakan untuk mengukur besarnya paralaks suatu titik. Paralaks titik biasanya diperlukan untuk mengukur ketinggian titik tersebut. Pengukuran tinggi ini dapat pula dilakukan dengan mistar, paralaks tangga dan paralaks meter.
Penggaris
Alat tulis
Kalkulator
Foto udara bali
Langkah Kerja
Menentukan basis foto udara satu ( b1) dari PP1 – PP2
Menentukan basis foto udara dua ( b2) dari CPP – PP2
Menentukan nilai micrometer ro1 dan ro2
Menentukan konstanta batang paralaks
C1 = b1 – ro1
C2 = b2 – ro2
Nilai C = C1 + C2
Tentukan paralaks titik yang aka diukur
Pa = C + ra ra = jarak puncak dengan puncak
Pb = C + rb rb = jarak kaki dengan kaki
Menentukan focus kamera yang digunakan ( dapat iperoleh dari informasi tepi)
Menentukan skala foto udara yang telah tercantum difoto udara
Mencari tinggi terbang (H) dengan rumus:
Skala = f/H
Menentukan basis udara (B) jarak antar pemotretan diudara. Dapat diketahui dengan mengukur sisa tampalan (searah jalur terbang) kemudian dikali dengan penyebut skala.
Memasukkan data trsebut pada rumus berikut:
hA=(H-Bf)/Pa hA = tinggi diatas datum
hB=(H-Bf)/Pb hB = tinggi diatas puncak
Hasil Perhitungan
Diketahui : f = 140 mm
B =3700 m
b1 = 8,5 cm = 85 mm
b2 = 8 cm = 80 mm
ro1 = 24,3 mm
ro2 = 29,54 mm
ra = 25,2 mm
rb = 22,2 mm
skala = 1 : 50.000
Ditanya : ketinggian gunung dari titik A dan B
Jawab:
Menentukan basis foto 1 dan 2
b1 = 8,5 cm = 85 mm
b2 = 8 cm = 80 mm
Menentukan nilai micrometer ro1 dan ro2
ro1 = 24,3 mm
ro2 = 29,54 mm
Menentukan konstanta batang paralaks
C1 = b1 – ro1
= 85 mm – 24,3 mm
= 607 mm
C2 = b2 – ro2
= 80 mm – 29,54 mm
= 50,46 mm
C = (C1+C2)/2 = (60,7 mm+50,46 mm)/2
= 55,58 mm
Mencari paralaks titik a dan b
Pa = C + ra
= 55,58 mm + 25,2 mm
= 80,78
Pb = C + rb
= 55,58 mm + 22,2 mm
= 77,78 mm
Mencari tinggi masing-masing titik
S = f/H
.1/(50.000 mm)= (140 mm)/H
H = 140 mm x 50.000 mm
= 7.000.000 mm
= 7000 m
B = sisa tampalan x penyebut skala
= 7,5 cm x 50.000
= 37.000 cm
= 3700 m
hA = H-(Bf/Pa)
= 7000 m-((3700 m x 140 mm)/(80,75 mm))
= 7000 m-(3700m x 1,80 m)
=700 m-6.660 m
= 599 m
hB = H-(Bf/Pb)
= 7000 m-((3700 m x 140 mm)/(77,78 mm))
= 7000 m-(3700m x 1,73 m)
=700 m-6.401 m
= 340 m
h gunung = hA - hB
= 599 m – 340 m
= 259 m
Bila A sebagai kaki (datum) suatu gunung dan B sebagai puncak gunung, maka tinggi gunung tersebut adalah 599 m – 340 m = 259 m
MENENTUKAN KETINGGIAN OBYEK DENGAN
KONTROL MEDAN
Control medan merupakan rumus yang mana bila telah diketahui ketinggian salah satu dari obyek yang terekam pada foto udara, maka seluruh ketinggian obyek yang tergambar pada foto udara dapat dihitung ketinggiannya, titik yang diketahui inilah yang disebut titik control medan.
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ketinggian suatu objek dengan menggunakan control medan
Alat Dan Bahan
Foto udara daerah bali
Kalkulator
Penggaris
Alat tulis
Paralaks bar
Langkah Kerja
Mengetahui panjang focus yang digunakan saat pemotretan dan ketinggian terbang pesawat saat melakukan pemotretan
Mengetahui ketinggian titik yang akan menjadi titik referensi
Mengetahui konstanta batang paralaks
Mengukur nilai r dan masing – masing titik yang akan diukur dengan menggunakan paralaks bar
Menghitung paralaks titik – titik yang ingin diketahui ketinggiannya
Menghitung beda paralaks antar masing – masing titik
Hasil Perhitungan
Diketahui: f = 140 mm
H = 7000 mm
ra = 13,15 mm
rb = 23,6 mm
rc = 22,75 mm
rd = 30,55 mm
re = 34,85 mm
C = 55,58 mm
ha = 100 m
B = 3700 m
Ditanya : tinggi tempat b, c, d, e ?
Jawab:
Menentukan paralaks masing – masing titik
P = C + rx
Pa = C + ra
= 55,58 mm + 13,15 mm
= 68,73 mm
Pb = C + rb
= 55,58 mm + 23,6 mm
= 79,18 mm
Pc = C + rc
= 55,58 mm + 22,75 mm
= 78,33 mm
Pd = C + rd
= 55,58 mm + 30,55 mm
= 86,13 mm
Pe = C + re
= 55,58 mm + 34,85 mm
= 90,43 mm
Mencari beda paralaks. ∆P =paralaks titik yang dicari-paralaks titik terendah
∆P1=79,18 mm-68,73 mm=10,45 mm
∆P2=78,33 mm-68,73 mm=9,6 mm
∆P3=86,13 mm-68,73 mm=17,4 mm
∆P4=90,43 mm-68,73 mm=21,7 mm
Mencari ketinggian masing – masing titik, missal ha = 100 m
hb=ha+ (∆P1 ( H-Bf))/Pb
=100 m+ (10,45 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(79,18 mm)
=100 m+0,01 m ( 7000 m-6549 m)
=100 m+0,01 m .451 m
= 100 m+451 m
= 104,51 m
hc=ha+ (∆P2 ( H-Bf))/Pc
=100 m+ (9,6 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(78,33 mm)
=100 m+0,09 m ( 7000 m-6586 m)
=100 m+0,09 m .414 m
= 100 m+37,26 m
= 137,26 m
hd=ha+ (∆P3 ( H-Bf))/Pd
=100 m+ (17,14 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(86,13 mm)
=100 m+0,017 m ( 7000 m-6031 m)
=100 m+0,09 m .969 m
= 100 m+16,47 m
= 116,47 m
he=ha+ (∆P4 ( H-Bf))/Pe
=100 m+ (21,7 mm ( 7000 m-3700 m . 140 mm))/(90,43 mm)
=100 m+0,02 m ( 7000 m-5735 m)
=100 m+0,02 m .1265 m
= 100 m+25,3 m
= 125,3 m
Jadi, Ketinggian titik b adalah 104,51 m
Ketinggian titik c adalah 137,26 m
Ketinggian titik d adalah 116,47 m
Ketinggian titik e adalah 125,3 m
VERTIKAL EXAGENERATION
Dasar Teori
Salah satu gejala yang tampak dari penglihatan terhadap model stereo foto udara vertical adalah kesan pembengkakan keatas dari objek – objek yang tinggi. Adanya fenomena ini harus di perhitungkan oleh para penafsir foto udara agar tidak terjadi selisih yang besar antara pengukuran di foto udara dengan kenyataan dilapangan, misalnya dalam perhitungan tingkat kemiringan lereng, dan lain-lain. Bahkan perbesaran ini dapat mencapai 3 atau 4 kali lebih besar dan pada ukuran sebenarnya. Adanya gejala ini sangat menguntungkan bagi seorang interpreter dalam bidang geomorfologi, karena kenampakan topografi sangat ekstrim, sehingga mudah dikenali.
Terjadinya perbesaran tegak ini terutama disebabkan oleh kekurang seimbangan antara nisbah fotografik antar basis udara – tinggi terbang ( (B/H) dan antara nisbah basis mata tinggi pada pengamatan stereoskopis (Be/h). B/H merupakan nisbah antara basis udara atau jarak antara dua stasiun pemotretan dengan tinggi terbang saat pemotretan, dan Be/h merupakan nisbah antara basis mata atau jarak antara dua mata dengan jarak dari mata kemodel stereo yang terlihat oleh mata.
Perbesaran tegak (Ve) merupakan nisbah basis udara dengan tinggi terbang dikalikan kebalikan dari nisbah basis mata dengan jarak pengamatan yang nyata atau secara metematis dapat ditulis sebagai berikut:
Nisbah basis mata tinggi pengamatan stereo (be/h) merupakan variable yang agak sulit diukur, dan sedikit berbeda antara masing- masing pengamat. Uji berulang- ulang menunjukkan bahwa nilainya sekitar 0,15
Basis udara dan besarnya tampalan depan (PE%) diperhitungkan dalam mengukur vertical exageneration (Ve). Oleh karena itu, diperlukan data mengenai luas liputan foto di medan yang memiliki kaitan erat dengan basis udara.
Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh exageneration
Alat Dan Bahan
Foto udara
Kalkulator
Alat tulis
Penggaris
Langkah Kerja
Menentukan panjang focus kamera yang digunakan
Mengetahui ukuran format foto
Menentukan besarnya tampalan depan atau PE
Menentukan perbandingan basis udara dengan ketinggian terbang
Menentukan vertical exageneration
Hasil Perhitungan
Diketahui : d = 23 cm = 230 mm
f = 140 mm
Ditanya : Ve ??
Jawab :
PE=(23 cm-7,4 cm)/(23 cm) ×100%
= (15,6 cm)/(23 cm) ×100%
=68 %
B/H =1-(Pe/100) d/(f )
=( 1- 68/100) × (230 mm)/(140 mm)
=( 1- 0,68) × 1,64
=0,32 × 1,64
=0,52
Ve = B/H × h/b
= 0,52 × 1/0,15
=0,52 × 6,67
=3,5 kali
Jadi obyek tersebut dalam foto udara 3,5 kali lebih besar dari pada ukuran kenyataan di medan
MENENTUKAN KETINGGIAN LERENG
Dasar Teori
Untuk mengetahui derajat / persen kemiringan lereng pada pengamatan secara stereoskopis agak sulit. Miller sebagaiman dikutip paine (1993) menggunakan suatu penafsiran kemiringan lereng (slope estimator), alat ini terdiri atas sebuah engsel pangkal yang dieratkan pada persendian dengan pukulan palu.
Cara pengukurannya adalah salah satu slope estimator diletakkan diatas salah satu foto udara stereo yang sedang diamati,dibawah stereoskop. Setelah itu orientasikan dan setel alat tersebut sampai bidang lerengnya sejajar atau sebangun dengan lereng yang hendak diukur pada model stereo. Lihatlah objek pada model stereo dan slope estimator secara bergantian, aturlah lereng penaksir sampai betul – betul mendekat bentuk dari model. Ukurlah jarak antar kaki slope estimator (alas) yang diberi symbol b sementara c ukurannya tetap. Penentuan lereng dilakukan dengan menggunakan rumus miller, yakni:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
Keterangan :
c = Panjang sisi kaki
b = Jarak antar kaki
lereng persen sebenarnya adalah lereng yang tampak pada LS=LT/Ve
pengamatan stereoskopis dibagi factor vertical exageneration.
Tujuan
Praktikum ini bertujuan mengetahui tinggi lereng sebenarnaya suatu obyek yang diamati disuatu tempat.
Alat Dan Bahan
Foto udara bali
Lidi
Alat tulis
Penggaris
Kalkulator
Langkah Kerja
Mengetahui besarnya vertical exageneration
Melihat objek pda model stereo dan lidi secara bergantian, atur lereng penaksiran ( lidi) sampai betul – betul mendekati bentuk dari model
Ukur jarak antara kaki lidi. Kemudian beri symbol b, dan sementara sisi c ukurannya tetap.
Mencari lereng persen yang tampak dengan rumus:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
Mencari lereng persen sebenarnya dengan rumus:
LS=LT/Ve
Hasil Praktikum
Diketahui: Ve = 3,5 kali
b = 7,5 cm
c = 4,0 cm
Ditanya: lereng persen sebenarnya suatu obyek (gunung)???
Jawab:
Lereng persen yang tampak = (√((〖4c〗^2/b^2 - 1) )) ×100
= (√((〖4.(4)〗^2/〖(7,5)〗^2 - 1) )) ×100
= (√(((4 .16)/56,25- 1) )) ×100
= (√((64/56,25- 1) )) ×100
= √(1,14-1)×100
= √0,14×100
= 0,37 x 100 %
= 37,41
Lereng sebenarnaya = LT/Ve
= 37,41/3,5
= 10,69 % = 11 %
Jadi, lereng gunung sebenarnya di medan adalah 11 %
Senin, 18 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar