perbedaan seminar yang brkembang saat ini dengan yang sebenarnya,
saat ini seminar tak lg sesuai dg makna terdahulu. Saat ini seminar hanya mengacu pada dskusi/kuliah yaitu membaca makalah,presentasi, pembanyaran(money), sertifikat. Karena orang hanya ingin mengejar praktis dan keuntungan. Biasanya penyaji hanya membacakan/menyampaikan isi makalah kemudian yang terakhir diadakan sesi tanya jawab. Padahal makna yang sebenarnya, seminar adalah membahas sesuatu yang aktual dalam masyarakat kemudian menghasilkan keputusan bersama2 dan digunakan untuk kebijakan untuk beberapa lembaga.
Seminar “merupakan pembahasan yang bersifat ilmiah (kritis) terhadap masalah tertentu” masalah yang dibahas berkaitan dengan kehidupan sehari2 dan akurat.
Tujuan utama dari seminar adalah untuk mencari pedoman2/pemecahan masalah2 tertentu, oleh karena itu seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan2 dan keputudan2 yang merupakan hasil pembulataan pendapat semua peserta. Bahkan seminar dapat menghasilkan rekomendasi atau saran untuk menerima sesuatu dan resolusi ( keputusan dan usul)
tata cara seminar yg baik&benar,
1. Seminar dimulai dg sidang pleno, artinya semua peserta hadir bersama dalam ruang yang sama. Kemudian pemimpin sidang menyampaikan arah atau teknik jalannya diskusi serta tata tertib persidangan dan tujuan serta bahan pokok diskusi.
2. Seminar juga dapat dimulai dengan menutarakan pandangan2 umum oleh orang-orang yang dianggap berkompeten untuk meletakkan garis2 pemikiran selanjutnya.
3. Pemakalah menyampaikan han out secara singkat, yang poko2. Apabila kertas sudah diperbanyak dan dibagiakan kepada peserta.pemakalah tidak perlu membacakan isi materi secara lengkap karena masalah akan dibahas dalam kelompok2.
4. Peserta dibagi menurut kelompok2 ttt. Misal berdasarkan bidang keahliannya untuk melakukan diskusi kelompok,sehingga dapat meninjau masalah itu dari berbagai kelompok untuk memperoleh keputusan bersama. Di dalam kellompok tersebut dilakukan pembahasan secara mendalam terhadap makalah2 yang sudah diterima. Dalam setiap kelompok di bentuk ketua dan sekertaris. Tugas ketua untuk mengatur dan mengarahkan jalannya diskusi. Ketua kelompok dapat sewaktu2 membuat kesimpulan dan ikhtisar kemajuan kelompok. Tugas sekertaris adl umencatat berbagai pendapat dan kesimpulan kelompok.
5. Setelah diskusi kelompok selesai, peserta berkumpul kembali dalam rapat pleno. Masing2 kelompok membacakan hasil diskusi dan dengan kelompok lain membandingkan hasil diskusi mereka.
6. Laporan tertulis hasil diskusi sikumpulkan ke pemimpin sidang. Lap tertulis tsb akan menjadi bahan dalam sidang selanjutnya yang dilakukan oleh tim perumus yang telah dirunjuk.
7. Apabila tim perumus telah berhasil melaksanakan tugasnya, maka dapat diadakan rapat paripurna. Pada kesempatan itu tim perumus membacakan keputusan hasil seminar.
Organisasi dalam seminar
1. Organizing comite (panitia penyelenggara)
Panitia yang bertanggung jawab atas kesalahan penyelenggaraan dan keberhasilan seminar. Oleh karena itu susunan anggota panitia inti lebih kompleks dan lebih lengkap. Disamping panitia inti terdapat sie2 jg.
2. Steering comite (panitia penyelenggara)
Panitia ini bertanggung jawab atas jalannya seminar pada waktu persidangan. Susunan kepanitiaan terdiri dari ketua sidang, sekertaris, dan operator sidang. Ketua sidang bertanggung jawab atas kelancaran sidang. Bersama sekretaris menyusun tata tertib sidang, pembagian kelompok, menetapkan tim perumus dan menghimpun hasil seminar
Dalam sidang kelompok dapat dilaksanakan:
a. Menerima makalah sepenuhnya
b. Menerina dg tambahan /perubahan
c. Menolak makalah yang disajikan
d. Menyampaikan rekomendasi dan resolusi
Mekanisme seminar kelas
1. Kelas dibagi mjd 4 kelompok. Masing2 ditunjuk ketua dan sekertaris pada tiap kelompok
2. Setiap mahasiswa menyiapkan makalah (proposal penelitian) rangkap 4 ( mahasiswa sendiri, untuk dosen, dan 2 untuk kelompok.
3. Setiap kali pertemuan 2 mahasiswa presentasi.
4. Setiap makalah dibahas 2 kelompok.
5. Hasil sidang dibacakan dalam sidang paripurna, lalu diserahkan kepada pemimpin sidang.
6. SC steering comite diambil dari kelompok yang tidak presentasi.
7. Alokasi waktu 100 menit
• Presentasi 2 mahasiswa 30 menit
• Sidang kelompok 40 menit
• Sidang paripurna 30 menit dan komentar dosen
PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBENTUK MODEL DAN PENGARUHNYA TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI SISWA KELAS XI IPS 1 SMA NEGERI 2 MAGELANG
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini sudah semakin kompleks. Peningkatan mutu pendidikan menjadi suatu tantangan bagi para pekerja dibidang pendidikan khususnya guru. Ilmu pengetahuan yang sudah berkembang sedemikian pesatnya menuntut guru untuk lebih pintar dan profesional dalam menyampaikan pesan kepada peserta didik. Guru harus mampu membuat pelajaran menarik dan mudah diterima oleh siswa dalam proses belajar mengajar.
Salah satu cara untuk meningkatkan perhatian, minat dan motivasi belajar siswa diantaranya melalui penggunaan media pembelajaran. Selama ini media yang digunakan dalam proses pembelajaran geografi hanya sebatas peta dan globe. Padahal dilingkunagn sekitar, terdapat berbagai benda atau gejala yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Kondisi ini dapat terjadi karena kurangnya kreatifitas guru, media yang tersedia disekolahan belum lengkap, sedangkan dana pengadaannya tidak tersedia.
Kualitas dan keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh iklim belajar yang dikembangkan guru dan kemampuan serta ketepatan guru dalam memilih metode dan menggunakan media dalam pembelajaran. Dalam proses pembelajaran geografi, pada umumnya guru masih menggunakan model pembelajaran yang kurang mampu merangsang siswa belajar sehingga keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar masih kurang. Guru masih banyak menggunakan metode ceramah dengan model pembelajaran masih tradisional dalam penyampaian materi dan penggunaan media pun kurang. Hal ini menyebabkan suasana belajar menjadi monoton dan membosankan, sehingga hasil belajar geografi rendah. Salah satu cara meningkatkan motivasi dan minat siswaadalah melalui model pembelajaran yang menyenangkan, dimana siswa mengalami pembelajaran, berlatih dan menjadikan isi pelajaran bagi mereka.
Peneliti memilih kelas XI IPS 1 ini karena berdasarkan hasil prasurvei, kelas ini adalah kelas yang paling rendah nilai rata-rata kelasnya dibandingkan dengan kelas yang lain dan kurang aktif dalam mengikuti pelajaran dikelas. Minat belajar siswa kelas tersebut terhadap pelajaran geografi juga masih rendah. Selain itu penggunaan media pembelajaran berbentuk model belum diterapkan dalam proses pembelajaran geografi di SMA negeri 2 Magelang. Sehingga mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang penerapan penggunaan media pembelajaran berbentuk model untuk meningkatkan hasil belajar geografi siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 2 Magelang.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan sebelumnya dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:
a. Kurangnya penerapan media pembelajaran khususnya berbentuk model dalam pembelajaran geografi.
b. Pembelajaran geografi di SMA negeri 2 Magelang kurang optimal.
c. Siswa kurang berperan aktif dalam mengikuti pembelajaran geografi.
d. Masih rendahnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran geografi.
3. Pembatasan Masalah
Mengingat adanya keterbatasan waktu, dana, tenaga serta kemampuan peneliti, maka penelitian akan dibatasi pada masalah kurangnya penggunaan media pembelajaran khususnya media pembelajaran berbentuk model dan belum optimalnya hasil belajar siswa di SMA negeri 2 Magelang.
4. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pengaruh penerapan media pembelajaran berbentuk model terhadap hasil belajar dalam pembelajaran geografi SMA negeri 2 Magelang?
b. Apakah dengan menggunakan media pembelajaran berbentuk model dapat meningkatkan hasil belajar siswa SMA negeri 2 Magelang?
5. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas keefektifan penggunaan media pembelajaran berbentuk model dalam upaya peningkatan hasil belajar geografi bagi siswa di SMA negeri 2 Magelang.
6. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
1) Menambah referensi mengenai penelitian pendidikan pendidikan di bidang geografi.
2) Dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang pendidikan.
b. Manfaat Praktis
1) Bagi guru
a) Memberi wawasan tenrang keefektifan media pembelajaran berbentuk model.
b) Meningkatkan kinerja guru geografi dalam proses pembelajaran.
2) Bagi siswa
a) Dapat meningkatkan keaktifan siswa.
b) Meningkatkan pemahaman dan minat siswa terhadap mata pelajaran geografi.
c) Meningkatkan pengetahuan siswa tentang fenomena-fenomena geografi yang terjadi di lingkungan sekitar.
C. KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
1. Landasan Teori
a. Hakikat Geografi
Bintarto (1977) mengemukakan bahwa geografi adalah ilmu yang mencitrakan, menerangkan sifat bumi, menganalisis gejala alam penduduk serta mempelajari corak khas mengenai kehidupan dan berusaha mencari fungsi dari unsur bumi dalam ruang dan waktu.
Kajian geografi ( Nursid Sumaatmadja, 2001:11-12) mencakup:
1. Permukaan bumi (geosfer).
2. Alam lingkungan, atmosfer (lapisan udara), litosfer (lapisan air; perairan), dan biosfer (lapisan kehidupan).
3. Umat manusia dan kehidupannya (antroposfer).
4. Penyebaran keruangan gejala alam dan kehidupan termasuk persamaan dan perbedaan.
5. Analisis hubungan keruangan, gejala-gejala geosfer depermukaan bumi.
b. Hakikat Belajar dan Pembelajaran Geografi
Belajar adalah memahami hal-hal baru dan mengetahui cara-cara yang lebih baik untuk melakuakan banyak hal (Hubbard, 2003:5). Menurut Martinis Yamin, (2003:97) belajar merupakan proses seseorang memperoleh kecakapan, ketrampilan dan sikap.
Hamzah B. Uno (2006:2-1) mengatakan pembelajaran pada hakikatnya adalah perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk pembelajaran siswa. Oleh karena itu, pembelajaran memusatkan perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa dan bukan apa yang dipelajari siswa. Pembelajaran lebih menekankan bagaimana cara untuk mencapai tujuan belajar meskipun tidak dapat dilupakan cara mengorganisasikan pembelajaran dan bagaimana menata interaksi antara sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
c. Hasil belajar
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004:102). Menurut Winarno Surahmad (1997:88) Hasil belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku.
d. Media Pembelajaran Geografi
1) Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti pengantara atau pengantar. Media adalah pengantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sementara Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat atau fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar seperti buku, film, video dan sebagainya. (Arief S. Sardiman, 2003:6)
2) Manfaat Media dalam Pembelajaran
Secara khusus manfaat media pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh kemp dan dayton (1985), yaitu:
1) Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan.
2) Proses pembelajaran menjadi lebih menarik.
3) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
4) Jumlah waktu belajar mengajar dapat dikurangi.
5) Kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan.
6) Proses belajar dapat terjadi dimana saja dan kapan saja.
7) Sikap positif siswa terhadap proses belajar dapat ditingkatkan.
8) Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif dan produktif.
e. Media Pembelajaran Berbentuk Model
Pemanfaatan media realia dalam proses pembelajaran merupakan cara yang cukup efektif, karena dapat memberika informasi yang lebih akurat. Walaupun tidak semua benda nyata dapat digunakan sebagai media realita karena keterbatasan penyediaannya, misalnya karena ukuran ataupun biayanya. Alternative pemanfaatan media yang menyerupai tealita adalah model. Menurut Brown (1985) model didefinisika sebagai benda nyata yang dimodifikasikan; Heinich et al., (1996) menyebutkan hal yang senada, yaitu gambaran yang berbentuk tiga dimensi dari sebuah benda nyata.
Model Amir Hamzah (1989:136) model sebagai sesuatu yang dibuat dengan ukuran tiga dimensi, sehingga menyerupai benda aslinya untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda sebenarnya. Menurut Sardiman (1997:35) macam-macam model antara lain :
1) Model Irisan
Yaitu model yang memperjelas pengertian tentang obyek (benda) misalnya lapisan tanah, gunung berapa dan lain-lain.
2) Model Memperkecil atau memperbesar obyek
Yaitu model ini digunakan untuk memperjelas suatu obyek yang terlalu besar untuk dibawa kemuka kelas seperti miniature dan lain-lain.
3) Model lapangan
Yaitu model yang digunakan untuk menjelaskan suatu lingkungan atau daerah tertentu, seperti daerah perumahan, pelabuhan dan lain-lain.
4) Model menyederhanakan obyek yang komplek
Yaitu model yang dipakai untuk menjelaskan suatu komplek dan membingungkanyang disebabkan oleh liku-likunya kawat, tali, pipa, dan peralatan lainyang berhubungan cara kerja mesin yang bersangkutan.
Model adalah tiruan tiga dimensional dari beberapa objek nyata yang terlalu besar, terlalu jauh, terlalu kecil, terlalu mahal, terlalu jarang atau terlalu ruwet untuk dibawa ke dalam kelas dan dipelajari siswa dalam wujud aslinya.
Kerangka Berfikir
Pembelajaran adalah suatu kegiatan interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dengan ini akan mempengaruhi cara seorang guru dalam menyampaikan pelajaran, baik mengenai metode atau media yang digunakan. Peran metode ataupun media merupakan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran. Hal tersebut akan membantu mencapai tujuan belajar yang telah direncanakan sehingga mampu meningkatkan hasil belajar.
Pembelajaran akan efektif jika siswa dapat memaknai pesan atau meteri dalam proses belajar mengajar. Hal tersebut bertujuan agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Salah satu upaya yang digunakan untuk mencapaitujuan tersebut adalah dengan menerapkan media pembelajaran berbentuk model.
Media pembelajaran berbentuk model ini dapat digunakan sebagai alternatf dalam proses belajar mengajar geografi. Karekteristik geografi menitikberatkan kajiannya pada fenomena geosfer yang berupa lingkungan fisik dan aspek manusia. Pemahaman terhadap lingkungan sekitardan aspek manusia dapat dialami secara nyata oleh siswa. Sehingga dengan menerapkan media pembelajaran berbentuk model ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Bagan 1. Kerangka Berfikir
2. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir maka hipotesis dapat dirumuskan bahwa penggunaan media pembelajaran berbentuk model pada mata pelajaran geografi dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPS 1 SMA negeri 2 Magelang.
D. METODOLOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Penelitian Tindakan Kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru kekelas atau disekolah tempat ia mengajar dengan penekana pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran. (Suharsimi Arikunto, 2006:96).
Secara garis besar, penelitian tindakan kelas model Kemmis dan Taggart terdiri dari empat aspek pokok, yaitu:
a. Penyusunan rencana
b. Tindakan
c. Observasi
d. Refleksi
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Negeri 2 Magelang dengan sasarannya yaitu proses pembelajaran kelas XI IPS 1 yang meliputi siswa guru dan media pembelajaran berbentuk model. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dikelas XI IPS 1 SMA Negeri 2 Magelang pada bulan Januari 2010 sampai Maret 2010.
3. Variabel dan Definisi Operasional Variabel.
Variabel merupakan hal-hal yang menjadi obyek penelitian yang ditatap dalam suatu kegiatan penelitian (points to be niticed) yang menunjukkan variasi, baik kuantitatif maupun kualitatif (Suharsimi Arikunto, 2006:10). Variabel dalam penelitian ini meliputi penggunaan media pembelajaran berbentuk model, hasil belajar siswa dan pembelajaran geografi.
Definisi operasional dari variabel-variabel tersebut adalah sebagi berikut:
1. Penggunaan media pembelajaran berbentuk model.
Pengguanaan media pembelajaran berbentuk model adalah suatu proses pembelajaran yang menggunakan benda dalam tiga dimensi, dalam ukuran yang dapat diperbesar dan diperkecil dari benda aslinya dan digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang tidak mungkin diperoleh dari benda sebenarnya dan digunakan untuk menerangkan begian benda yang dianggap perlu.
2. Hasil belajar siswa
Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang yang dapat dilihat dari penguasaan siswa akan mata-mata pelajaran yang ditempuhnya dan dilambangkan dengan angka atau huruf, misalnya angka 0-10 pada pendidikan dasar dan menengah serta huruf A, B, C, D pada pendidikan tinggi. Dalam penelitian ini hasil belajar merupakan nilai dari ulangan siswa.
3. Pembelajran Geografi
Pembelajaran geografi merupakan pembelajaran tentang hakikat geografi yang diajarkan di sekolah dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak pada jenjang pendidikan masing-masing.
4. Rencana Tindakan
Kegiatan penelitian tindakan kelas ini meliputi tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, observasi serta refleksi.
a. Persiapan
1) Pra survei dan penjajagan
Pra survei dan penjajagan dilakukan secara langsung untuk mengetahui kemungkinan dan kesediaan sekolah yang bersangkutan untuk dijadikan tempat penelitian. Tujuan survei adalah untuk mengetahui proses pembelajaran dikelas dan menemukan permasalahan yang ada dikelas.
2) Perijinan
Perijinan diperoleh dari rekomendasi lembaga terkait untuk menerjunkan ke lapangan. Perijinan ini dimulai dari FISE UNY, BAPEDA Jawa Tengah, BAPEDA Kota Magelang, Dinas Pendidikan Kota Magelang, kemudian ke SMA Negeri 2 Magelang.
b. Perencanaan
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari dua siklus/putaran dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Peneliti dan kolaborator membuat rencana pembelajaran serta menentukan media pembelajaran berbentuk model dalam proses pembelajaran.
Perencanaan Tindakan antara lain:
• Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) tentang materi yang akan dilaksanakan
• Menyiapkan media pembelajaran berbentuk model dan sumber belajar
• Mempersiapkan soal tes yang akan diberikan pada akhir masing-masing siklus.
c. Tindakan dan Observasi
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti berkolaborasi dengan guru geografi di SMA Negeri 2 Magelang. Sebagai pelaku tindakan adalah guru setempat sedangkan sebagai observer adalah peneliti.
d. Refleksi
Refleksi dilaksanakan bersama antara peneliti dengan kolabolator pada setiap akhir suatu siklus, untuk mengetahuai kesesuaian rencana putaran tersebut dengan mengkaji hasil tindakan dan masalah yang dihadapi.
5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara bagaimana dapat diperolehnya data mengenai variabel-variabel tertentu (Suharsimi Arikunto, 1998:137). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi
Observasi adalah pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera (Suharsimi Arikunto, 1996:145). Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian (Nurul Zuriah, 2001:132). Pedoman observasi berisi sebuah jenis kegiatan yang mungkin timbul dan akan diamati. Dalam proses observasi, observer/pengamat tinggal
memberikan tanda pada kolom tempat peristiwa muncul (suharsimi Arikunto, 1996:146).
b. Wawancara
Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi langsung antara peneliti dengan subyek responden. Wawancara dilakukan dengan melibatkan beberapa guru dan siswa (Suharsimi Arikunto, 2006:227)
c. Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi Arikunto, 1996:138). Tes hasil belajar adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan guru kepada peserta didiknya, dalam jangka waktu tertentu (Haryanto,2003:273). Tes ini berfungsi untuk mengukur tingkat perkembangan kemajuan yang telah dicapai peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajardalam jangka waktu tertentu ( Anas Sadijono, 2005:67).
6. Instrumen Penelitian
Arti konsep instrumen dalam penelitian adalah alat ukur. Instrumen penelitian dapat mengumpulkan data sebagi alat untuk menyatakan besaran atau presentase. Data hasil pengukuran dapat bersifat kualitatif dan kuantitatif (Mardalis, 2006:60). Instrumen yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Non tes
a. Lembar Observasi
Lembar observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang keaktifan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran geografi. Observasi berupa lembaran yang berisi aspek-aspek keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dikelas.
b. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada responden. Wawancara dilakukan pada guru sebagai pelaksana model pembelajaran kooperatif dan beberapa siswa sebagai subyek dalam penelitian geografi.
2. Tes
Tes adalah penilaian yang komprehensif terhadap seorang individu atau keseluruhan usaha evaluasi program (Suharsimi Arikunto, 2003:33). Tes yang diberikan kepasa siswa adalah tes formatif. Tes dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai media pembelajaran secara menyeluruh setelah diterapkannya media pembelajaran berbentuk model.
7. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini didasarkan pada refleksi tiap tindakan. Analisis dilakukan dengan cara peneliti bersama guru merefleksi hasil observasi bersama guru dan siswa dikelas. Hasil observasi yang berupa data kualitatif kemudian dideskripsikan dengan langkah-langkah yang pertama reduksi data kemudian yang kedua penyajian data dan yang terakhir penyimpulan. Hal ini mengacu pada pendapat Suwarsih Madya (1994:33) yang menyatakan bahwa melalui refleksi akan didapatkan wawasan otentik yang akan membantu dala penafsiran data secara kualitatif.
Data dalam penelitian tindakan kelas ada dua macam. Cara analisisnya adalah:
1) Data kuantitatif (hasil belajar siswa) yang dapat dianalisis secara deskiptif. Misalnya mencari rerata (mean), presentase keberhasilan belajar dan lain-lain.
2) Data kualitatif yaitu data yangmemberi gambaran berupa informasi berbentuk kalimat yang memberi gambaran tentang ekspresi siswa tentang pemahaman suatu pelajaran, pandangan atau sikap siswa terhadap model belajar, dan aktivitas siswa mengikuti pelajaran, perhatian, antusian dalam belajar, kepercayaan diri dan motivasi belajar siswa.
Minggu, 17 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar